Critical Journal Review
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak
Disusun Oleh :
Nama : Siti Masita
Nim : 0301173518
Sem/Jurs : IV/PAI4
Dosen Pengampu : Drs. H. Mardianto, M.Pd
Prodi Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Tahun Akademik 2018/2019
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga makalah critical journal review ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa saya mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Harapan saya semoga makalah critical journal review ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca agar ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Mudah-mudahan makalah ini khususnya bagi saya dan bagi pembaca lain pada umumnya.
Atas perhatiannya, saya ucapkan terimakasih.
Medan, Mei 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
HASIL REVIEW 1
Kajian Inti Sari Bab Pendahuluan Jurnal 1
Kajian Inti Sari Bab Kajian Pustaka Jurnal 2
Kajian Inti Sari Bab Metode Penelitian Jurnal 2
Kajian Inti Sari Bab Hasil Penelitian Jurnal 3
Kajian Inti Sari Bab Kesimpulan Jurnal 3
Pendapat 3
LAMPIRAN
HASIL REVIEW
Identitas Jurnal
Judul : The Development of Problem Based Learning Model
to Construct High Order Thinking Skill Students’ on
Mathematical Learning in SMA/MA”
Jurnal : Journal of Education and Practice
Tahun : 2014
Penulis : 1. Edy Syahputra
2. Edy Surya
Kajian Inti Sari Bab Pendahuluan Jurnal
Pada bagian pendahuluan, jurnal ini dilatar belakangi oleh pembelajaran matematika di SMA yang tidak berhubungan dengan teori belajar yang jelas. Hampir semua proses belajar matematika di SMA dimulai dengan memberikan definisi, rumus, contoh dan akhiran dengan memberikan latihan. Terkadang ada masalah matematis yang bisa diatasi dengan menggunakan sketsa atau gambar sederhana. Kondisi ini tidak bisa menghasilkan kreativitas atau pemikiran kritis siswa.
Sebagian besar, proses belajar matematika di SMA membimbing siswa untuk menghafal, memecahkan masalah matematis rutin dan menggunakan analisis sederhana secara induktif dengan mengikuti contoh yang ada. Ironisnya, guru mengajar siswa dengan mengikuti langkah dan presentasi yang diberikan dalam buku matematika yang hadir secara monoton, tanpa mempertimbangkan tingkat perkembangan kognitif siswa.
Dari masalah tersebut penulis menyarankan model pembelajaran Problem Based Learning yang melibatkan siswa untuk berperan aktif untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. Problem based learning adalah inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas dan pemikiran kritis.
Kajian Inti Sari Bab Kajian Pustaka Jurnal
Kholilah (2012) menemukan dalam penelitiannya bahwa kemampuan memecahkan masalah matematika siswa masih jauh dari yang diharapkan. Masalah yang muncul adalah ketidakpastian siswa untuk menerjemahkan masalah ke dalam informasi yang diketahui. Siswa belum dapat mengaitkan informasi apa yang diketahui dengan masalah apa yang ada dalam pertanyaan. Akibatnya, siswa tidak bisa membuat model matematis dari masalah.
Pembelajaran matematika terdiri dari masalah non rutin dan tidak perlu solusi rutin. Problem based learning adalah inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas dan pemikiran kritis. Siregar (2011) mengatakan bahwa konsep pemahaman siswa yang mengajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada yang diajarkan dengan menggunakan belajar secara teratur Selain itu, Suryadi (2005) mengatakan bahwa pemecahan masalah matematika merupakan salah satu kegiatan matematis yang penting baik oleh guru maupun siswa di semua tingkatan mulai SD sampai SMA.
Kajian Inti Sari Bab Metode Penelitian Jurnal
Pada jurnal ini Jenis penelitiannya adalah penelitian pengembangan. Langkah pengembangan model pembelajaran mengikuti prosedur pengembangan model pembelajaran Thiagarajan, Semmel & Semmel (1974). Pelaksanaannya dilakukan di empat sekolah dari tiga kecamatan di Sumatera Utara yaitu SMA Negeri Swasta Yapim Taruna Stabat Langkat, SMK Negeri 6 Medan, SMA YPK Medan dan MAN Lubuk Pakam Deli serdang subprovinsi. Aspek yang diamati dalam proses implementasi adalah kalimat dalam buku siswa mudah dipahami oleh siswa, kalimat dalam buku siswa telah menduplikat makna, buku siswa memiliki konten dan appereance yang menarik, masalah dalam buku siswa memiliki variasi, dan kalimat dalam latihan mudah dilakukan. memahami. Selain itu, implementasi juga dilakukan dalam proses dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Aspek yang diamati adalah: siswa secara aktif mengamati materi pelajaran di kelompok mereka sendiri, siswa secara aktif bertanya di kelompok mereka sendiri, siswa secara aktif mencoba memecahkan masalah dalam buku siswa, dapatkah siswa menghubungkan informasi dari masalah dengan perencanaan untuk memecahkan masalah, Siswa mengkomunikasikan ide mereka dengan anggota kelompok, siswa melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan proses belajar mengajar, guru mengatur siswa dalam kelompok, guru memberikan perancah, guru memberikan jawaban berdasarkan pertanyaan siswa, guru memberi instruksi kepada siswa untuk mengamati, bertanya, mencoba, bergaul, dan berkomunikasi.
Kajian Inti Sari Bab Hasil Penelitian Jurnal
Hasil dari implementasinya adalah kemampuan pemecahan masalah matematika siswa meningkat secara signifikan. Peningkatan ini terlihat dari perbedaan kenaikan normal antara skor siswa pada siklus pertama dan kedua. Dari pelaksanaannya, proses pembelajaran berjalan lancar. Siswa secara aktif memperhatikan pokok bahasan dalam kelompoknya. Siswa yang aktif bertanya dalam kelompoknya, mencoba memecahkan masalah dalam buku siswa, siswa dapat menghubungkan informasi dari masalah dan siswa dapat mengkomunikasikan hasil pemikiran mereka dengan anggota kelompok mereka secara aktif. Secara signifikan, tidak ada siswa yang melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan proses belajar. Dengan menggunakan uji t, dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan yang signifikan.
Kajian Inti Sari Bab Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, model pembelajaran dan semua instrumen terkait direkomendasikan untuk diimplementasikan dalam pembelajaran matematik di kelas 1 SMA. Salah satu instrumen penting dan dominan dalam model ini adalah buku panduan siswa dan guru. Sehingga, siswa akan terbiasa menyusun pemikiran orde tinggi dalam pembelajaran matematika.
Pendapat
Kesesuaian/Kecocokan Metode dan Instrumen Penelitian dengan Masalah/Tujuan penelitian
Pada jurnal ini Kesesuaian metode dan instrumen penelitian dengan masalah/tujuan penelitian dan hasil pembahasan sudah selaras. Di mana metode yang digunakan pada jurnal ini adalah penelitian pengembangan. Model pengembangan yang digunakan mengacu pada empat D-Model. Empat D-Model terdiri dari empat tahap, yaitu: define, design, develop dan diseminasi.
Penelitian ini yang bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran berbasis masalah untuk membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dalam pembelajaran matematika di SMA / MA. Subjek penelitian dan diseminasi adalah siswa kelas satu SMA / MA di tiga subprovinsi Sumatera Utara, yaitu SMA Swasta Yapim Taruna Stabat subprovinsi Langkat, SMK Negeri 6 Medan, SMA YPK Medan, dan subkontraktor MAN Lubuk Pakam Deli Serdang.
Kesesuaian/Kecocokan Hasil Penelitian/Diskusi Penelitian dan Kesimpulan dengan Masalah/Tujuan Penelitian
Permasalahan pada jurnal ini sudah terjawab pada hasil dan pembahasan, permasalahannya yaitu mengenai keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran yang perlu dipraktekkan kepada siswa karena orang selalu membutuhkan keterampilan tersebut untuk menghadapi dan memecahkan masalah. Sehingga diperlukan model pembelajaran yang baik digunakan dalam melatih cara berpikir siswa menjadi lebih kritis dan kreatif, begitu juga dengan hasil pembahasannya yang mana pada jurnal ini penulis menyarankan Problem Based Learning menjadi model pembelajaran untuk digunakan pada proses pembelajaran karena terbukti memberikan peningkatan yang signifikan. Dengan kata lain, penggunaan Problem Based Learning dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari.
Kelemahan Jurnal
Kajian pustaka pada jurnal ini menyatu dengan pendahuluan dan jugaterdapat pada bagian metode penelitiannya. Hal ini tentu akan membuat bingung pembaca karena kajian pustaka nya menjadi tidak runtut.
Ide Lain Untuk Memecahkan Masalah Yang Sama
Terkait dengan masalah yang terdapat dalam jurnal ini yaitu mengenai keterampilan berpikir kritis maka ide yang dapat reviewer tawarkan ialah model pembelajaran lain yang dapat digunakan dalam menghadapi masalah tersebut, salah satunya Pembelajaran Matematika Realistik. Menurut Zulkardi (2000) PMR adalah pendekatan pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang “real” bagi siswa, menekankan ketrampilan Abstrak dan Formalisasi Matematisasi dan Refleksi Situasi Nyata Matematisasi dalam aplikasi “proses of doing mathematics”, berdiskusi berkolaborasi berargumentasi dengan teman sekelas sehinga dapat menemukan sendiri dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok.
Cara tersebut dimaksudkan sebagai wahana untuk mengembangkan proses berpikir siswa, dari proses berpikir yang paling dikenal siswa, ke arah proses berpikir yang lebih formal. Jadi dalam pembelajaran guru tidak memberikan informasi atau menjelaskan tentang cara penyelesaian masalah, tetapi siswa sendiri yang menemukan penyelesaian tersebut dengan cara mereka sendiri.
Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Membangun Ketrampilan Berpikir Tinggi Berpikir Siswa dalam Pembelajaran Matematika di SMA / MA
Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan model pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran berbasis masalah untuk membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dalam pembelajaran matematika di SMA / MA. Subjek penelitian dan diseminasi adalah siswa kelas satu SMA / MA di tiga subprovinsi Sumatera Utara, yaitu SMA Swasta Yapim Taruna Stabat subprovinsi Langkat, SMK Negeri 6 Medan, SMA YPK Medan, dan subkontraktor MAN Lubuk Pakam Deli Serdang. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner, kertas observasi, makalah panduan wawancara, buku matematika untuk siswa kelas I SMA / MA, buku matematika untuk pedoman guru dan instrumen pra dan pasca tes. Pengembangan model ini diadopsi dari model Thiagarajan, Semmel & Semmel. Secara konkret, model pembelajaran diimplementasikan untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa SMA / MA untuk memecahkan masalah matematika. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan buku matematika untuk siswa kelas I SMA / MA dan buku matematika untuk bimbingan guru yang terdiri dari langkah terstruktur untuk memecahkan masalah matematika berbasis pemecahan masalah untuk membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan keterampilan pemecahan masalah matematika siswa.
Keyword : Model Pembelajaran, Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi
Pendahuluan
Hasil observasi menunjukkan bahwa model pembelajaran matematika saat ini di SMA tidak berhubungan dengan teori belajar yang jelas. Selama proses pembelajaran di ruang klas, siswa diberi masalah rutin yang dapat dipecahkan dengan menggunakan analisis sederhana dan solusi mecanistic. Hampir semua proses belajar matematika di SMA dimulai dengan memberikan definisi, rumus, contoh dan akhiran dengan memberikan latihan. Terkadang ada masalah matematis yang bisa diatasi dengan menggunakan sketsa atau gambar sederhana. Kondisi ini tidak bisa menghasilkan kreativitas atau pemikiran kritis siswa.
Selain itu, proses pembelajaran tidak mengenalkan siswa untuk berpikir deduktif aksiomatik, buku matematika dalam proses pembelajaran tidak mendukung siswa untuk berpikir deduktif aksiomatik. Sebagian besar, proses belajar matematika di SMA membimbing siswa untuk menghafal, memecahkan masalah matematis rutin dan menggunakan analisis sederhana secara induktif dengan mengikuti contoh yang ada. Ironisnya, guru mengajar siswa dengan mengikuti langkah dan presentasi yang diberikan dalam buku matematika yang hadir secara monoton, tanpa mempertimbangkan tingkat perkembangan kognitif siswa. Tapi, pembelajaran matematika membutuhkan inovasi dan kreativitas baik guru maupun siswa. Karena itu, Sumarmo (2005) mengatakan bahwa kemampuan memecahkan masalah siswa rendah.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa 40 siswa di semester keempat di perguruan tinggi tidak dapat membuktikan bahwa aksiomatik secara deduktif bahwa "jumlah sudut segitiga adalah 180 derajat". Siswa mempresentasikan pembuktian ini dengan mendemonstrasikan secarik kertas dalam bentuk tiga sudut segitiga yang terpisah. Ketiga lembar kertas ini disusun berdampingan dalam garis lurus.
Kholilah (2012) menemukan dalam penelitiannya bahwa kemampuan memecahkan masalah matematika siswa masih jauh dari yang diharapkan. Masalah yang muncul adalah ketidakpastian siswa untuk menerjemahkan masalah ke dalam informasi yang diketahui. Siswa belum dapat mengaitkan informasi apa yang diketahui dengan masalah apa yang ada dalam pertanyaan. Akibatnya, siswa tidak bisa membuat model matematis dari masalah.
Pembelajaran matematika terdiri dari masalah non rutin dan tidak perlu solusi rutin. Problem based learning adalah inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas dan pemikiran kritis. Siregar (2011) mengatakan bahwa konsep pemahaman siswa yang mengajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada yang diajarkan dengan menggunakan belajar secara teratur Selain itu, Suryadi (2005) mengatakan bahwa pemecahan masalah matematika merupakan salah satu kegiatan matematis yang penting baik oleh guru maupun siswa di semua tingkatan mulai SD sampai SMA.
Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Langkah pengembangan model pembelajaran mengikuti prosedur pengembangan model pembelajaran Thiagarajan, Semmel & Semmel (1974). Menurut Thiagarajan, Semmel & Semmel (1974), model pengembangan yang digunakan mengacu pada empat D-Model. Empat D-Model terdiri dari empat tahap, yaitu: define, design, develop dan diseminasi. Deskripsi hasil pengembangan dapat dijelaskan di bawah ini.
Langkah 1: Tentukan Tujuan dari langkah ini adalah menetapkan dan mendefinisikan aktivitas belajar dengan menganalisis tujuan dan pembatasan materi pelajaran. Langkah ini akan diuraikan lima kegiatan, yaitu analisis front-end (analisis kurikulum matematis), analisis siswa, analisis konsep / materi pelajaran, analisis tugas, dan rumusan tujuan pembelajaran. Tentukan langkah dapat dijelaskan di bawah ini:
Front end Analisis
Sebuah. Analisis Front-End Analisis ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan mendasar yang dihadapi dalam pengembangan model pembelajaran. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam analisis front-end adalah 2013 kurikulum dan teori pembelajaran berdasarkan pembelajaran berbasis masalah.
b. Analisis Siswa
Analisis ini dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik, keterampilan dan pengetahuan sebelumnya baik individu maupun kelompok. Analisis ini juga mempertimbangkan karakteristik siswa berdasarkan pada desain dan pengembangan materi pembelajaran. Karakteristik ini terdiri dari keterampilan dan latar belakang, pengalaman, sikap terhadap topik belajar, pemilihan media, pemilihan format, bahasa dan perkembangan kognitif siswa.
c. Analisis Konsep Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menyusun topik yang relevan secara sistematis. Topik ini akan dikembangkan dan kemudian diujicobakan dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah berdasarkan analisis front-end.
d. Analisis Tugas Analisis tugas adalah identifikasi kemampuan siswa yang membutuhkan kurikulum matematika SMA pada tahun 2013
e. Spesifikasi Tujuan Pembelajaran Tujuan dari langkah ini adalah untuk mengkonversikan tujuan dari analisis tugas, analisis konsep menjadi tujuan pembelajaran yang spesifik yang diungkapkan dengan perilaku siswa dalam belajar.
Langkah 2: Desain
Pada tahap ini dirancang model pembelajaran dan instrumen pendukung seperti pembelajaran berbasis buku matematika berbasis siswa dan buku panduan guru. Hasil dari langkah ini disebut Draft-1. Kegiatan dalam tahap ini adalah mengidentifikasi indikator tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar, menetapkan pembelajaran berbasis masalah sebagai dasar model pembelajaran matematika, desain awal dan penyusunan draf buku matematika kelas satu di sekolah menengah atas.
Langkah 3: Kembangkan Ada empat kegiatan dalam langkah ini, yaitu:
Validasi
Mengembangkan langkah dimulai dengan validasi ahli. Validasi dilakukan terhadap draft buku panduan siswa dan buku panduan guru yang dirancang pada langkah kedua (Draft-1). Validasi dilakukan terhadap isi materi pembelajaran, bahasa dan format yang digunakan. Validasi dilakukan oleh para ahli Matematika, pakar bahasa Indonesia dan ahli teori pembelajaran matematika sekolah. Aspek yang diamati adalah: langkah pendekatan ilmiah (seperti mengamati, bertanya, mencoba, bergaul dan berkomunikasi) menonjol dalam buku panduan siswa dan guru, penerapan pembelajaran berbasis masalah menonjol dalam buku-buku tersebut, materi pelajaran mengatur hirarki, Kalimat di buku-buku itu mudah dimengerti, kalimat di buku-buku itu telah menduplikasi makna, buku-buku itu memiliki konten dan appereance yang menarik, masalah memiliki variasi, masalahnya termasuk sebagai masalah kontekstual dan kalimat dalam latihan telah menduplikasi makna.
Revisi
Setelah proses penilaian dari ahli selesai, maka proses nex tersebut merevisi instrumen dan bahan pembelajaran. Saran dari validator digunakan untuk membuat materi pembelajaran dan buku panduan guru menjadi lebih baik. Revisi ini disebut revisi-I.
Pelaksanaan
Setelah melakukan revisi-I untuk materi pembelajaran dan buku panduan guru, langkah selanjutnya adalah melakukan implementasi terbatas. Implementasi ini disebut terbatas karena tergantung pada jadwal pokok bahasan di Implementasi sekolah, sehingga tidak semua materi pelajaran dalam buku siswa dapat diimplementasikan. Pelaksanaannya dilakukan di empat sekolah dari tiga kecamatan di Sumatera Utara yaitu SMA Negeri Swasta Yapim Taruna Stabat Langkat, SMK Negeri 6 Medan, SMA YPK Medan dan MAN Lubuk Pakam Deli serdang subprovinsi. Aspek yang diamati dalam proses implementasi adalah kalimat dalam buku siswa mudah dipahami oleh siswa, kalimat dalam buku siswa telah menduplikat makna, buku siswa memiliki konten dan appereance yang menarik, masalah dalam buku siswa memiliki variasi, dan kalimat dalam latihan mudah dilakukan. memahami. Selain itu, implementasi juga dilakukan dalam proses dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Aspek yang diamati adalah: siswa secara aktif mengamati materi pelajaran di kelompok mereka sendiri, siswa secara aktif bertanya di kelompok mereka sendiri, siswa secara aktif mencoba memecahkan masalah dalam buku siswa, dapatkah siswa menghubungkan informasi dari masalah dengan perencanaan untuk memecahkan masalah, Siswa mengkomunikasikan ide mereka dengan anggota kelompok, siswa melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan proses belajar mengajar, guru mengatur siswa dalam kelompok, guru memberikan perancah, guru memberikan jawaban berdasarkan pertanyaan siswa, guru memberi instruksi kepada siswa untuk mengamati, bertanya, mencoba, bergaul, dan berkomunikasi.
Revisi II
Setelah melakukan implementasi, langkah selanjutnya adalah revisi isi materi pembelajaran dan buku panduan guru. Revisi dilakukan berdasarkan temuan hasil implementasi. Pada langkah ini, kesalahan dalam aspek languange direvisi, sehingga tidak ada makna duplikat dalam kalimat. Grafik atau gambar itu dibuat jelas, sehingga memiliki makna yang dipahami oleh siswa. Formatnya juga direvisi menjadi lebih baik.
Proses belajar matematika di kelas telah mengikuti pembelajaran berbasis masalah. Langkah pembelajaran berbasis masalah didasarkan pada empat tahap pemecahan masalah oleh Polya (1971), yaitu: (1) memahami masalah, (2) perencanaan solusi, (3) menyelesaikan permasalahan berdasarkan perencanaan pada tahap kedua. , (4) melihat hasilnya kembali. Untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah ini, guru harus merancang proses pembelajaran dengan memberikan pengalaman pemecahan masalah yang memerlukan strategi variate terhadap masalah yang diberikan.
Implementasi konkrit dari langkah pembelajaran berbasis masalah dapat dibagi sebagai berikut: (1) menulis aspek yang dikenal dalam masalah, aspek ini sebagai modal awal untuk memecahkan masalah, (2) menulis apa yang diminta dalam masalah, aspek ini adalah tujuannya, (3) menulis model matematis dari masalah te dengan menggunakan aspek yang diketahui dari masalah, (4) menyelesaikan model pada langkah ketiga, (5) melihat kembali hasilnya. Ada beberapa aspek yang telah mempertimbangkan untuk mengajarkan pemecahan masalah seperti waktu, perencanaan, sumber, peran teknologi dan manajemen kelas. Aspek waktu dibagi menjadi waktu untuk uderstand masalah, waktu untuk mengeksplorasi masalah, dan waktu untuk memikirkan proses pemecahan masalah.
Sanjaya (2008) mengatakan beberapa keunggulan pendekatan pemecahan masalah, yaitu:
Pemecahan masalah adalah teknik yang baik untuk mengurangi materi pelajaran
Pemecahan masalah merupakan tantangan bagi ketrampilan siswa dan memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa
Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa
Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah kehidupan nyata
Pemecahan masalah dapat membantu siswa mengembangkan pengetahuan baru mereka dan bertanggung jawab dalam proses belajar mereka. Pemecahan masalah juga bisa memotivasi untuk mengevaluasi hasil dan proses belajar mereka sendiri
Pembelajaran pemecahan masalah adalah pembelajaran yang menyenangkan dan disukai oleh siswa
Pemecahan masalah dapat mengembangkan keterampilan siswa untuk berpikir kritis dan beradaptasi dengan pengetahuan baru
Selanjutnya, Nainggolan (2009) mengatakan bahwa ada beberapa alasan mengapa pemecahan masalah merupakan aspek penting dan dapat membuat proses belajar menjadi efektif dan kreatif. Aspek tersebut adalah:
Dengan menggunakan pemecahan masalah dalam pembelajaran, materi pelajaran dapat diimplementasikan
Berlatih dan membuat siswa terbiasa berpikiran berbeda dari biasanya
Pemecahan masalah dalam pembelajaran dapat memberi kesempatan dan dapat memotivasi siswa untuk berdiskusi dengan teman mereka untuk mencari solusi masalah
Pemecahan masalah juga dapat memotivasi siswa untuk membangun teori mereka sendiri dengan berpikir kreatif dan kritis, menguji teori mereka, menguji teori teman mereka, dihapus jika teori tersebut tidak konsisten dan mencoba yang lain.
Pemecahan masalah dalam pembelajaran dapat memotivasi dan timbul rasa ingin tahu siswa untuk mencari pemecahan masalah
Keterampilan memecahkan masalah dalam pembelajaran perlu dipraktekkan kepada siswa karena orang selalu membutuhkan keterampilan tersebut untuk menghadapi dan memecahkan masalah.
Hasil dan Pembahasan
Hasil
Hasil penelitian adalah satu paket model pembelajaran matematis di kelas 1 SMA yang terdiri dari beberapa instrumen, yaitu kertas kuesioner, kertas panduan observasi, makalah panduan wawancara, buku matematika untuk siswa, buku matematika untuk bimbingan guru dan pra dan posttest. instrumen.
Hasil implementasi paket model pembelajaran ini di tiga subprovinsi adalah: Dari 37 siswa kelas satu di SMK Negeri 6 Medan, ada 32 siswa (87%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku siswa mudah dimengerti, 21 siswa (57%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku tersebut tidak memiliki makna ganda, 35 siswa (95% ) mengatakan bahwa penampilan konten buku menarik, 35 siswa (95%) mengatakan bahwa masalah dalam buku siswa bervariasi dan 23 siswa (56%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku mudah dipahami. Di SMA swasta YAPIM stabat yang memiliki 41 siswa, ada 23 siswa (56%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku mudah dimengerti, 25 siswa (61%) mengatakan bahwa tampilan konten buku menarik, 40 siswa (98%) mengatakan bahwa masalah dalam buku siswa bervariasi dan 15 siswa (37%) mengatakan bahwa kalimat yang dimaksud mudah dipahami.
Di SMA YPK Medan, ada 37 siswa dan hasilnya 31 siswa (31%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku mudah dimengerti, 24 siswa (65%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku tersebut tidak memiliki makna ganda, 16 siswa ( 43%) mengatakan bahwa tampilan isi buku menarik, 36 siswa (97%) mengatakan bahwa masalah dalam buku siswa bervariasi dan 25 siswa (68%) mengatakan bahwa kalimat yang dimaksud mudah dipahami. Di MAN Lubuk Pakam, ada 32 siswa dan hasilnya 30 siswa (94%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku mudah dipahami, 31 siswa (97%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku tersebut tidak memiliki makna ganda, 20 siswa ( 63%) mengatakan bahwa tampilan isi buku menarik, 24 siswa (75%) mengemukakan bahwa masalah dalam buku siswa bervariasi dan 31 siswa (97%) mengatakan bahwa kalimat yang dimaksud mudah dipahami.
Hasil lain dari implementasinya adalah kemampuan pemecahan masalah matematika siswa meningkat secara signifikan. Peningkatan ini terlihat dari perbedaan kenaikan normal antara skor siswa pada siklus pertama dan kedua. Rata-rata kenaikan N-gain pada siklus I adalah 0,309 dan siklus kedua adalah 0,430. Dengan menggunakan uji t, dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan yang signifikan antara keduanya.
Diskusi
Dari pelaksanaannya, proses pembelajaran berjalan lancar. Siswa secara aktif memperhatikan pokok bahasan dalam kelompoknya. Siswa yang aktif bertanya dalam kelompoknya, mencoba memecahkan masalah dalam buku siswa, siswa dapat menghubungkan informasi dari masalah dan siswa dapat mengkomunikasikan hasil pemikiran mereka dengan anggota kelompok mereka secara aktif. Secara signifikan, tidak ada siswa yang melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan proses belajar. Dari hasil observasi untuk proses pembelajaran, guru mengorganisir siswa dalam kelompok yang terdiri dari tiga atau empat siswa, siswa memberikan perancah, guru memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan siswa, dan guru selalu menginstruksikan siswa untuk mengamati, bertanya, mencoba, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan subjek materi dalam kelompok mereka sendiri. Setelah itu, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas. Secara kuantitatif, ada peningkatan yang signifikan keterampilan pemecahan masalah matematika siswa.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, model pembelajaran dan semua instrumen terkait direkomendasikan untuk diimplementasikan dalam pembelajaran matematik di kelas 1 SMA. Salah satu instrumen penting dan dominan dalam model ini adalah buku panduan siswa dan guru. Sehingga, siswa akan terbiasa menyusun pemikiran orde tinggi dalam pembelajaran matematika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar