Critical Journal Review
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Strategi Pembelajaran Akidah Akhlak
Disusun Oleh :
Nama : Siti Masita
Nim : 0301173518
Sem/Jurs : IV/PAI4
Dosen Pengampu : Drs. H. Mardianto, M.Pd
Prodi Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Tahun Akademik 2018/2019
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga makalah critical journal review ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa saya mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Harapan saya semoga makalah critical journal review ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca agar ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Mudah-mudahan makalah ini khususnya bagi saya dan bagi pembaca lain pada umumnya.
Atas perhatiannya, saya ucapkan terimakasih.
Medan, Mei 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
HASIL REVIEW 1
Kajian Inti Sari Bab Pendahuluan Jurnal 1
Kajian Inti Sari Bab Kajian Pustaka Jurnal 2
Kajian Inti Sari Bab Metode Penelitian Jurnal 2
Kajian Inti Sari Bab Hasil Penelitian Jurnal 3
Kajian Inti Sari Bab Kesimpulan Jurnal 3
Pendapat 3
LAMPIRAN
HASIL REVIEW
Identitas Jurnal
Judul : The Development of Problem Based Learning Model
to Construct High Order Thinking Skill Students’ on
Mathematical Learning in SMA/MA”
Jurnal : Journal of Education and Practice
Tahun : 2014
Penulis : 1. Edy Syahputra
2. Edy Surya
Kajian Inti Sari Bab Pendahuluan Jurnal
Pada bagian pendahuluan, jurnal ini dilatar belakangi oleh pembelajaran matematika di SMA yang tidak berhubungan dengan teori belajar yang jelas. Hampir semua proses belajar matematika di SMA dimulai dengan memberikan definisi, rumus, contoh dan akhiran dengan memberikan latihan. Terkadang ada masalah matematis yang bisa diatasi dengan menggunakan sketsa atau gambar sederhana. Kondisi ini tidak bisa menghasilkan kreativitas atau pemikiran kritis siswa.
Sebagian besar, proses belajar matematika di SMA membimbing siswa untuk menghafal, memecahkan masalah matematis rutin dan menggunakan analisis sederhana secara induktif dengan mengikuti contoh yang ada. Ironisnya, guru mengajar siswa dengan mengikuti langkah dan presentasi yang diberikan dalam buku matematika yang hadir secara monoton, tanpa mempertimbangkan tingkat perkembangan kognitif siswa.
Dari masalah tersebut penulis menyarankan model pembelajaran Problem Based Learning yang melibatkan siswa untuk berperan aktif untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. Problem based learning adalah inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas dan pemikiran kritis.
Kajian Inti Sari Bab Kajian Pustaka Jurnal
Kholilah (2012) menemukan dalam penelitiannya bahwa kemampuan memecahkan masalah matematika siswa masih jauh dari yang diharapkan. Masalah yang muncul adalah ketidakpastian siswa untuk menerjemahkan masalah ke dalam informasi yang diketahui. Siswa belum dapat mengaitkan informasi apa yang diketahui dengan masalah apa yang ada dalam pertanyaan. Akibatnya, siswa tidak bisa membuat model matematis dari masalah.
Pembelajaran matematika terdiri dari masalah non rutin dan tidak perlu solusi rutin. Problem based learning adalah inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas dan pemikiran kritis. Siregar (2011) mengatakan bahwa konsep pemahaman siswa yang mengajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada yang diajarkan dengan menggunakan belajar secara teratur Selain itu, Suryadi (2005) mengatakan bahwa pemecahan masalah matematika merupakan salah satu kegiatan matematis yang penting baik oleh guru maupun siswa di semua tingkatan mulai SD sampai SMA.
Kajian Inti Sari Bab Metode Penelitian Jurnal
Pada jurnal ini Jenis penelitiannya adalah penelitian pengembangan. Langkah pengembangan model pembelajaran mengikuti prosedur pengembangan model pembelajaran Thiagarajan, Semmel & Semmel (1974). Pelaksanaannya dilakukan di empat sekolah dari tiga kecamatan di Sumatera Utara yaitu SMA Negeri Swasta Yapim Taruna Stabat Langkat, SMK Negeri 6 Medan, SMA YPK Medan dan MAN Lubuk Pakam Deli serdang subprovinsi. Aspek yang diamati dalam proses implementasi adalah kalimat dalam buku siswa mudah dipahami oleh siswa, kalimat dalam buku siswa telah menduplikat makna, buku siswa memiliki konten dan appereance yang menarik, masalah dalam buku siswa memiliki variasi, dan kalimat dalam latihan mudah dilakukan. memahami. Selain itu, implementasi juga dilakukan dalam proses dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Aspek yang diamati adalah: siswa secara aktif mengamati materi pelajaran di kelompok mereka sendiri, siswa secara aktif bertanya di kelompok mereka sendiri, siswa secara aktif mencoba memecahkan masalah dalam buku siswa, dapatkah siswa menghubungkan informasi dari masalah dengan perencanaan untuk memecahkan masalah, Siswa mengkomunikasikan ide mereka dengan anggota kelompok, siswa melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan proses belajar mengajar, guru mengatur siswa dalam kelompok, guru memberikan perancah, guru memberikan jawaban berdasarkan pertanyaan siswa, guru memberi instruksi kepada siswa untuk mengamati, bertanya, mencoba, bergaul, dan berkomunikasi.
Kajian Inti Sari Bab Hasil Penelitian Jurnal
Hasil dari implementasinya adalah kemampuan pemecahan masalah matematika siswa meningkat secara signifikan. Peningkatan ini terlihat dari perbedaan kenaikan normal antara skor siswa pada siklus pertama dan kedua. Dari pelaksanaannya, proses pembelajaran berjalan lancar. Siswa secara aktif memperhatikan pokok bahasan dalam kelompoknya. Siswa yang aktif bertanya dalam kelompoknya, mencoba memecahkan masalah dalam buku siswa, siswa dapat menghubungkan informasi dari masalah dan siswa dapat mengkomunikasikan hasil pemikiran mereka dengan anggota kelompok mereka secara aktif. Secara signifikan, tidak ada siswa yang melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan proses belajar. Dengan menggunakan uji t, dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan yang signifikan.
Kajian Inti Sari Bab Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, model pembelajaran dan semua instrumen terkait direkomendasikan untuk diimplementasikan dalam pembelajaran matematik di kelas 1 SMA. Salah satu instrumen penting dan dominan dalam model ini adalah buku panduan siswa dan guru. Sehingga, siswa akan terbiasa menyusun pemikiran orde tinggi dalam pembelajaran matematika.
Pendapat
Kesesuaian/Kecocokan Metode dan Instrumen Penelitian dengan Masalah/Tujuan penelitian
Pada jurnal ini Kesesuaian metode dan instrumen penelitian dengan masalah/tujuan penelitian dan hasil pembahasan sudah selaras. Di mana metode yang digunakan pada jurnal ini adalah penelitian pengembangan. Model pengembangan yang digunakan mengacu pada empat D-Model. Empat D-Model terdiri dari empat tahap, yaitu: define, design, develop dan diseminasi.
Penelitian ini yang bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran berbasis masalah untuk membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dalam pembelajaran matematika di SMA / MA. Subjek penelitian dan diseminasi adalah siswa kelas satu SMA / MA di tiga subprovinsi Sumatera Utara, yaitu SMA Swasta Yapim Taruna Stabat subprovinsi Langkat, SMK Negeri 6 Medan, SMA YPK Medan, dan subkontraktor MAN Lubuk Pakam Deli Serdang.
Kesesuaian/Kecocokan Hasil Penelitian/Diskusi Penelitian dan Kesimpulan dengan Masalah/Tujuan Penelitian
Permasalahan pada jurnal ini sudah terjawab pada hasil dan pembahasan, permasalahannya yaitu mengenai keterampilan berpikir kritis dalam pembelajaran yang perlu dipraktekkan kepada siswa karena orang selalu membutuhkan keterampilan tersebut untuk menghadapi dan memecahkan masalah. Sehingga diperlukan model pembelajaran yang baik digunakan dalam melatih cara berpikir siswa menjadi lebih kritis dan kreatif, begitu juga dengan hasil pembahasannya yang mana pada jurnal ini penulis menyarankan Problem Based Learning menjadi model pembelajaran untuk digunakan pada proses pembelajaran karena terbukti memberikan peningkatan yang signifikan. Dengan kata lain, penggunaan Problem Based Learning dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari.
Kelemahan Jurnal
Kajian pustaka pada jurnal ini menyatu dengan pendahuluan dan jugaterdapat pada bagian metode penelitiannya. Hal ini tentu akan membuat bingung pembaca karena kajian pustaka nya menjadi tidak runtut.
Ide Lain Untuk Memecahkan Masalah Yang Sama
Terkait dengan masalah yang terdapat dalam jurnal ini yaitu mengenai keterampilan berpikir kritis maka ide yang dapat reviewer tawarkan ialah model pembelajaran lain yang dapat digunakan dalam menghadapi masalah tersebut, salah satunya Pembelajaran Matematika Realistik. Menurut Zulkardi (2000) PMR adalah pendekatan pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang “real” bagi siswa, menekankan ketrampilan Abstrak dan Formalisasi Matematisasi dan Refleksi Situasi Nyata Matematisasi dalam aplikasi “proses of doing mathematics”, berdiskusi berkolaborasi berargumentasi dengan teman sekelas sehinga dapat menemukan sendiri dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok.
Cara tersebut dimaksudkan sebagai wahana untuk mengembangkan proses berpikir siswa, dari proses berpikir yang paling dikenal siswa, ke arah proses berpikir yang lebih formal. Jadi dalam pembelajaran guru tidak memberikan informasi atau menjelaskan tentang cara penyelesaian masalah, tetapi siswa sendiri yang menemukan penyelesaian tersebut dengan cara mereka sendiri.
Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Membangun Ketrampilan Berpikir Tinggi Berpikir Siswa dalam Pembelajaran Matematika di SMA / MA
Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan model pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran berbasis masalah untuk membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dalam pembelajaran matematika di SMA / MA. Subjek penelitian dan diseminasi adalah siswa kelas satu SMA / MA di tiga subprovinsi Sumatera Utara, yaitu SMA Swasta Yapim Taruna Stabat subprovinsi Langkat, SMK Negeri 6 Medan, SMA YPK Medan, dan subkontraktor MAN Lubuk Pakam Deli Serdang. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner, kertas observasi, makalah panduan wawancara, buku matematika untuk siswa kelas I SMA / MA, buku matematika untuk pedoman guru dan instrumen pra dan pasca tes. Pengembangan model ini diadopsi dari model Thiagarajan, Semmel & Semmel. Secara konkret, model pembelajaran diimplementasikan untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa SMA / MA untuk memecahkan masalah matematika. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan buku matematika untuk siswa kelas I SMA / MA dan buku matematika untuk bimbingan guru yang terdiri dari langkah terstruktur untuk memecahkan masalah matematika berbasis pemecahan masalah untuk membangun keterampilan berpikir tingkat tinggi. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan keterampilan pemecahan masalah matematika siswa.
Keyword : Model Pembelajaran, Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi
Pendahuluan
Hasil observasi menunjukkan bahwa model pembelajaran matematika saat ini di SMA tidak berhubungan dengan teori belajar yang jelas. Selama proses pembelajaran di ruang klas, siswa diberi masalah rutin yang dapat dipecahkan dengan menggunakan analisis sederhana dan solusi mecanistic. Hampir semua proses belajar matematika di SMA dimulai dengan memberikan definisi, rumus, contoh dan akhiran dengan memberikan latihan. Terkadang ada masalah matematis yang bisa diatasi dengan menggunakan sketsa atau gambar sederhana. Kondisi ini tidak bisa menghasilkan kreativitas atau pemikiran kritis siswa.
Selain itu, proses pembelajaran tidak mengenalkan siswa untuk berpikir deduktif aksiomatik, buku matematika dalam proses pembelajaran tidak mendukung siswa untuk berpikir deduktif aksiomatik. Sebagian besar, proses belajar matematika di SMA membimbing siswa untuk menghafal, memecahkan masalah matematis rutin dan menggunakan analisis sederhana secara induktif dengan mengikuti contoh yang ada. Ironisnya, guru mengajar siswa dengan mengikuti langkah dan presentasi yang diberikan dalam buku matematika yang hadir secara monoton, tanpa mempertimbangkan tingkat perkembangan kognitif siswa. Tapi, pembelajaran matematika membutuhkan inovasi dan kreativitas baik guru maupun siswa. Karena itu, Sumarmo (2005) mengatakan bahwa kemampuan memecahkan masalah siswa rendah.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa 40 siswa di semester keempat di perguruan tinggi tidak dapat membuktikan bahwa aksiomatik secara deduktif bahwa "jumlah sudut segitiga adalah 180 derajat". Siswa mempresentasikan pembuktian ini dengan mendemonstrasikan secarik kertas dalam bentuk tiga sudut segitiga yang terpisah. Ketiga lembar kertas ini disusun berdampingan dalam garis lurus.
Kholilah (2012) menemukan dalam penelitiannya bahwa kemampuan memecahkan masalah matematika siswa masih jauh dari yang diharapkan. Masalah yang muncul adalah ketidakpastian siswa untuk menerjemahkan masalah ke dalam informasi yang diketahui. Siswa belum dapat mengaitkan informasi apa yang diketahui dengan masalah apa yang ada dalam pertanyaan. Akibatnya, siswa tidak bisa membuat model matematis dari masalah.
Pembelajaran matematika terdiri dari masalah non rutin dan tidak perlu solusi rutin. Problem based learning adalah inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas dan pemikiran kritis. Siregar (2011) mengatakan bahwa konsep pemahaman siswa yang mengajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada yang diajarkan dengan menggunakan belajar secara teratur Selain itu, Suryadi (2005) mengatakan bahwa pemecahan masalah matematika merupakan salah satu kegiatan matematis yang penting baik oleh guru maupun siswa di semua tingkatan mulai SD sampai SMA.
Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Langkah pengembangan model pembelajaran mengikuti prosedur pengembangan model pembelajaran Thiagarajan, Semmel & Semmel (1974). Menurut Thiagarajan, Semmel & Semmel (1974), model pengembangan yang digunakan mengacu pada empat D-Model. Empat D-Model terdiri dari empat tahap, yaitu: define, design, develop dan diseminasi. Deskripsi hasil pengembangan dapat dijelaskan di bawah ini.
Langkah 1: Tentukan Tujuan dari langkah ini adalah menetapkan dan mendefinisikan aktivitas belajar dengan menganalisis tujuan dan pembatasan materi pelajaran. Langkah ini akan diuraikan lima kegiatan, yaitu analisis front-end (analisis kurikulum matematis), analisis siswa, analisis konsep / materi pelajaran, analisis tugas, dan rumusan tujuan pembelajaran. Tentukan langkah dapat dijelaskan di bawah ini:
Front end Analisis
Sebuah. Analisis Front-End Analisis ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan mendasar yang dihadapi dalam pengembangan model pembelajaran. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam analisis front-end adalah 2013 kurikulum dan teori pembelajaran berdasarkan pembelajaran berbasis masalah.
b. Analisis Siswa
Analisis ini dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik, keterampilan dan pengetahuan sebelumnya baik individu maupun kelompok. Analisis ini juga mempertimbangkan karakteristik siswa berdasarkan pada desain dan pengembangan materi pembelajaran. Karakteristik ini terdiri dari keterampilan dan latar belakang, pengalaman, sikap terhadap topik belajar, pemilihan media, pemilihan format, bahasa dan perkembangan kognitif siswa.
c. Analisis Konsep Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menyusun topik yang relevan secara sistematis. Topik ini akan dikembangkan dan kemudian diujicobakan dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah berdasarkan analisis front-end.
d. Analisis Tugas Analisis tugas adalah identifikasi kemampuan siswa yang membutuhkan kurikulum matematika SMA pada tahun 2013
e. Spesifikasi Tujuan Pembelajaran Tujuan dari langkah ini adalah untuk mengkonversikan tujuan dari analisis tugas, analisis konsep menjadi tujuan pembelajaran yang spesifik yang diungkapkan dengan perilaku siswa dalam belajar.
Langkah 2: Desain
Pada tahap ini dirancang model pembelajaran dan instrumen pendukung seperti pembelajaran berbasis buku matematika berbasis siswa dan buku panduan guru. Hasil dari langkah ini disebut Draft-1. Kegiatan dalam tahap ini adalah mengidentifikasi indikator tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar, menetapkan pembelajaran berbasis masalah sebagai dasar model pembelajaran matematika, desain awal dan penyusunan draf buku matematika kelas satu di sekolah menengah atas.
Langkah 3: Kembangkan Ada empat kegiatan dalam langkah ini, yaitu:
Validasi
Mengembangkan langkah dimulai dengan validasi ahli. Validasi dilakukan terhadap draft buku panduan siswa dan buku panduan guru yang dirancang pada langkah kedua (Draft-1). Validasi dilakukan terhadap isi materi pembelajaran, bahasa dan format yang digunakan. Validasi dilakukan oleh para ahli Matematika, pakar bahasa Indonesia dan ahli teori pembelajaran matematika sekolah. Aspek yang diamati adalah: langkah pendekatan ilmiah (seperti mengamati, bertanya, mencoba, bergaul dan berkomunikasi) menonjol dalam buku panduan siswa dan guru, penerapan pembelajaran berbasis masalah menonjol dalam buku-buku tersebut, materi pelajaran mengatur hirarki, Kalimat di buku-buku itu mudah dimengerti, kalimat di buku-buku itu telah menduplikasi makna, buku-buku itu memiliki konten dan appereance yang menarik, masalah memiliki variasi, masalahnya termasuk sebagai masalah kontekstual dan kalimat dalam latihan telah menduplikasi makna.
Revisi
Setelah proses penilaian dari ahli selesai, maka proses nex tersebut merevisi instrumen dan bahan pembelajaran. Saran dari validator digunakan untuk membuat materi pembelajaran dan buku panduan guru menjadi lebih baik. Revisi ini disebut revisi-I.
Pelaksanaan
Setelah melakukan revisi-I untuk materi pembelajaran dan buku panduan guru, langkah selanjutnya adalah melakukan implementasi terbatas. Implementasi ini disebut terbatas karena tergantung pada jadwal pokok bahasan di Implementasi sekolah, sehingga tidak semua materi pelajaran dalam buku siswa dapat diimplementasikan. Pelaksanaannya dilakukan di empat sekolah dari tiga kecamatan di Sumatera Utara yaitu SMA Negeri Swasta Yapim Taruna Stabat Langkat, SMK Negeri 6 Medan, SMA YPK Medan dan MAN Lubuk Pakam Deli serdang subprovinsi. Aspek yang diamati dalam proses implementasi adalah kalimat dalam buku siswa mudah dipahami oleh siswa, kalimat dalam buku siswa telah menduplikat makna, buku siswa memiliki konten dan appereance yang menarik, masalah dalam buku siswa memiliki variasi, dan kalimat dalam latihan mudah dilakukan. memahami. Selain itu, implementasi juga dilakukan dalam proses dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Aspek yang diamati adalah: siswa secara aktif mengamati materi pelajaran di kelompok mereka sendiri, siswa secara aktif bertanya di kelompok mereka sendiri, siswa secara aktif mencoba memecahkan masalah dalam buku siswa, dapatkah siswa menghubungkan informasi dari masalah dengan perencanaan untuk memecahkan masalah, Siswa mengkomunikasikan ide mereka dengan anggota kelompok, siswa melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan proses belajar mengajar, guru mengatur siswa dalam kelompok, guru memberikan perancah, guru memberikan jawaban berdasarkan pertanyaan siswa, guru memberi instruksi kepada siswa untuk mengamati, bertanya, mencoba, bergaul, dan berkomunikasi.
Revisi II
Setelah melakukan implementasi, langkah selanjutnya adalah revisi isi materi pembelajaran dan buku panduan guru. Revisi dilakukan berdasarkan temuan hasil implementasi. Pada langkah ini, kesalahan dalam aspek languange direvisi, sehingga tidak ada makna duplikat dalam kalimat. Grafik atau gambar itu dibuat jelas, sehingga memiliki makna yang dipahami oleh siswa. Formatnya juga direvisi menjadi lebih baik.
Proses belajar matematika di kelas telah mengikuti pembelajaran berbasis masalah. Langkah pembelajaran berbasis masalah didasarkan pada empat tahap pemecahan masalah oleh Polya (1971), yaitu: (1) memahami masalah, (2) perencanaan solusi, (3) menyelesaikan permasalahan berdasarkan perencanaan pada tahap kedua. , (4) melihat hasilnya kembali. Untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah ini, guru harus merancang proses pembelajaran dengan memberikan pengalaman pemecahan masalah yang memerlukan strategi variate terhadap masalah yang diberikan.
Implementasi konkrit dari langkah pembelajaran berbasis masalah dapat dibagi sebagai berikut: (1) menulis aspek yang dikenal dalam masalah, aspek ini sebagai modal awal untuk memecahkan masalah, (2) menulis apa yang diminta dalam masalah, aspek ini adalah tujuannya, (3) menulis model matematis dari masalah te dengan menggunakan aspek yang diketahui dari masalah, (4) menyelesaikan model pada langkah ketiga, (5) melihat kembali hasilnya. Ada beberapa aspek yang telah mempertimbangkan untuk mengajarkan pemecahan masalah seperti waktu, perencanaan, sumber, peran teknologi dan manajemen kelas. Aspek waktu dibagi menjadi waktu untuk uderstand masalah, waktu untuk mengeksplorasi masalah, dan waktu untuk memikirkan proses pemecahan masalah.
Sanjaya (2008) mengatakan beberapa keunggulan pendekatan pemecahan masalah, yaitu:
Pemecahan masalah adalah teknik yang baik untuk mengurangi materi pelajaran
Pemecahan masalah merupakan tantangan bagi ketrampilan siswa dan memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa
Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa
Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah kehidupan nyata
Pemecahan masalah dapat membantu siswa mengembangkan pengetahuan baru mereka dan bertanggung jawab dalam proses belajar mereka. Pemecahan masalah juga bisa memotivasi untuk mengevaluasi hasil dan proses belajar mereka sendiri
Pembelajaran pemecahan masalah adalah pembelajaran yang menyenangkan dan disukai oleh siswa
Pemecahan masalah dapat mengembangkan keterampilan siswa untuk berpikir kritis dan beradaptasi dengan pengetahuan baru
Selanjutnya, Nainggolan (2009) mengatakan bahwa ada beberapa alasan mengapa pemecahan masalah merupakan aspek penting dan dapat membuat proses belajar menjadi efektif dan kreatif. Aspek tersebut adalah:
Dengan menggunakan pemecahan masalah dalam pembelajaran, materi pelajaran dapat diimplementasikan
Berlatih dan membuat siswa terbiasa berpikiran berbeda dari biasanya
Pemecahan masalah dalam pembelajaran dapat memberi kesempatan dan dapat memotivasi siswa untuk berdiskusi dengan teman mereka untuk mencari solusi masalah
Pemecahan masalah juga dapat memotivasi siswa untuk membangun teori mereka sendiri dengan berpikir kreatif dan kritis, menguji teori mereka, menguji teori teman mereka, dihapus jika teori tersebut tidak konsisten dan mencoba yang lain.
Pemecahan masalah dalam pembelajaran dapat memotivasi dan timbul rasa ingin tahu siswa untuk mencari pemecahan masalah
Keterampilan memecahkan masalah dalam pembelajaran perlu dipraktekkan kepada siswa karena orang selalu membutuhkan keterampilan tersebut untuk menghadapi dan memecahkan masalah.
Hasil dan Pembahasan
Hasil
Hasil penelitian adalah satu paket model pembelajaran matematis di kelas 1 SMA yang terdiri dari beberapa instrumen, yaitu kertas kuesioner, kertas panduan observasi, makalah panduan wawancara, buku matematika untuk siswa, buku matematika untuk bimbingan guru dan pra dan posttest. instrumen.
Hasil implementasi paket model pembelajaran ini di tiga subprovinsi adalah: Dari 37 siswa kelas satu di SMK Negeri 6 Medan, ada 32 siswa (87%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku siswa mudah dimengerti, 21 siswa (57%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku tersebut tidak memiliki makna ganda, 35 siswa (95% ) mengatakan bahwa penampilan konten buku menarik, 35 siswa (95%) mengatakan bahwa masalah dalam buku siswa bervariasi dan 23 siswa (56%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku mudah dipahami. Di SMA swasta YAPIM stabat yang memiliki 41 siswa, ada 23 siswa (56%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku mudah dimengerti, 25 siswa (61%) mengatakan bahwa tampilan konten buku menarik, 40 siswa (98%) mengatakan bahwa masalah dalam buku siswa bervariasi dan 15 siswa (37%) mengatakan bahwa kalimat yang dimaksud mudah dipahami.
Di SMA YPK Medan, ada 37 siswa dan hasilnya 31 siswa (31%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku mudah dimengerti, 24 siswa (65%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku tersebut tidak memiliki makna ganda, 16 siswa ( 43%) mengatakan bahwa tampilan isi buku menarik, 36 siswa (97%) mengatakan bahwa masalah dalam buku siswa bervariasi dan 25 siswa (68%) mengatakan bahwa kalimat yang dimaksud mudah dipahami. Di MAN Lubuk Pakam, ada 32 siswa dan hasilnya 30 siswa (94%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku mudah dipahami, 31 siswa (97%) mengatakan bahwa kalimat dalam buku tersebut tidak memiliki makna ganda, 20 siswa ( 63%) mengatakan bahwa tampilan isi buku menarik, 24 siswa (75%) mengemukakan bahwa masalah dalam buku siswa bervariasi dan 31 siswa (97%) mengatakan bahwa kalimat yang dimaksud mudah dipahami.
Hasil lain dari implementasinya adalah kemampuan pemecahan masalah matematika siswa meningkat secara signifikan. Peningkatan ini terlihat dari perbedaan kenaikan normal antara skor siswa pada siklus pertama dan kedua. Rata-rata kenaikan N-gain pada siklus I adalah 0,309 dan siklus kedua adalah 0,430. Dengan menggunakan uji t, dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan yang signifikan antara keduanya.
Diskusi
Dari pelaksanaannya, proses pembelajaran berjalan lancar. Siswa secara aktif memperhatikan pokok bahasan dalam kelompoknya. Siswa yang aktif bertanya dalam kelompoknya, mencoba memecahkan masalah dalam buku siswa, siswa dapat menghubungkan informasi dari masalah dan siswa dapat mengkomunikasikan hasil pemikiran mereka dengan anggota kelompok mereka secara aktif. Secara signifikan, tidak ada siswa yang melakukan aktivitas yang tidak berhubungan dengan proses belajar. Dari hasil observasi untuk proses pembelajaran, guru mengorganisir siswa dalam kelompok yang terdiri dari tiga atau empat siswa, siswa memberikan perancah, guru memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan siswa, dan guru selalu menginstruksikan siswa untuk mengamati, bertanya, mencoba, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan subjek materi dalam kelompok mereka sendiri. Setelah itu, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok di depan kelas. Secara kuantitatif, ada peningkatan yang signifikan keterampilan pemecahan masalah matematika siswa.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, model pembelajaran dan semua instrumen terkait direkomendasikan untuk diimplementasikan dalam pembelajaran matematik di kelas 1 SMA. Salah satu instrumen penting dan dominan dalam model ini adalah buku panduan siswa dan guru. Sehingga, siswa akan terbiasa menyusun pemikiran orde tinggi dalam pembelajaran matematika.
Senin, 24 Juni 2019
RPP Akidah akhlak kelas XII semester ganjil
RPP AQIDAH AKHLAK KELAS XII SEMESTER GANJIL
Disusun Oleh:
Hartiya Namira (0301171317)
Mutiah Qonitah (0301171303)
M. Mualif Abdullah (0301171283)
Siti Masita (0301171341)
Ummi Sianturi (0301171341)
Dosen Pengampu
Dr. H. Mardianto, M.Pd
Jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sumatera Utara
T.A. 2019
Materi
Asmaul Husna
Membiasakan Akhalak Terpuji
Menghindari akhlak tercela
Adap pergaulan dalam Islam
Meneladani Sifat Utama Al-Ghazali dan Ibnu Sina.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
( R P P ) Kurikulum 2013
Satuan Pendidikan
:
MAN 2 Pangandaran
Mata Pelajaran
:
Aqidah Akhlak
Tema / Subtema
:
Al-Ghazali dan Ibnu Sina
Kelas / Semester
:
XII (Dua Belas) / 1
Materi Pokok
:
Meneladani Sifat Utama Al-Ghazali dan Ibnu Sina
Alokasi Waktu
:
2 x 45 Menit
I. Kompetensi Inti (KI)
KI.I Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI.2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI.3 Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4 Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
II. Kompetensi Dasar (KD)
1.5 Menghayati keutamaan sifat-sifat Al-Gazali, Ibnu Sina
2.5 Meneladani keutamaan sifat-sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina
3.5 Menganalisis kisah keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina
4.5 Menceritakan kisah keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina
III. Tujuan Pembelajaran
Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mengkomunikasikan diharapkan :
1) siswa dapat menyebutkan keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina
2) siswa dapat menunjukkan sikap meneladani al-Ghazali dan Ibnu Sina
3) siswa dapat menceritakan kisah keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina
IV. Indikator Pencapaian
1) Menyebutkan keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina
2) Menunjukkan sikap meneladani al-Ghazali dan Ibnu Sina
3) Menceritakan kisah keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina
V. Materi Pokok
A. AL-GHAZALI
Al-Ghazali adalah seorang ulama besar Islam, beliau adalah seorang hujjatul Islam yang banyak menghafal hadis Nabi, beliau dikenal sebagai ahli filsafat dan tasawuf serta banyak mengarang kitab-kitab. Pemikiran-pemikirannya membawa pengaruh pada perubahan dunia. Mari kita mengenal sedikit tentang al-Ghazali.
1. Sejarah Singkat Al Ghazali
Al Ghazali memiliki nama asli Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Thusi. Ia lahir di kota Thusi pada tahun 450 H. Ayahnya seorang sufi yang sangat wara’ yang hanya makan dari penghasilan yang dihasilkan oleh jerih payahnya. Di dalam doanya ia senantiasa meminta kepada Allah Swt agar dikaruniai seorang anak yang pandai dan shaleh dan akhirnya Allah Swt mengabulkan do’a nya dan meuncullah al-Ghazali menjadi seorang ahli fikih.
Pendidikan awal Al-Ghazali di Thus lalu ia melanjutkan belajar ke Jurjan di bidang hukum kepada Abu Nasr al-Ismaili(1015-1085 M). Pada usia 20 tahun ia pergi ke Nisabur untuk mendalami ilmu fikih dan tauhid kepada al- Juwaini(1028-1085) yang kemudian menjadi asistennya. Selain belajar fikih dan tauhid. Ia juga melakukan praktek tasawuf dibimbing oleh Abu Ali al-Farmadzi (w. 1084) yang menjdi murid al-Imam al-Qusyairi (986-1072 M). Pada tahun 1091 M ia diundang oleh Nidzam al-Mulk (1063-1092 M) untuk menjadi guru besar di Nidzamiah, Baghdad Dari sinilah kemudian ia mulai dikenal dan memiliki posisi yang tinggi.
2. Keteladanan al-Ghazali
Al-Ghazali merupakan sosok yang sangat haus dengan ilmu pengetahuan. Berbagai ilmu pengetahuan ia pelajari seperti al-Quran, ushul fikih, ilmu kalam, filsafat, fikih dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Selain haus terhadap ilmu pengetahuan, ia juga haus untuk mendalami ruhani. Oleh karena itu ia meninggalkan kota Baghdad menuju Damaskus melakukan khalwat dan i’tikaf serta mengurung diri di menara masjid kota ini. Setelah itu ia pergi menuju bait al- Maqdis untuk meneruskan khalwatnya lalu dilanjutkan dengan menunaikan ibadah haji.
3.Karya-karya al-Ghazali
Al-Ghazali memiliki banyak karya yang sangat diperlukan oleh manusia di dunia ini. Karya-karyanya tidak saja dijadikan acuan ilmu pengetahuan oleh orang Islam saja tetapi para ilmuwan baratpun menggunakan karya al-Ghazali sebagai acuan keilmuwannya. Salah satu karya al-Ghazali yang paling terkenal adalah kitab ”Ihya Ulumuddin” yang banyak dijadikan rujukan umat Islam di seluruh dunia termasuk di Indonesia dalam hal mempelajari ilmu Tasawuf.
Karya al-Ghazali di bidang filsafat dan logika, adalah Mi’yar al-’ilmi (Standar Pengetahuan, Tahafut al-Falasifah (Kerancuan para filosof); dalam bidang akidah Arba’in fi Ushuluddin (Empat Puluh Masalah di Bidang Prinsip-Prinsip Agama), Qowaid al-’Aqa’id (Prinsip-Prinsip Keimanan), dan Al-Iqtishad fi al-I’tiqad (Muara Kepercayaan); di bidang Ushul Fikih al-Mustashfa fi ’ilm al- Ushul (Intisari ilmu tentang Dasar-Dasar Ilmu Fikih); dalam bidang tasawuf Misykat al-Anwar (Ceruk Cahaya-Cahaya).
Selain karya-karya di atas, masih banyak lagi karya-karya al-Ghazali dalam berbagai bidang. Banyaknya karya al-Ghazali menunjukkan luasnya ilmu yang dimiliki al-Ghazali, beliau adalah pakar Fikih yang menguasai Tasawwuf, Filsafat dan ilmu kalam.
4. Kisah Akhir al-Ghazali
Pada masa akhir sisa hidupnya, al-Ghazali mendirikan madrasah di sebelah rumahnya untuk para penuntut ilmu dan tempat khalwat para sufi. Seluruh waktunya ia gunakan untuk membaca dan mengkaji al-Qur’an, mempelajari hadis serta mengajar. Ia wafat pada tahun 505 H/1111 M di Thus dalam usia lima puluh lima tahun.
B. IBNU SINA
Ibnu Sina adalah seorang ahli filsafat, ilmuwan, dokter serta seorang penulis yang aktif pada jaman keemasan Islam. Pada jaman tersebut banyak ilmuwan yang menerjemahkan buku ilmu pengetahuan Yunani, Persia dan india. Ibnu Sina di barat dikenal dengan sebutan Avicenna. Berikut biografi Ibnu Sina:
1. Riwayat Singkat Ibnu Sina
Nama lengkapnya Abu Ali al Husayn ibn Abdullah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina. Ia lahir pada tahun 370 H/980 M di Efsyanah kawasan Bukhara (Uzbekistan sekarang). Ia dieknal sebagai seorang filosof muslim terbesar yang bergelar “Al- Syaikh Al-Ra’is”. Ia berasal dari keluarga Persia dan bermadhab Ismailiyah. Ayahnya adalah seorang gubernur pada masa kerajaan Samaniyah (819 M-1005 M).
Ia mulai mempelajari al-Qur’an sejak usia 5 tahun kepada ayahnya dan telah menghafalnya di usia 10 tahun. Di usia yang belia ini ia juga mempelajari ilmu akhlak dan bahasa. Setelah itu hari-harinya dihabiskan di perpustakaan.
Ia menyukai ilmu kedokteran dan metafisik sehingga di usia 16 tahun ia sudah menjadi seorang dokter. Setelah itu ia belajar filsafat kepada Abu Abdillaj al Natili yang diawali dengan ilmu mantik (logika).
2. Keteladanan Ibnu Sina
Ibnu Sina adalah seorang ilmuwan dan filosof besar. Ia sosok yang jenius dan memiliki daya nalar yang tinggi. Karena kejeniusannya ini ia banyak mempelajari sendiri berbagai macam ilmu pengetahuan dengan mudah. Selain jenius ia juga merupakan sosok yang gigih dan haus akan ilmu penegtahuan. Pernah suatu saat ia membaca buku metafisika karya Aristoteles sebanyak empat puluh kali sampai ia menghapalnya hanya saja ia tidak memahami. Meskipun demikian, ia tidak pernah berputus asa. Ia terus mencari buku apa yang dapat menjadi kunci untuk memahami buku Aristoteles tersebut, dan akhirnya ia pergi berjalan-jalan ke salah satu pasar loak khusus buku-buku filsafat dan menemukan buku karya al-Farabi sebagaikuncinya. Selain cerdas dan gigih ia juga merupakan sosok yang taat beribadah kepada Allah Swt, kreatif, tidak mengenal putus asa, tabah dan tekun dalam mempelajari ilmu pengetahuan.
Ibnu Sina juga dikenal sebagai seorang dokter yang handal. Ia dapat mengobati berbagai macam penyakit. Keahliannya di bidang kedokteran menjadi terkenal lagi ketika suatu hari ia dapat menyembuhkan penyakit Nuh ibn Manshur(387 H/ 997 M) seorang penguasa Bukhara.
3. Karya-karya Ibnu Sina
Ibnu Sina banyak memiliki karya tulis. Ada pendapat yang menyatakan bahwa karya tulisnya mencapai dua ratus buku. Sebagian pakar lainnya menyatakan bahwa karya tulisnya sekita seratusan Di antara karya-karya Ibnu Sina Kitab Al -Syifa (Obat) berupa ensklopedi filsafat; kitab Al-Qanun Fi al-Thib (Praktek Kedokteran) di bidang kedokteran; Kitab al-Najah (Keberhasilan) ringkasan dari al-Syifa dalam hal ketuhanan, logika dan ilmu alam serta karya-karya tulis lainnya.
4.Kisah Akhir Ibnu Sina
Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktifitas dan kerja keras sehingga suatu hari ia terkena penyakit maag akut yang sudah tidak dapat diobati lagi. Di hari-hari menjelang wafatnya ia selalu memakai pakaian putih, mensedekahkan hartanya kepada fakir miskin, memerdekakan budak serta giat beribadah kepada Allah Swt. Ia wafat pada tahun 428H/1037M di usia 58 tahun.
VI. Proses Pembelajaran
a. Persiapan
1) Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama.
2) Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran.
3) Guru memotivasi peserta didik dengan kegiatan yang ringan, seperti cerita motivasi.
4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
5) Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif tentang materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan materi keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina
6) Beberapa alternatif media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton (tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca) atau bisa juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya.
7) Metode yang digunakan adalah gallery work atau pameran berjalan.
b. Pelaksanaan
1) Guru meminta siswa untuk mengamati gambar yang ada di kolom “Mari mengamati”.
2) Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hasil pengamatannya tentang gambar tersebut.
3) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap hasil pencermatan pengamatan siswa.
4) Guru meminta kembali siswa untuk mengamati gambar yang ada yang ada di kolom “Mari Mengamati”.
5) Siswa mengemukakan pendapatnya tentang gambar tersebut.
6) Guru memberikan penjelaskan tambahan kembali dan penguatan yang dikemukakan siswa tentang isi gambar tersebut.
7) Siswa menyimak penjelasan guru atau mencermati gambar atau tayangan visual/film tentang keteladanan sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina, secara klasikal atau individual.
8) Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan keadaan kelas.
9) Guru memberikan kertas plano atau flip cart kepada masing-masing kelompok.
10) Guru menentukan tema atau topik pembahasan bagi masing-masing kelompok.
11) Siswa mendiskusikan tema atau topik yang sudah ditentukan
12) Siswa menempel hasil kerja kelompoknya di media tempel (dinding)
13) Masing-masing kelompok berputar mengamati hasil kerja kelompok lain
14) Salah satu wakil kelompok menjelaskan setiap apa yang ditanyakan oleh kelompok lain.
15) Guru dan siswa melakukan koreksi bersama-sama
16) Guru mengklarifikasi dan menyimpulkan materi pembelajaran.
17) Guru membimbing peserta didik untuk membaca kisah “kegigihan Ibnu Sina belajar filsafat”.
18) Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hikmah dari kisah “kegigihan IbnuSina belajar filsafat”.
19) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap kisah tersebut.
20) Guru dan siswa menyimpulkan intisari dari pelajaran tersebut sesuai yang terdapat dalam buku teks siswa pada kolom rangkuman.
21) Pada kolom “Ayo Berlatih”, guru:
a. meminta peserta didik untuk mengerjakan bagian pilihan ganda dan uraian.
b. membimbing peserta didik untuk mengamati dirinya sendiri tentang perilaku-perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani sifat al- Ghazali dan Ibnu Sina di lingkungannya (Kolom tugas).
c. Penutup
a. Penguatan materi : Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.
b. Mengadakan tanya jawab tentang akidah Islam
c. Guru merefleksi nilai-nialai mulai dalam materi akidah Islam.
d. Menutup pelajaran dengan membaca salam, kafaratul majlis dan membaca hamdalah.
VI I. Penilaian
Guru melakukan penilaian terhadap peserta didik dalam:
1) Kolom pilihan ganda dan uraian.
a) Pilihan ganda: jumlah jawaban benar x 1 (maksimal 10 x1 = 10).
b) Uraian :
Guru meminta siswa memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e, pada jawaban yang paling benar !
1. Imam al-Ghazali dilahirkan di kota :
a. Yerusalem b. Thus c. Taheran d. Cairo e. Palestina
2. Siapakah guru pertama al-Ghazali di bidang tauhid…
a. Al Juwaini c. Abu Hasan al ‘Asy’ari e. Qadhi Abdul Jabbar
b. Washil bin al Atha d. Ali al Juba’i
3. Ayah al-Ghazali adalah seorang tokoh…
a. hadis b. fikih c. ushul Fikih d. Tasawuf e. bahasa Arab
4. Apa yang dilakukan oleh al-Ghazali saat pindah dari Baghdad menuju Damaskus…
a. menuntut ilmu c. menjadi menteri e. berdebat dengan filosof
b. mencari nafkah d. melakukan I’tikaf
5. Karya al-Ghazali yang paling monumental…
a. Ihya Ulumuddin c. Tahafut al Falasifah e. Qowaid al-’Aqa’id
b. Mi’yar al ’ilmi d. Arba’in fi Ushuluddin
6. Ibnu Sina dilahirkan di kawasan…
a. Persia b. Bukhara c. Cairo d. Fes e. Khourtom
7. Di usia berapakah Ibnu Sina telah menghapal al Qur’an…
a. 7 tahun b. 9 tahun c. 10 tahun d. 16 tahun e. 17 tahun
8. Di usia 16 tahun Ibnu Sina sudah menjadi…
a. guru b. ulama c. filosof d. Psikiater e. dokter
9. Seorang penguasa Bukhara yang disembuhkan oleh Ibnu Sina bernama...
a. Jengis Khan c. Yazid bin Muawiyah
b. Nuh ibn Manshur d. Muhammad II
e. Musa bin Nushair
10.Karya Ibnu Sina yang berupa ensklopedi di bidang kedokteran.
a. Kitab al-Najah c. Al-Syifa
b. Al-Qanun Fi al-Thib d. Al-Dawa’
e. Al-Da’
Catatan: Skor tiap item soal yang benar 10
2. Uraian Singkat (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub a)
Catatan: Skor jawaban benar tiap soal 2
3. Essay (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub b)
Catatan: Skor jawaban benar tiap item soal 2
4. Portofolio dan Penilaian Sikap (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub c)
Catatan:
Skor penilaian sebagai berikut:
a. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya tepat pada waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 100.
b. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90.
c. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80.
VIII.Pengayaan
Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan yang telah disiapkan oleh guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan menelaani keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina. (Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan).
IX. Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi tentang “Meneladani keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu sina”. Guru akan melakukan penilaian kembali (lihat point 7) dengan soal yang sejenis. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan contoh: pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu, atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah jam pelajaran selesai).
X. Interaksi Guru Dengan Orang Tua
Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Ayo Berlatih” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan mengunakan buku penghubung kepada orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung baik langsung, maupun memalui telepon, tentang perkembangan perilaku anaknya.
Mengetahui
Kepala MAN
( HAJARUDDIN, S.Ag.M.pd )
NIP.19741224 200710 1 001
Nama kota , 2017
Guru Mapel Aqidah akhlak
( DIANA SULAISIH, S.Ag.M.pd )
NIP.19740625 199905 2 001
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P ) KURIKULUM 2013
Satuan Pendidikan
:
MAN
Mata Pelajaran
:
Aqidah Akhlak
Tema / Subtema
:
Akhlak Tercela
Kelas / Semester
:
XII (Dua Belas) / 1
Materi Pokok
:
Menghindari Akhlak Tercela
Alokasi Waktu
:
2 x 45 Menit
KI.I Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI.2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI.3 Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4 Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
II. Kompetensi Dasar (KD)
1.3 Menghayati dampak negatif dari perilaku nifaq dan keras hati (pemarah).
2.3 Menghindari nilai-nilai negatif akibat perilaku nifaq dan keras hati (pemarah).
3.3 Memahami pengertian nifaq dan keras hati (pemarah).
4.3 Memaparkan dampak negatif dari perilaku nifaq dan keras hati (pemarah).
III. Tujuan Pembelajaran
Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mengkomunikasikan diharapkan:
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian nifaq dan keras hati ( pemarah )
2. Siswa dapat menjelaskan bentuk dan contoh-contoh perilaku nifaq dan keras hati (pemarah)
3. Siswa dapat menghindari hal-hal yang mengarah pada perilaku nifaq dan keras hati (pemarah)
4. Siswa dapat menyebutkan dampak negatif perilaku nifaq dan keras hati (pemarah)
IV. Indikator Pencapaian
1. Menjelaskan pengertian nifaq dan keras hati (pemarah)
2. Menjelaskan bentuk dan contoh-contoh perilaku nifaq dan keras hati (pemarah)
3. Menghindari hal-hal yang mengarah pada perilaku nifaq dan keras hati (pemarah )
4. Menyebutkan dampak negatif perilaku nifaq dan keras hati (pemarah)
V. Materi Pokok
NIFAQ
Pengertian Nifaq
Nifaq berasal dari kata nafiqa yang berarti lubang tempat keluarnya hewan sejenis tikus dari sarangnya. Ada yang berpendapat ia berasal dari kata nafaq yaitu lobang tempat bersembunyi. Nifaq secara bahasa berarti ketidaksamaan antara lahir dan batin. Nifaq menurut syara (terminologi) berarti menampakkan keislaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Pelakunya dinamakan munafik. Pada satu sisi pelakunya dapat berarti manusia biasa yang secara lahiriah memperkenalkan dirinya sebagai seorang muslim dan mengaku beriman, tapi secara batin ia adalah seorang kafir dan tidak memiliki keyakinan seperti apa yang diucapkannya
Macam-macam Perilaku Nifaq
Nifaq Akbar
Nifaq akbar atau nifaq besar ini adalah ketika seseorang menampakkan keimanannya kepada Allah Swt, para malaikat, kitab suci, rasul dan akhir, tetapi sebenarnya ia tidak percaya dan menolak keseluruhan hal tersebut.
Nifaq Ashgar
Nifak ashgar atau nifaq kecil berarti manakala seseorang menampakkan secara jelas segala amal-amal yang baik (tidak termasuk di atas) hanya saja sesungguhnya ia tidak seperti itu, bahkan bertolak belakang.
Tanda-tanda Pelaku Perilaku Nifaq
Bila Berbicara Berdusta
Dalam ajaran Islam, perbuatan dusta atau berbohong sangat tercela . Janganlah mudah berkata dusta walau dalam hal-hal kecil karena berbohong dapat mengurangi kepercayaan orang kepada kita.
Bila berjanji tidak menepati
Ketika seseorang berjanji, maka setidaknya ada dua pilihan yang ia lakukan: Pertama, seseorang berjanji padahal sesungguhnya ia tidak ingin menepatinya. Kedua, melakukan peerjanjian tetapi kemudian timbul suatu hal tertentu, lalu ia mengingkari janjinya tersebut tanpa alasan.
Bila Mengikat perjanjian, membatalkannya
Membatalkan perjanjian di dalam Islam haram hukumnya, baik perjanjian tersebut dilaksanakan kepada orang Islam atau non muslim. Apabila ia tidak dilaksanakan, maka ia akan mendapatkan dosa besar. Perjanjian umat islam dapat seperti perjanjian jual beli dan pernikahan serta hal lainnya.
Bila Berseteru ia berbuat dosa
Makna berbuat dosa di sini adalah keluar dari kebenaran secara sengaja sehingga kebenaran ini menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Pemutarbalikkan fakta tersebut terjadi pada diri seseorang semata-mata timbul karena kebohongan yang selama ini dilakukan.
Bila diberi amanat, ia khianati
Khianat adalah mengingkari tanggung jawab, berbuat tidak setia atau melanggar amanah yang sudah dibuat. Secara umum, khianat artinya mengingkari tanggung jawab yang telah dipercayakan, baik daang dari Allah maupun dari orang lain. Apabila seseorang diberi amanah, maka ia wajib melaksanakannya.
3. Akibat Buruk Sifat Nifaq
Bagi diri sendiri
Tercela dalam pandangan Allah SWT.
Hilangnya kepercayaan dari orang lain atas dirinya.
Tidak disenangi dalamj pergaulan hidup sehari-hari.
Bisa mempersempit jalan untuk memperoleh Rejeki.
Mendapat siksa yang amat pedih kelak di hari akhir
Bagi orang lain
Menimbulkan kekecewaan hati sehingga dapat merusak hubungan persahabatan yang terjalin dengan baik.
Membuka peluang munculnya fitnah.
Mencemarkan nama baik keluarga dan masyarakat.
KERAS HATI
Pengertian Keras Hati
Ghadab secara etimologi berarti marah. Marah dalam pengertian ghadabbersifat negatif. Dalam kamus bahasa Indonesia marah berarti merasa atau perasaan tidak senang dan panas karena dihina atau diperlakukan kurang baik dan lain sebagainya
Dengan istilah lain, ghadab (marah) yaitu merasa tidak senang dan panas hati karena suatu sebab, seperti dihina . Marah secara umum mengakibatkan terganggunya aktualisasi diri di dalam kehidupan kita atau marah merupakan penyakit jiwa yang ada di dalam diri manusia.
Macam-macam daya marah
Tidak memiliki daya marah atau lemah Kurang baik ketika seseorang tidak dapat marah atau memiliki tingkat kemarahan yang lemah. Dengan tingkat daya marah yang lemah seseorang akan memiliki harga diri yang rendah dan hina yang berdampak pada tidak melakukan tindakan apa-apa atau hanya diam terhadap hal-hal yang haram atau hal-hal yang bersifat munkar.
Daya marah yang berlebihan adalah daya marah yang keluar dari diri seseorang sehingga seseorang keluar dari kontrol akal dan agama. Saat seseorang marah seperti ini, maka nurani dan daya pikir warasnya sudah hilang.
Daya marah sedang adalah daya marah yang muncul yang masih berada di dalam kontrol akal dan agama. Daya marah sedang adalah daya marah yang muncul ketika memang harus muncul dan redup ketika memang harus tidak marah atau mengedepankan sabar.
Mengobati Perilaku Keras Hati
Mengingat keutamaan menahan amarah
Menahan amarah memiliki kedudukan, manfaat, dan keutamaan yang tinggi. mewasiatkan kepadanya untuk jangan marah. Hal itu diulangi beberapa kali, menunjukkan pentingnya wasiat tersebut.
Takut akan siksa Allah
Untuk bisa meredam emosi seseorang harus takut pada azab dari Allah Swt apabila ia meneruskan emosinya. Seseorang harus yakin bahwa tidak mungkin ia akan selamat dari siksa neraka apabila ia tidak mempersiapkan diri dari sekarang.
Dampak dari azab Allah Swt
Untuk bisa meredam emosi seseorang harus takut pada azab dari Allah Swt apabila ia meneruskan emosinya. Seseorang harus yakin bahwa tidak mungkin ia akan selamat dari siksa neraka apabila ia tidak mempersiapkan diri dari sekarang..
Wajah buruk orang yang marah
Dalam Islam orang yang kuat bukanlah orang yang memiliki postur tubuh kuat dan kekar, melainkan orang yang mampu melawan dan mengekang hawa nafsunya ketika marah.
VI. Proses Pembelajaran
Persiapan
Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama.
Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran.
Guru menyapa peserta didik dengan komunikatif.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif materi sebelumnya dan mengaitkan dengan materi akhlak tercela (nifaq dan keras hati).
Media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton (tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca), atau dapat juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya. Salah satu model pengajaran yang digunakan dalam kompetensi ini di antaranya adalah belajar melalui tukar delegasi antar kelompok (Jigsaw Learning).
Pelaksanaan
Guru meminta siswa untuk mengamati perilaku nifaq dan keras hati.
Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hasil pencermatannya terhadap perilaku nifaq
dan keras hati.
Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap hasil pengamatannya terhadap perilaku nifaq dan keras hati.
Guru meminta siswa untuk mengamati gambar yang ada yang ada di kolom “marimengamati”.
Siswa mengemukakan pendapatnya tentang gambar tersebut.
Guru memberikan penjelaskan tambahan kembali dan penguatan yang dikemukakan siswa tentang isi gambar tersebut.
Siswa menyimak penjelasan guru atau mengamati gambar atau tayangan visual/film tentang contoh sikap nifaq dan keras hati secara klasikal atau individual.
Peserta didik dikelompok dan diberikan tugas untuk berdiskusi sesuai dengan tema yang telah ditentukan. (Bila memungkinkan guru disarankan untuk membentuk kelompok melalui game).
Setiap kelompok mendapat tugas membaca, memahami dan mendiskusikan serta membuat ringkasan materi pembelajaran yang ada.
Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan materi yang telah mereka pelajari dalam kelompoknya.
Guru mengembalikan suasana kelas seperti semula
Guru menanyakan kepada siswa apabila ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan di dalam kelompok.
Guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari
Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.
Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap kisah rasulullah Saw dan marah yang membawa berkah.
Guru dan peserta didik menyimpulkan intisari pelajaran tersebut sesuai dengan yang terdapat dalam buku teks siswa pada kolom rangkuman.
Pada kolom “Ayo Berlatih”, guru:
Membimbing peserta didik untuk membuat contoh perilaku akhlak tercela.
Meminta peserta didik untuk mengerjakan bagian pilihan ganda dan uraian.
Membimbing peserta didik untuk mengamati dirinya sendiri tentang perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani sifat tersebut di lingkungannya (kolom tugas).
Penutup
Penguatan materi : Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.
Mengadakan tanya jawab tentang akidah Islam.
Guru merefleksi nilai-nialai mulai dalam materi akidah Islam.
Menutup pelajaran dengan membaca salam, kafaratul majlis dan membaca hamdalah.
VII. Penilaian
Guru melakukan penilaian terhadap peserta didik dalam:
Kolom pilihan ganda dan uraian.
Skor penilaian sebagai berikut:
Pilihan ganda : jumlah jawaban benar x 1 (maksimal 10 x1 = 10).
Siswa diminta untuk memilih jawaban yang paling benar, pada soal dibawah ini.
Nifaq secara bahasa (etimologi) berarti lubang tempat keluarnya….
a. tikus d. kelelawar
b. semut e. burung
c. belalang
Melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafik, tetapi masih tetap memiliki iman di dalam hati merupakan pengertian dari….
a. nifaq d. nifaq ‘ilmi
b. nifaq akbar e. nifaq gairu syar’i
c. nifaq asghar
Membuka peluang munculnya fitnah karena ucapan dan perbuatannya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan merupakan akibat buruk dari pelaku perbuatan….
a. nifaq d. ingkar janji
b. dusta e. sombong
c. khianat
Orang yang dijanjikan oleh al-Qur’an dalam surat al-Taubah ayat 47 akan beradam di neraka paling bawah adalah….
a. fasik d. musyrik
b. kharismatik e. munafik
c. fanatik
Sesuai dengan pesan al-Qur’an dalam surat al-Hujurat apabila terdapat berita yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, maka hal yang dilakukan:
a. tabayun d. menyimpannya
b.diamkan e. menolaknya
c.menerimanya
Kata ghadab secara etimologi berarti....
a. marah d. keras kepala
b. tidak sabar e. naik pitam
c. emosional
Menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran adalah defenisi….
a. nifaq d. riya
b. kufur e. takabur
Marah adalah lawan kata dari….
a. ikhlas d. takwa
b. syukur e. ridha
c. jihad
Akibat yang dialami bagi orang yang tidak memiliki daya marah….
a. pendiam d. memiliki harga diri yang hina
b. memiliki kesabaran e. memiliki kewibawaan
c. disenangi oleh teman-temannya
10.Daya marah yang berlebihan akan berakibat pada….
a. nampak kekuatannya d. memiliki wibawa yang tinggi
b. terlihat kejantanannya e. hati nurani dan pikiran warasnya hilang
c. menjadi lebih pede
Catatan: Skor tiap item soal yang benar 10
2. Uraian Singkat (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub a)
Catatan: Skor jawaban benar tiap soal 2
3. Essay (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub b)
Catatan: Skor jawaban benar tiap item soal 2
4. Portofolio dan Penilaian Sikap (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub c)
Catatan:
Skor penilaian sebagai berikut:
Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya tepat pada waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 100.
Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90.
Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80.
VIII. Pengayaan
Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan yang telah disiapkan oleh guru berupa pertanyaan-pertanyaan tentang materi nifaq danghadab.
(Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan).
IX. Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi tentang nifaq dan ghadab. Guru akan melakukan penilaian kembali (lihat poin 7) dengan soal yang sejenis. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan dengan contoh yaitu, pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah jam pelajaran selesai).
X. Interaksi Guru Dengan Orang Tua
Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Ayo Berlatih” dalam buku teks kepada para orang tua dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan menggunakan buku penghubung kepada para orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung, baik langsung, maupun melalui telepon tentang perkembangan perilaku anaknya.
Mengetahui
Kepala MAN
( HAJARUDDIN, S.Ag.M.pd )
NIP.19741224 200710 1 001
Nama kota , 2017
Guru Mapel Aqidah akhlak
( DIANA SULAISIH, S.Ag.M.pd)
NIP.19740625 199905 2 001
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P ) KURIKULUM 2013
Satuan Pendidikan
:
MAN 2 Pangandaran
Mata Pelajaran
:
Aqidah akhlak
Tema / Subtema
:
Adab pergaulan dala islam
Kelas / Semester
:
XII (Dua Belas) / 1
Materi Pokok
:
adab bergaul pada teman sebaya dan orang tua
Alokasi Waktu
:
2 x 45 Menit
I. Kompetensi Inti (KI)
KI.I Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI.2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI.3 Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4 Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
II. Kompetensi Dasar (KD)
2.4 Terbiasa beradab yang baik dalam bergaul dengan orang yang sebaya, yang lebih tua,
yang lebih muda dan lawan jenis.
3.4 Mengetahui adab bergaul dengan orang yang sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda
dan lawan jenis.
4.4 Mempraktekkan adab bergaul dengan orang yang sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda
dan lawan jenis .
III. Tujuan Pembelajaran
Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mengomunikasikan diharapkan:
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian teman sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda dan
lawan jenis
2. Siswa dapat menjelaskan adab bergaul dengan teman sebaya, yang lebih tua, yang lebih
muda dan lawan jenis.
3. Siswa dapat menjelaskan larangan dalam bergaul dengan teman sebaya,yang lebih tua,
yang lebih muda dan lawan jenis.
4. Siswa dapat mempraktikkan adab pergaulan dengan teman sebaya, yang lebih tua, yang
lebih muda dan lawan jenis
IV. Indikator Pencapaian
1. Menjelaskan pengertian teman sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda dan lawan jenis
2. Menjelaskan adab bergaul dengan teman sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda dan
lawan jenis.
3. Menjelaskan larangan dalam bergaul dengan teman sebaya,yang lebih tua, yang lebih muda
dan lawan jenis.
4. Mempraktekkan adab pergaulan dengan teman sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda
dan lawan jenis.
V. Materi Pokok
A. ADAB BERGAUL DENGAN TEMAN SEBAYA
1. Pengertian Bergaul Dengan Teman Sebaya
Dalam bahasa Arab bergaul diartikan dengan shuhbah yang diambil dari kata shahiba yang berarti pertemanan. Dalam bahasa Indonesia bergaul berarti campur. Sementara teman sebaya dalam kamus besar bahasa Indonesia teman sebaya diartikan sebagai kawan, sahabat atau orang yang usia hampir sama.
Dengan demikian yang dimaksud dengan bergaul sesama teman sebaya adalah pertemanan seorang individu dengan individu lainnya (anak-anak, usia remaja atau dewasa) yang tingkat usianya hampir sejajar.
2. Cara Mencari Teman Sebaya Yang Baik Menurut Islam
Dalam hadis dari Abu Hurairah rasulullah Saw bersabda:
“Seseorang bergantung pada agama temannya, perhatikan siapa yang dijadikan teman”.
(HR. Ahmad)
Berdasarkan hadis di atas menjadi jelas bahwa seseorang perlu mencari teman sebaya yang baik yang akan bergaul dengannya. Secara umum seseorang hendaklah mencari teman yang cerdas, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik dan tidak semata-mata rakus terhadap kehidupan duniawi.
3. Adab bergaul dengan teman sebaya
Adab bergaul dengan teman sebaya bisa dilakukan dengan saling menghormati, tolong-menolong, cinta dan kasih sayang, saling menasehati,
4. Larangan dalam bergaul dengan teman sebaya
Dalam adab bergaul dengan teman sebaya terdapat larangan-larangan di antaranya: bermusuhan, pergaulan bebas, melanggar norma-norma agama seperti berzina, melakukan minuman keras, mengkonsumsi narkoba.
B. ADAB BERGAUL DENGAN ORANG YANG LEBIH TUA
1. Pengertian orang yang lebih tua
Islam telah menganjurkan pemeluknya untuk menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi sosok yang lebih muda. Dalam kamus bahasa Indonesia orang yang lebih tua yaitu orang yang dipandang tua atau berpengalaman seperti orang tua, para pemimpin dan para penasihat
2. Tata cara bergaul dengan orang yang lebih tua
Dalam bergaul dengan orang yang lebih tua hendaknya seseorang melakukannya dengan sopan santun, berkata santun, menolak dengan halus perintah yang buruk, menghormati dengan ikhlas, mendahulukan orang yang lebih tua dalam hal duniawi,
3. Larangan bergaul dengan orang lebih tua
Dalam bergaul dengan orang yang lebih tua seseorang dianjurkan untuk tidak melawan atau berbuat durhaka, berbuat arogan,
C. ADAB BERGAUL TERHADAP ORANG YANG LEBIH MUDA
1. Pengertian orang lebih muda
Pemuda dalam bahaa Arab disebut dengan syabab atau fata. Hal tersebut dapat dijumpai di dalam al-Qur’an dan hadits nabi. Sementara dalam bahasa Indonesia pemuda berarti orang yang belum sampai setengah umur dan merupakan lawan kata dari tua. Orang yang lebih muda yang dimaksud di sini adalah anak kecil atau remaja dan para pemuda.
2. Tata cara bergaul dengan orang lebih muda
Bergaul dengan orang yang lebih muda dilakukan dengan memebri nasehat dengan bijak, mempererat persaudaraan, member perhatian dan kasih sayang, memberi teladan yang baik, melakukan pembinaan yang baik, memberikan penghargaan ketika berprestasi
3. Larangan dalam bergaul dengan orang lebih muda
Seseorang ketika bergaul dengan sosok yang lebih muda hendaknya tidak meminta penghormatan yang berlebihan, antipati terhadap mereka, tidak memahami aktifitas mereka,
D. ADAB BERGAUL DENGAN LAWAN JENIS
1. Pengertian lawan jenis
Islam adalah agama yang mengatur tata kehidupan manusia. Islam sesungguhnya tidak melarang bergaul dengan siapapun termasuk pergaulan dengan lawan jenis. Lawan jenis berarti lawan dari jenis kelamin. Apabila laki-laki, maka lawannya perempuan dan begitu pula sebaliknya. Laki-laki dan perempuan merupakan makhluk Allah yang telah diciptakan untuk berpasang-pasangan sehingga merupakan suatu keniscayaan dan sangat wajar, jika terjadi pergaulan di antara mereka
2. Tata cara bergaul dengan lawan jenis
Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam pergaulan, maka dalam melakukan pergaulan dengan lawan jenis harus diperhatikan yaitu berteman karena Allah Swt, menutup aurat, menjaga kemaluan, menundukkan pandangan, saling bertanggungjawab,
3. Larangan dalam bergaul dengan lawan jenis
Untuk menjaga pergaulan dengan lawan jenis hendaklah menghindari hal-hal berikut yaitu: tidak berkhalwat, melakukanikhtalath dengan lawan jenis, bersolek berlebihan.
VI. Proses Pembelajaran
a. Persiapan
1) Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama.
2) Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan
kegiatan pembelajaran.
3) Guru membangkitkan semangat peserta didik dengan melakukan kegiatan ringan, seperti
senam otak atau membaca shalawat.
4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
5) Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif materi sebelumnya dan mengaitkan
dengan materi adab pergaulan.
6) Guru dapat memakai beberapa alternatif media/alat peraga/alat bantu, dapat berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton (tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca), atau dapat juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya.
7) Guru boleh menggunakan metode everyone is a teacher here. Tujuan penerapan strategi ini adalah membiasakan siswa belajar aktif secara individu dan membudayakan siswa berani bertanya, tidak minder dan tidak takut salah. Metode ini dikolaborasi dengan metode diskusi.
b. Pelaksanaan
1 Guru meminta siswa untuk mengamati perilaku hidup dengan adab pergaulan dalam
kehidupan sehari-hari yang ada di lingkungannya.
2) Guru meminta siswa mengamati gambar pada kolom mari mengamati
3) Siswa mengamati gambar pada kolom mari mengamati.
4) Siswa mengemukakan isi gambar tersebut.
5) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan yang dikemukakan siswa tentang
isi gambar tersebut.
6) Peserta didik menyimak penjelasan guru atau mencermati gambar atau tayangan
visual/film tentang ketentuan bersuci dari hadas kecil dan hadas besar, secara klasikal atau
individual.
7) Guru membagikan kertas kepada setiap siswa dan mintalah mereka untuk menuliskan
sebuah pertanyaan tentang materi pokok yang telah atau sedang mereka pelajari, atau topik
khusus yang ingin mereka diskusikan dalam kelas.
8) Siswa mengumpulkan kertas-ketas tersebut, guru mengocoknya dan membagikan kembali
secara acak kepada siswa, usahakan pertanyaan tidak kembali kepada yag membuatnya.
9) Guru meminta siswa membaca dan memahami pertanyaan di kertas masingmasing dan
memikirkan jawabannya.
10) Guru mengundang sukarelawan (volunter) untuk membacakan pertanyaan yang ada di
tangannya (untuk menciptakan budaya bertanya, diupayakan guru memotivasi siswa
untuk mengangkat tangan bagi yang siap membaca-tanpa langsung menunjuknya).
11) Guru meminta siswa yang lain untuk memberikan respon (jawaban/penjelas) atas
pertanyaan atau permasalahan tersebut, kemudian mintalah pada siswa yang lain untuk
memberi pendapat atau melengkapi jawabannya.
12) Guru memberikan apresiasi atau pujian terhadap setiap jawaban atau tanggapan siswa
agar siswa termotivasi dan tidak takut salah
13) Guru mengembangkan diskusi secara lebih lanjut dengan cara siswa bergantian
membacakan pertanyaan di tangan masing-masing sesuai dengan waktu yang tersedia.
14) Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.
15) Guru membimbing peserta didik untuk membaca kisah “hikmah pergaulan lawan jenis
dari Barseso”.
16) Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hikmah dari kisah “hikmah pergaulan lawan
jenis dari Barseso”.
17) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap kisah tersebut.
18) Guru dan siswa menyimpulkan intisari dari pelajaran tersebut sesuai yang terdapat dalam
buku teks siswa pada kolom rangkuman.
19) Pada kolom “Ayo Berlatih”, guru
a. meminta siswa untuk mengerjakan bagian pilihan ganda dan uraian.
b. membimbing siswa untuk mengamati dirinya sendiri tentang pe- rilakuperilaku yang
mencerminkan orang yang bergaul dengan menggunakan adab pergaulan di
lingkungannya (Kolom tugas).
c. Penutup
a. Penguatan materi :
Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.
b. Mengadakan tanya jawab tentang akidah Islam
c. Guru merefleksi nilai-nialai mulai dalam materi akidah Islam.
d. Menutup pelajaran dengan membaca salam, kafaratul majlis dan membaca hamdalah.
VII. Penilaian
Guru melakukan penilaian terhadap peserta didik dalam kegiatan sebagai berikut:
1. Kolom pilihan ganda dan uraian.
Skor penilaian sebagai berikut.
a) Pilihan ganda: jumlah jawaban benar x 1 (maksimal 10 x1 = 10)
Guru meminta siswa memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e, pada jawaban
yang paling benar !
1. Hubungan individu pada anak-anak atau remaja dengan tingkat usia yang sama dinamakan hubungan….
a. kawan d. teman sebaya
b. sahabat e. teman akrab
c. teman lama
2. Islam melarang ikhtilath dalam pergaulan teman sebaya. Pengertian Ikhtilath adalah
pembauran….
a. sesama teman laki-laki d. antara laki-laki dengan perempuan
b. sesama teman perempuan e. antara teman sebaya
c. antara orang yang muda dengan yang lebih tua
3. Ketika ada teman yang berselisih, bertengkar atau melakukan perbuatan yang tidak baik terhadap teman-teman yang lain, maka kita wajib mendamaikannya. Pernyataan tersebut merupakan tata cara pergaulan teman sebaya pada aspek saling….
a. mengasihi dan melindungi d. menghormati dan toleran
b. menasehati e. bekerja sama dan tolong menolong
c. berpesan kebaikan
4. Dalam hadis dikatakan:“Seseorang bergantung pada agama temannya, perhatikan siapa
yang dijadikan teman”. Prinsip ini paling tepat diterapkan pada ….
a. pergaulan d. bermasyarakat
b. bisnis e. hubungan suami istri
c. hubungan keluarga
5. Kebiasaan negatif seperti pacaran yang berlebihan karena ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu . Perilaku ini bisa terjadi karena…
a. permusuhan d. melanggar tata tertib lalulintas
b. pergaulan bebas e. mengkonsumsi narkoba
c. melanggar aturan Negara
6. Perilaku berkendaraan dengan tidak menggunakan helm, berboncengan lebih dari seorang, dan mengurangi kelengkapan kendaraan. Perilaku tersebut merupakan sikap melanggar….
a. aturan keluarga d. tata tertib lalulintas
b. kewajiban agama e. aturan kesehatan
c. norma masyarakat
7. Pemuda berarti orang yang belum sampai setengah umur. Pengertian tersebut berdasarkan kamus bahasa …
a. bahasa Indonesia d. Jawa
b. Melayu e. Inggris
c. Sangsekerta
8. Salah satu sikap santun kepada orang yang lebih tua adalah….
a. membantu pekerjaannya d. menolongnya
b. kerja bakti bersama masyarakat e. berkata dengan sopan
c. menjalankan perintah kebaikan
9. Bapak dan ibu guru telah mengajarkan tentang banyak hal sehingga seorang siswa menjadi mengerti banyak hal dalam kehidupan ini. Pernyataan tersebut merupakan sikap baik terhadap orang yang lebih tua, yakni….
a. menolak dengan halus perintah yang baik d. berpura-pura tidak mengetahui
b. pura-pura memberi Penghormatan e. Bersikap arogan
c. memuliakan tokoh masyarakat
10. Seorang pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak dalam fikiran maupun jiwa, yang tak jarang menyebabkan hidupnya terguncang. Sikap orang yang lebih tua adalah….
a. memarahinya
b. tidak mengikutsertakan dalam kegiatan
c. membiarkannya mencari jati dirinya sendiri
d. membina, membimbing dan memberi kesempatan untuk berdedikasi
e. melaporkannya pada teman sebayanya.
Catatan: Skor tiap item soal yang benar 10
2. Uraian Singkat (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub a)
Catatan: Skor jawaban benar tiap soal 2
3. Essay (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub b)
Catatan: Skor jawaban benar tiap item soal 2
4. Portofolio dan Penilaian Sikap (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub c)
Catatan: Skor penilaian sebagai berikut:
a. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya tepat pada waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 100.
b. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90.
c. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80.
VIII. Pengayaan
Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan yang telah disiapkan oleh guru berupa materi adab pergaulan. (Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan).
IX. Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi tentang adab pergaulan. Guru akan melakukan penilaian kembali (lihat point 7) dengan soal yang sejenis. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan. Contoh pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah jam pelajaran selesai).
X. Interaksi Guru Dengan Orang Tua
Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Ayo Berlatih” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan mengunakan buku penghubung kepada orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi, baik langsung, maupun memalui telepon, tentang perkembangan perilaku anaknya.
Mengetahui
Kepala MAN
( HAJARUDDIN, S.Ag.M.pd )
NIP.19741224 200710 1 001
Nama kota , 2017
Guru Mapel Aqidah akhlak
( DIANA SULAISIH, S.Ag.M.pd)
NIP.19740625 199905 2 001
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
( R P P ) Kurikulum 2013
Satuan Pendidikan
:
MAN
Mata Pelajaran
:
Aqidah Akhlak
Tema / Subtema
:
Akhlak Terpuji
Kelas / Semester
:
XII (Dua Belas) / 1
Materi Pokok
:
Membiasakan Akhlak Terpuji
Alokasi Waktu
:
4 x 45 Menit
KI.I Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI.2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI.3 Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4 Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
II. Kompetensi Dasar (KD)
1.2 Menghayati nilai-nilai positif dari amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
2.2 Terbiasa berperilaku amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah dalam kehidupan Sehari-hari
3.2 Memahami pengertian dan pentingnya mal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
4.2 Menyajikan pengertian dan pentingnya amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
III. Tujuan Pembelajaran
Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mengomunikasikan, diharapkan :
1) Siswa dapat menjelaskan pengertian amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
2) Siswa dapat menyebutkan cirri-ciri orang yang beramal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
3) Siswa dapat membiasakan berperilaku amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
4) Siswa dapat menyebutkan pentingnya beramal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari
IV. Indikator Pencapaian
1. Menjelaskan pengertian amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah.
2. Menyebutkan cirri-ciri orang yang beramal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
3. Membiasakan berperilaku amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
4. Menyebutkan pentingnya beramal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah dalam kehidupan ssehari-hari
V. Materi Pokok
A. AMAL SALEH
1. Pengertian Amal Saleh
Amal soleh menurut bahasa diartikan sebagai perbuatan baik yang mendatangkan pahala, atau sesuatu yang dilakukan dengan tujuan berbuat baik terhadap masyarakat atau sesama manusia.
Secara istilah amal saleh adalah perbuatan bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah atau menunaikan kewajiban agama yang dilakukan dalam bentuk berbuat kebaikan terhadap masyarakat atau sesama manusia. Amal soleh adalah setiap pekerjaan yang baik, bermanfaat dan patut dikerjakan, baik pekerjaan yang bersifat ‘ubudiyah (seperti; shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain) atau pekerjaan yang bersifat sosial (seperti; menolong orang lain, menyantuni anak yatim, peduli pada sesama dan lain-lain)
2. Membiasakan Beramal saleh dalam Kehidupan sehari-hari
Membiasakan beramal saleh dalam arti luas, bagi umat Islam adalah suatu kewajiban.Karena nilai baik atau tidaknya seseorang ditentukan oleh amal perbuatannya. Suatu kaum mengalami kemajuan atau kehancuranpun disebabkan karena perilaku baik atau tidak bangsanya.
Dasar hukum yang menunjukkan tentang pentingnya amal soleh adalah firman Allah :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalamkeadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yangbaik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang
lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 97)
Membiasakan beramal soleh dalam kehidupan sehari-hari adalah suatu keniscayaan. Oleh karena itu kita harus mengetahui prinsip-prinsip amal saleh antara lain :
a. Mengetahui ilmunya
Dalam ajaran agama Islam orang yang melaksanakan shalat dan agar shalatnya diterima, maka ia harus mengerti ilmu tentang shalat dan demikian pula pada ibadah-ibadah yang lainnya.
b. Niat yang baik
Niat di dalam beribadah sangat penting. Setidaknya terdapat dua fungsi niat apabila dihubungkan kepada ibadah, yaitu: Membedakan ibadah dengan kebiasaan dan membedakan satu ibadah dengan ibadah yang lain.
c. Sabar saat melaksanakan ibadah
Sabar bukan hanya diperlukan bagi orang yang mendapatkan musibah, tetapi sabar juga diperlukan bagi orang yang melaksanakan perbuatan taat. Saat seseorang bangun malam melaksanakan shalat sunnah tahajud, maka untuk dapat melaksanakan shalat tahajud tersebut seseorang harus bersabar
d. Ikhlas setelah melaksanakan
Ikhlas dalam beramal saleh berarti menyerahkan segala sesuatu yang kita laksanakan semata- mata karena Allah Swt.
B. TOLERANSI
1. Pengertian Toleransi
Kata toleransi berasal dari bahasa latin tolerare yang berarti berusaha untuk tetap bertahan hidup, tinggal atau berinteraksi dengan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai atau disenangi. Dalam kamus bahasa Indonesia toleransi berarti kelapangan dada dalam arti suka rukun kepada siapapun, membiarkan orang berpendapat atau berpendirian lain
2. Toleransi Menurut al-Qur’an dan al-Sunnah
Toleransi dalam al-Qur’an dan al- Sunnah diterangkan sebagai berikut:Dalam al-Qur’an yaitu firman Allah Swt dalam surat al-Mumtahanah di mana ungkapan ““Allah tidak melarang kamu” memberikan isyarat bahwa Islam menolak orang yang berasumsi bahwa tidak boleh berbuat baik terhadap non muslim.
Adapun berdasarkan hadits, maka hal tersebut sudah diterapkan oleh rasulullah Saw saat hijrah ke kota Madinah di mana ia menjumpai orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin lainnya sebagai penduduk pribumi.
3. Toleransi Sepanjang Sejarah
Sikap rasulullah Saw dalam hal bertoleransi diikuti oleh para sahabat yang lain. Sayyidina Umar pernah membuat perjanjian Aelia, perjanjian Yerusalem. Saat itu Yerusalem yang sudah menjadi bagian dari wilayah umat Islam menjamin kemerdekaan beragama bagi penduduknya. Bahkan sat itu Umar mwajibkan orang Yahudi untuk menetap di kota tersebut. Amr bin Ash saat masuk ke wilayah Mesir disambut dengan antusias oleh masyarakatnya khususnya yang beragama Kristen koptik. Demikian pula denagn kekuasan Islam di Spanyol selama 800 tahun.
4. Membiasakan Perilaku Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari
Memiliki sikap toleransi adalah suatu keharusan dalam Islam, Islam sendiri mengandung pengertian agama yang damai, selamat dan menyerahkan diri. Islam adalah rahmatal lil ‘alamiin (agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam). Islam selalu menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati dan tanpa paksaan.
5. Ciri-ciri Orang yang berperilaku Toleransi
a. Memahami perbedaan
b. Menghormati keputusan orang lain
c. Mau menerima kritik
d. Tidak sombong
e. Tidak egois
f. Tidak memaksakan kehendak
g. Tidak merendahkan orang lain
6. Nilai-nilai Positif Orang yang berperilaku Toleransi
a. Memiliki banyak teman dan saudara dari berbagai kalangan
b. Menciptakan keharmonisan
c. Meningkatkan sikap saling menghormati
d. Menciptakan rasa aman dan tentram
e. Menghilangkan sifat dengki dan fitnah serta permusuhan
C. MUSAWAH
1.Pengertian Musawah
Secara etimologi musawah berarti sama tidak kurang dan tidak lebih. Sedangkan secara terminology musawah berarti persamaan seluruh manusia di dalam hak dan kewajiban tanpa ada pemisahan atau perbedaan yang didasarkan pada kebangsaan, kelas, aliran, kelompok, keturunan pangkat atau harta dan hal lainnya.
2. Sejarah Kemunculannya
Apabila diselusuri, maka prinsip persamaan hak ini muncul karena kezaliman, penindasan dan kesewenangan-wenangan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Peristiwa pembunuhan Kabil terhadap Habil sebagai manusia awal yang hadir di muka bumi ini merupakan bagian dari rentetan sejarah yang membangkitkan prinsip persamaan derajat. Tindak kriminalitas ini dianggap tindakan pelanggaran terhadap prinsip yang telah dibuat untuk mengatur hubungan kekeluargaan bagi individu saat itu.
3. Pandangan Islam Tentang Musawah
Islam memandang bahwa prinsip musawah sebagai salah satu prinsip ajaran agama yang luhur yang berangkat dari eksistensi manusia yang berasal dari nabi Adam AS. Hal inilah yang mematahkan prinsip kelas-kelas yang terjadi di masyarakat. Hal inilah yang menempatkan musawah sebagai nilai keagamaan sekaligus sebagai nilai peradaban kemanusiaan
4. Ritual-Ritual Agama Mengandung Prinsip Musawah
Seluruh jenis ibadah di dalam Islam mengandung prinsip musawah. Dalam shalat misalnya seluruh umat Islam berkewajiban memenuhi panggilan Allah Swt dengan melaksanakan shalat. Setelah itu mereka masuk ke dalam masjid membentuk shaf-shaf yang lurus. Diri mereka bersatu di dalamnya, tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, antara yang lemah dan yang kuat dan antara pejabat dan rakyat dan hal ini bersifat harian.
5.Ciri-ciri Orang Yang Berperilaku Musawah
Orang yang memiliki sifat musawwah dapat dilihat dari tingkah lakunya setiap hari, diantaranya adalah:
a. Tidak sombong
b. Menghargai karya orang lain
c. Menghargai kedudukan dan profesi orang lain
d. Menerima kritikan sebagai saran yang membangun
e. Tidak merasa paling benar
f. Menyadari kekurangan dirinya dan menerima kekurangan orang lain
6. Nilai-nilai Positif Musawwah
Nilai-nilai positif orang yang berperilaku musawwah diantaranya adalah :
a. Terciptanya hidup yang damai dan tentram
b. Terciptanya kehidupan yang harmonis karena sikap saling menghargai
c. Terhindar dari perbuatan memaksakan kehendak
D. UKHUWAH
1. Pengertian Ukhuwah
Ukhuwah (brotherhood) biasa diartikan sebagai “persaudaraan”. Dalam pengertian yang luas, ukhuwah adalah suatu sikap yang mencerminkan rasa persaudaraan, kerukunan, persatuan dan solidaritas yang dilakukan seseorang terhadap orang lain atau suatu kelompok pada kelompok lain dalam interaksi sosial.
Munculnya sikap ukhuwah dalam kehidupan masyarakat disebabkan adanya dua hal, yaitu :
a. Adanya persamaan, baik dalam masalah keyakinan, wawasan, pengalaman, kepentingan, tempat tinggal dan cita-cita.
b. Adanya kebutuhan yang dirasakan hanya dapat dicapai dengan melakukan kerja sama dengan orang lain
2. Dalil ukhuwah
a. Al Qur’an
Dalil mengenai ukhuwah di dalam al-Qur’an adalah al-Hujurat ayat 10
b. Sunnah
Nabi Muhammad Saw bersabda:
“Perumpamaan orang-orang beriman di dalam kecintaan, kasih sayang dan kelembutan seperti satu tubuh apabila mengeluh satu anggota tubuh, maka seluruh anggota tubuh lainnya merasakan sakit dengan tidak dapat tidur dan demam”(HR. Bukhari-Muslim)
3. Macam-macam Ukhuwah
Ada beberapa macam bentuk ukhuwah yang sangat besar peranannya dalam kehidupan kita, yaitu :
a. Ukhuwah Islamiyah
Prinsip Ukhuwah Islamiyah adalah upaya dalam rangka menumbuhkembangkan persaudaraan yang didasarkan pada kesamaan agama Islam
b. Ukhuwah kebangsaan
Agama Islam tidak hanya mengenal ukhuwah diniyah atau Islamiyah saja, Islam juga memiliki ajaran tentag ukhuwah kebangsaan atau yang kita kenal dengan ukhuwah wathaniyah
Ukhuwah Wathaniyah berarti persaudaraan kebangsaan. Ini artinya seluruh warga negara Indonesia adalah bersaudara. Ikatan yang mengikat persaudaraan ini adalah wilayah dan tertumpu pada hal-hal yang bersifat sosial budaya.
Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa perbedaan adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Beberapa konsep mendasar dari ukhuwah masyarakat madani yang dibangun oleh nabi Muhammad Saw antara lain;
c. Ukhuwah Insaniyah
Ukhuwah insaniyah berarti persaudaraan sesama manusia. Dalam terminology agama istilah ukhuwah insaniyah diistilahkan dengan ukhuwah basyariyah yaitu ukhuwah yang tumbuh dan berkembang atas dasar kemanusiaan.
4. Pendekatan Ukhuwah
Ukhuwah dapat dijaga apabila kita mengikuti empat prinsip dasar ukhuwah, yaitu
a. Ta’aruf (Saling mengenal)
b. Tafahum (Saling memahami)
c. Ta’awun (Saling tolong-menolong)
d. Takaful (Saling bahu-membahu)
5. Nilai-nilai Positif Ukhuwah
Di antara nilai-nilai positif yang perlu kita perhatikan sebagai upaya menjaga ukhuwah adalah :
a. Memberitahukan rasa cinta kepada yang kita cinta
b. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman apabila berjumpa
c. Memohon di do’akan apabila berpisah
d. Berjabat tangan apabila berjumpa (tidak berlaku bagi yang bukan muhrim)
e. Melaksanakan silaturrahmi
f. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
g. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
h. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
i. Mengucapkan selamat berkenaan pada saat-saat keberhasilan
VI. Proses Pembelajaran
a. Persiapan
1) Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama.
2) Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran.
3) Guru menyapa peserta didik dengan komunikatif.
4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
5) Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif tentang materi sebelumnya dan mengaitkan dengan materi akhlak terpuji.
6) Media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton (tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca), atau dapat juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya.
7) Model pengajaran yang digunakan dalam kompetensi ini adalah bermain peran (role playing).
b. Pelaksanaan
1) Guru meminta peserta didik untuk mencermati gambar pada kolom mari mengamati dan merenungkannya.
2) Peserta didik mengamati gambar yang ada pada kolom “ Mari Mengamati”.
3) Peserta didik mengemukakan isi gambar.
4) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan yang dikemukakan peserta didik isi gambar tersebut.
5) Peserta didik menyimak penjelasan guru atau mencermati gambar atau tayangan visual/film tentang bukti-bukti adanya Allah (diusahakan oleh guru), secara klasikal atau individual.
6) Peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok dan diberikan tugas untuk berdiskusi sesuai dengan tema yang telah ditentukan yaitu amal saleh, ukhuwah, musawah dan toleransi
8) Secara bergantian masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan kelompok lainnya memperhatikan/menyimak dan memberikan tanggapan.
9) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan yang dikemukakan peserta didik tentang materi tersebut.
10) Secara bergantian masing-masing kelompok menampilkan perannya sesuai dengan skenario yang telah dipelajari sedangkan kelompok lain memperhatikan/ menyimak dan memberikan tanggapan.
11) Guru membimbing peserta didik untuk membaca kisah keteladanan rasul dalam hal toleransi.
12) Peserta didik mengemukakan pendapatnya tentang hikmah dari kisah keteladanan rasul
13) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap kisah tersebut.
14) Guru dan peserta didik menyimpulkan intisari dari pelajaran tersebut sesuai yang terdapat dalam buku teks siswa pada kolom rangkuman.
15) Pada kolom “Ayo Berlatih”, guru:
a. Meminta peserta didik untuk mengerjakan bagian pilihan ganda dan uraian.
b. Membimbing peserta didik untuk mengamati dirinya sendiri tentang perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani sifat tersebut di lingkungannya (kolom tugas).
c. Penutup
a. Penguatan materi : Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.
b. Mengadakan tanya jawab tentang akidah Islam
c. Guru merefleksi nilai-nialai mulai dalam materi akidah Islam.
d. Menutup pelajaran dengan membaca salam, kafaratul majlis dan membaca hamdalah.
VI. Penilaian
Skor penilaian sebagai berikut:
a) Pilihan ganda: Jumlah jawaban benar x 1 (maksimal 10 x 1 = 10)
Siswa diminta untuk memberi tanda silang pada jawaban yang paling benar pada soal di bawah ini!
1. Dalam al-Qur’an surat Al- Bayyinah disebutkan bahwa orang yang akan mendapatkan balasan Surga ‘Adn di sisi Allah adalah orang yang ....
a. shalat terus menerus sepanjang malam
b. berpuasa Daud (sehari puasa sehari tidak)
c. menunaikan ibadah haji dan umrah berkali-kali
d. beriman dan beramal saleh
e. menyekolahkan anaknya sampai menjadi sarjana
2. Berikut ini yang tidak termasuk amal shaleh adalah ....
a. menjadi kakak asuh bagi anak yang tidak mampu
b. memberi makan orang yang kelaparan
c. menyeberangkan orang tua atau anak- anak yang kesulitan
d. tidur sepanjang waktu di bulan puasa
e. membersihkan kamar dan tidur sendiri
3. Di dalam ayat al-Qur’an, kata amal saleh seringkali beriringan dengan kata ....
a. Iman d. berpegang teguh
b. taqwa e. bersatu padu
c. beruntung
4. Salah satu aspek amal saleh yang terdapat dalam surat al-‘Ashr adalah…
a. berjihad d. berbakti kepada Orang tua
b. shalat berjamaah e. tolong-menolong
c. saling menasehati
5. Semua kegiatan, karya atau perbuatan, baik berupa ucapan maupun tindakan yang nyata maupun tersembunyi, ditujukan atau diniatkan untuk berbakti kepada Allah disebut ....
a. amal jariyah d. amal ibadah
b. amal saleh e. amal baik
c. amal insan
6. Ukhuwah (brotherhood)yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti …
a. memperhatikan d. menafsirkan
b. memiliki e. kekeluargaan
c. mengetahui
7. Ukhuwah keagamaan tampak sekali menjadi prioritas Nabi saw pada peristiwa …
a. perang Badar d. isra’ Mi’raj
b. hijrah di Madinah e. pembebasan Kota Makkah
c. perjanjian Hudaibiyah
8. Ukhuwah kebangsaan yang dibangun oleh Nabi Saw di Madinah adalah...
a. menyatukan kalangan Muhajirin dan Anshar
b. membantu kalangan Muhajirin
c. membuat perjanjian dengan suku Quraisy
d. mencegah musuh yang masuk secara bersama
e. melaksanakan syariat Islam
9. Adanya interaksi timbal balik antar umat beragama, menghargai kebebasan beragama bagi orang yang tidak sepaham, tidak mengganggu peribadatan serta tetap menjaga ukhuwah wathaniyah-nya. Pernyataan tersebut merupakan makna dari prinsip …
a. egalitarianism
b. pluralisme
c. keadilan
d. toleransi
e. musyawarah
10.Dalam surat al-Mumtahanah ayat 8 dijelaskan bahwa seorang muslim hendaknya tetap berbuat baik kepada kalangan non muslim selagi mereka tidak memerangi dan …
a. bermusyawarah d. tidak mengusir
b. mau menolong e. tidak berkomunikasi
c. tidak berbuat baik
Catatan: Skor tiap item soal yang benar 10
2. Uraian Singkat (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub a)
Catatan: Skor jawaban benar tiap soal 2
3. Essay (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub b)
Catatan: Skor jawaban benar tiap item soal 2
4. Portofolio dan Penilaian Sikap(dapatdibacadiBabIbagianevaluasisubc)
Catatan:
Skor penilaian sebagai berikut:
a. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya tepat pada waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 100.
b. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90.
c. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80.
Rubrik Penilaian
No
SoalRubrikPenilaian
Skor
1
a. a. JikasiswadapatmenjawabdanmemberialasansangatlengkapmengenaiAl-Asma Al-Husna al-Gaffaryang telahdipelajari, skor 9
B b. JikasiswadapatmenjawabdanmemberialasanlengkapmengenaiAl-Asma Al-Husna al-Gaffaryang telahdipelajari, skor 6
c. JikasiswadapatmenjawabdanmemberialasankuranglengkapmengenaiAl-
Asma Al-Husna al-Gaffaryang telahdipelajari, skor 3
9
2
a. a. Jikasiswadapatmenjawabdanmemberialasansangatlengkapmengenai
Al-Asma Al-Husna al-Razaqyang telahdipelajari, skor 9
b. b. JikasiswadapatmenjawabdanmemberialasanlengkapmengenaiAl-Asma Al-Husna al-Razaqyang telahdipelajari, skor 6
c. JikasiswadapatmenjawabdanmemberialasantidaklengkapmengenaiAl-Asma Al-Husna al-Razaqyang telahdipelajari, skor 3
9
3
4
5
6
7
8
9
10
VII. Pengayaan
Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan berupa bentuk-bentuk akhlak terpuji sesuai dengan kompetensi dasar yang telah disiapkan oleh guru. (Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan).
VIII. Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi akhlak terpuji. Guru akan melakukan penilaian kembali (lihat poin 6) dengan soal yang sejenis atau memberikan tugas individu merangkum materi iman kepada Allah. Remedial dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan, boleh pada saat pembelajaran apabila masih ada waktu, atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah pulang jam pelajaran selesai).
IX. Interaksi Guru Dengan Orang Tua
Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Ayo Berlatih” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan mengunakan buku penghubung kepada orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung, baik langsung maupun melalui telepon, tentang perkembangan perilaku anaknya. Contohnya orang tua diminta mengamati perilaku anaknya berkaitan dengan prilakuprilaku akhlak terpuji (amal saleh, toleransi, musawwah dan ukhuwah) di lingkungan tempat tinggalnya.
Mengetahui
Kepala MAN
( HAJARUDDIN, S.Ag.M.pd )
NIP.19741224 200710 1 001
Nama kota , 2017
Guru Mapel Aqidah akhlak
( DIANA SULAISIH, S.Ag.M.pd )
NIP.19740625 199905 2 001
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
( R P P ) Kurikulum 2013
Satuan Pendidikan
:
MAN 2 Pangandaran
Mata Pelajaran
:
Aqidah akhlak
Tema / Subtema
:
Al-Asma Al-Husna
Kelas / Semester
:
XII (Dua Belas) / 1
Materi Pokok
:
Al-Asma Al-Husna
Alokasi Waktu
:
4 x 45 Menit
KI.I Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI.2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI.3 Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4 Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
II. Kompetensi Dasar (KD)
1.1 Meyakini sifat-sifat Allah yang terkandung dalam tujuh Al-Asma Al-Husna: al-Ghafar,
al-Razzaq, al-Malik, al-Hasib, al-Hadi, al-Khalik dan al-Hakim.
2.1 Membiasakan menerapkan nilai-nilai positif yang terkandung dalam tujuh Al-Asma
Al-Husna: al- Ghaffar, al- Razzaq, al-Malik, al-Hasib, al-Hadi, al-Khalik dan al-Hakim
dalam kehidupan sehari-hari.
3.1 Memahami makna tujuh Al-Asma Al-Husna: al- Ghaffar, al-Razzaq, al-Malik, al- Hasib, al-
Hadi, al-Khalik dan al-Hakim
4.1 Melafalkan dan menghafal Al-Asma Al-Husna dengan baik
III. Tujuan Pembelajaran
Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba, danmengkomunikasikan diharapkan :
1. Siswa dapat menjelaskan makna Al-Asma Al-Husna
2. Siswa dapat menjelaskan nilai-nilai positif Al-Asma Al-Husna
3. Siswa dapat menerapkan nilai-nilai positif Al-Asma Al-Husna dalam kehidupan sehari-hari
4. Siswa dapat melafalkan dan menghafal Al-Asma Al-Husna dengan baik
IV. Indikator Pencapaian
1. Menjelaskan makna Al-Asma Al-Husna
2. Menjelaskan nilai-nilai positif Al-Asma Al-Husna
3. Menerapkan nilai-nilai positif Al-Asma Al-Husna dalam kehidupan sehari-hari
4. Melafalkan dan menghafal Al-Asma Al-Husna dengan baik
V. Materi Pokok
A. AL-GAFFAR ( ( الغفار
1. Pengertian al-Gaffar
Al-Gaffar berasal dari akar kata gafara yang artinya gafara yang berarti menutupi. Al-Gaffar bisa juga diterjemahkan berasal dari kata al-Gafaru yang artinya tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka.. Dapat kita terjemahkan bahwa magfirah dari Allah adalah di rahasikan-Nya dosa-dosa dan diampuni-Nya dengan karunia-Nya dan rahmat-Nya bukan karena tobat seorang hamba atau taatnya.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Gaffar
a. Memaafkan kesalahan orang lain
b. Menutupi kesalahan orang lain dengan tidak membeberkannya
c. Menampakkan kelebihan orang lain dengan tidak menampilkan kekurangannya
B. AL-RAZZAQ ( ( الرزاق
1. Pengertian al-Razzaq
Al-Razzaq berasal dari kata razaqa atau rizq artinya rezeki. Al-Razzaq adalah Allah yang memberi banyak rizki kepada makhluknya dan secara berulang-ulang. Imam Al- Ghazali menjelaskan arti al-Razzaq adalah Dia yang menciptakan rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki, serta Dia yang mengantarkan kepada mereka dan menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Razzaq
a. Berkeyakinan bahwa Allah sudah menjamin rezeki seseorang
b. Berusaha maksimal dengan qona’ah
c. Mengantarkan rezeki kepada yang berhak menerimanya
C. AL-MALIK ( ( الماك
1. Pengertian al-Malik
Al-Malik diartikan dengan raja atau penguasa. Al-Malik berarti raja penguasa atas seluruh makhluk-Nya Secara umum al-Malik diartikan Raja atau Penguasa, kata Malik terdiri dari huruf Mim Lam Kaf yang rangkaiannya mengandung makna kekuatan dan Keshahihan. kata Al-Malik menunjukkan bahwa Allah Swt tidak membutuhkan kepada segala sesuatu melainkan segala sesuatu membutuhkan diriNya.. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah segala kekuatan yang ada di alam semesta ini yang shahih dan tidak dapat di ingkari lagi kekuasaan-Nya meliputi semesta alam dan pengetahuan yang ada.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Malik
a. Manusia memiliki keterbatasan kepemilikan
b. Mengendalikan hawa nafsu
c. Menjadi hamba yang bersyukur atas nikmat Allah Swt
D. AL-HASIB ( ( الحاسب
1. Pengertian al- Hasib
Al-Hasib secara bahasa artinya menghitung, mencukupkan, bantal kecil dan penyakit yang menimpa kulit. Menurut Imam al-Ghazali, al-Hasib bermakna dia yang mencukupi siapa yang mengandalkannya. Sifat ini hanya dimiliki oleh Allah, karena hanya Allah saja yang Maha mencukupi semua makhluk-Nya dan diandalkan oleh seluruh makhluk-Nya.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Hasib
a. Tenang dan tentram bersama dengan Allah
b. Melakukan amal saleh semata-mata karena Allah Swt
c. Melakukan introspeksi diri secara terus-menerus
E. AL-HADI ( ( الهادى
1. Pengertian al- Hadi
Secara bahasa al-Hadi merujuk pada dua hal yaitu tampil kedepan memberi petunjuk dan menyampaikan dengan lemah lembut. Al-Hadi artinya pemberi petunjuk Ia dapat diartikan dengan penunjuk jalan karena ia selalu berada di depan memberi petunjuk, maksudnya adalah Allah Swt yang menganugrahkan petunjuk atau hidayah kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya sesuai dengan peranan makhluk dan sesuai tingkatannya. Selain itu Al-Hadi juga dapat berarti menyampaikan dengan lemah lembut. Dari makna ini terlahir istilah hadiah karena hadiah biasanya disampaikan dengan kelembutan sebagai bentuk simpatik seseorang pada orang lain. Dari kata tersebut juga terlahir kata al-hadyu yang berarti binatang yang disembelih di baitullah sebagai persembahan.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Hadi
a. Meyakini bahwa petunjuk Allah banyak sekali
b. Meyakini bahwa agama adalah petunjuk Allah tertinggi
c. Memberi petunjuk kepada orang lain dengan benar dan tanpa pamrih
F. AL KHALIQ ( ( الخالق
1. Pengertian al Khaliq
Al-Khaliq secara bahasa berasal dari kata khalq atau khalaqa yang berarti mengukur atau menghapus.. Kemudian, makna ini berkembang dengan arti menciptakan tanpa contoh sebelumnya. Menurut al-Ghazali meskipun kata Al-Khaliq sama dengan Al- Bari’ yang berarti pencipta, tetapi keduanya memiliki makna masing-masing. Al-Khaliq berarti Allah Swt mewujudkan sesuatu dengan ukuran yang ditetapkan. Sementara Al- Bari’ mewujudkan dari tidak ada menjadi ada saja. Sedangkan Al-Mushawwir Dzat yang memberi rupa.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Khaliq
a. Menciptakan hal-hal yang inovatif
b. Meyakini Allah Swt Pencipta yang hakiki
G. AL HAKIM ( ( الحكم
1. Pengertian al- Hakim
Al-Hakim(Yang Maha Bijaksana) Al-Hakim berasal dari akar kata hakama yang terdiri dari huruf ha, kaf dan mim yang maknanya secara umum berarti menghalangi. Demikian pula kata istilah hikmah yang digunakan untuk sesuatu yang bijaksana yang apabila diperhatikan insya Allah seseorang akan selamat Dengan hikmah-Nya, Dia menebarkan kemaslahatan, kemanfaatan dan kemudahan yang lebih besar atau lebih baik. Dengan hikmah-Nya pula menghalangi atau menghindarkan terjadinya kemudharatan dan kesulitan yang lebih besar bagi makhluk-Nya.
2. Meneladani Allah dengan sifat al- Hakim
a. Memperdalam ilmu pengetahuan
b. Bertindak professional dalam hal apapun
c. Bersikap bijaksana
VI. Proses Pembelajaran
a. Persiapan
1) Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama.
2) Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan
kegiatan pembelajaran.
3) Guru menyapa peserta didik dengan memperkenalkan diri kepada peserta didik.
4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
5) Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif mengenai materi asmaul husna.
6) Media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton (tulisan
yang besar dan mudah dilihat/dibaca), atau dapat juga menggunakan multimedia berbasis ICT
atau media lainnya.
7) Untuk menguasai kompetensi ini salah satu model pembelajaran yang cocok .
b. Pelaksanaan
1. Guru memutarkan audio atau video Al-Asma Al-Husna
2. Siswa menyimak dan memperhatikan secara seksama audio atau video yang diputar
3. Guru mengukur kesiapan siswa dengan menanyakan pemahaman mereka tentang Al-Asma Al-
Husna
4. Guru menjelaskan pengertian Al-Asma Al-Husna
5. Guru meminta siswa mengamati gambar yang ada pada kolom mengamati
6. Siswa mengemukakan isi gambar
7. Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan yang dikemukakan kepada siswa
tentang isi gambar
8. Guru menjelaskan materi tujuh sifat Allah dalam Al-Asma Al-Husna
9. Guru memberikan contoh perilaku orang-orang yang mengamalkan tujuh sifat Allah dalam Al-
Asma Al-Husna
10. Guru meminta siswa memberikan contoh sikap orang yang mengamalkan tujuh sifat Allah
dalam Al-Asma Al-Husna pada kehidupan sehari-hari
11. Guru meminta siswa untuk berpasangan dengan temannya, menghafalkan Al-Asma Al-
Husna secara pergantian
12. Siswa secara bergantian menghafalkan Al-Asma Al-Husna
13. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, disesuaikan dengan kondisi kelas
14. Guru meminta siswa mendiskusikan tujuh sifat Allah dalam Al-Asma Al-Husna secara
berkelompok
15. Guru meminta siswa membuat bagan hubungan tujuh sifat Allah dalam Al-Asma Al- Husna
dengan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari secara berkelompok
16. Siswa membuat bagan hubungan tujuh sifat Allah dalam Al-Asma Al-Husna dengan
perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari secara berkelompok
17. Secara bergantian masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya,
dan kelompok lain mendengarkan atau menyimak sambil memberikan tanggapan dan
membuat catatan-catatan kecil.
18. Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap hasil diskusi
tersebut
19. Guru menjelaskan perilaku terpuji yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dari
tujuh sifat Allah dalam Al-Asma Al-Husna
20. Guru membimbing siswa membaca tentang kisah Nabi Ayyub as
21. Siswa mengungkapkan pendapatnya tentang hikmah kisah Nabi Ayyub as
22. Guru memberikan penjelasan tambahan dari hikmah kisah Nabi Ayyub as
23. Guru dan siswa menyimpulkan intisari pelajaran tersebut sesuai dengan buku siswa
kolom kesimpulan
24. Pada kolom “Ayo Berlatih” guru melakukan :
a. Bimbingan kepada siswa untuk membaca soal-soal yang ada pada materi
b. Meminta peserta didik mengerjakan soal pilihan ganda, uraian dan essay
c. Bimbingan kepada siswa untuk mengamati dirinya dalam mengamalkan tujuh
sifat Allah dalam Al-Asma Al-Husna.
c. Penutup
a. Penguatan materi :
Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.
b. Mengadakan tanya jawab tentang akidah Islam
c. Guru merefleksi nilai-nialai mulai dalam materi akidah Islam.
d. Menutup pelajaran dengan membaca salam, kafaratul majlis dan membaca hamdalah.
VII. Penilaian
Pada kolom “Evaluasi”.
Pilihan ganda
Skor penilaian sebagai berikut.
a) Pilihan ganda:
Jumlah jawaban benar x 1 (maksimal 10 x1 = 10)
Guru meminta siswa memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e, pada jawaban yang paling benar !
1. Allah Dzat yang Maha merahasiakan dan Maha menutupi adalah makna Al-Asma Al-
Husna yang diterangkan dalam sifat…
a. al-Malik d. al-Hadi
b. al-Hasib e. al-Razzaq
c. al-Gaffar
2. Allah Swt yang menganugrahkan petunjuk atau hidayah-Nya kepada hamba-hamba-
Nya yang dikehendaki sesuai dengan peranan makhluk dan sesuai tingkatannya adalah
makna dari Al-Asma Al-Husna…
a. al-Malik d. al-Hadi
b. al-Hasib e. al-Razzaq
c. al-Gaffar
3. Allah sendiri yang akan memenuhi kebutuhan makhluk, mencukupi mereka
melanggengkan bahkan menyempurnakannya adalah makna asmaul husna…
a. al-Malik d. al-Hadi
b. al-Hasib e. al-Razzaq
c. al-Gaffar
4. Dzat yang tidak butuh pada Dzat dan sifat-Nya segala yang wujud, bahkan Dia adalah
yang butuh kepada-Nya dan wujud segala sesuatu bersumber dari pada-Nya. Maka segala
sesuatu selainNya menjadi milik-Nya dalam Dzat dan sifat-Nya serta membutuhkan-Nya
adalah makna Al-Asma Al-Husna….
a. a- Malik d. al- Hadi
b. al- Hasib e. al -Razzaq
c. al -Gaffar
5. Suatu keyakinan bahwa jabatan yang diemban adalah amanat dan akan dipertanggung
jawabkan, kekuasaan duniawi adalah fana ataupun sementara, sedangkan kekuasaan Allah
adalah mutlak dan abadi. Adalah sikap orang yang meneladani sifat Allah….
a. al -Malik d. al- Gaffar
b. al -Hasib e. al- Razzaq
c. al- Hadi
6. Salah satu bentuk evaluasi diri yang paling berguna adalah menyendiri untuk melakukan
introspeksi dan mengoreksi sebagai amalan yang telah dilakukan. Adalah sikap orang
meneladani sifat Allah….
a. al- Malik d. al- Gaffar
b. al- Hasib e. al- Razzaq
c. al- Hadi
7. Memperhatikan, menghormati dan menjunjung tinggi martabat ilmu dan orang yang
memiliki ilmu. Adalah sikap orang yang meneladani sifat Allah….
a. al-Malik d. al-Khaliq
b. al-Hakim e. al- Razzaq
c. al-Hadi
8. Tidak bertanggung jawab dalam melindungi alam dan lingkungannya adalah sikap
orang yang bertentangan dengan sifat Allah….
a. al- Malik d. al- Khaliq
b. al- Hasib e. al- Razzaq
c. al-hadi
9. Tidak mengakui kekuasaan Allah di langit dan di bumi adalah sikap orang yang
bertentangan dengan sifat Allah….
a. al-Malik d. al-Gaffar
b. al-Hasib e. al- Razzaq
c. al-Hadi
10. Tidak puas dengan apa yang telah diperoleh dan menginginkan hak orang lain adalah
sikap orang yang bertentangan dengan sifat Allah….
a. al-Malik d. al-Gaffar
b. al-Hasib e. al- Razzaq
c. al-Hadi
Catatan: Skor tiap item soal yang benar 10
2. Uraian Singkat (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub a)
Catatan: Skor jawaban benar tiap soal 2
3. Essay (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub b)
Catatan: Skor jawaban benar tiap item soal 2
4. Portofolio dan Penilaian Sikap (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub c)
Catatan:
Skor penilaian sebagai berikut:
a. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya tepat pada waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 100.
b. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90.
c. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80.
VIII. Pengayaan
Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan yang telah disiapkan oleh guru. (Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan).
IX. Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi tentang “Al-Asma Al-Husna”. Guru akan melakukan penilaian kembali (lihat poin 6) dengan soal yang sejenis. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan contoh: pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu, atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah jam pelajaran selesai).
X. Interaksi Guru Dengan Orang Tua
Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Evaluasi” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan menggunakan buku penghubung kepada orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung baik langsung, maupun memalui telepon, tentang perkembangan perilaku anaknya.
Mengetahui
Kepala MAN 2 Pangandaran
(Drs.H.Undang Abdul Hamid)
NIP.196302231992031002
Pangandaran, ........................... 2017
Guru Mapel Aqidah akhlak
( Sahlan Mujahid,S.Pd.I )
NIP.197603062014121003
Disusun Oleh:
Hartiya Namira (0301171317)
Mutiah Qonitah (0301171303)
M. Mualif Abdullah (0301171283)
Siti Masita (0301171341)
Ummi Sianturi (0301171341)
Dosen Pengampu
Dr. H. Mardianto, M.Pd
Jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sumatera Utara
T.A. 2019
Materi
Asmaul Husna
Membiasakan Akhalak Terpuji
Menghindari akhlak tercela
Adap pergaulan dalam Islam
Meneladani Sifat Utama Al-Ghazali dan Ibnu Sina.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
( R P P ) Kurikulum 2013
Satuan Pendidikan
:
MAN 2 Pangandaran
Mata Pelajaran
:
Aqidah Akhlak
Tema / Subtema
:
Al-Ghazali dan Ibnu Sina
Kelas / Semester
:
XII (Dua Belas) / 1
Materi Pokok
:
Meneladani Sifat Utama Al-Ghazali dan Ibnu Sina
Alokasi Waktu
:
2 x 45 Menit
I. Kompetensi Inti (KI)
KI.I Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI.2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI.3 Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4 Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
II. Kompetensi Dasar (KD)
1.5 Menghayati keutamaan sifat-sifat Al-Gazali, Ibnu Sina
2.5 Meneladani keutamaan sifat-sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina
3.5 Menganalisis kisah keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina
4.5 Menceritakan kisah keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina
III. Tujuan Pembelajaran
Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mengkomunikasikan diharapkan :
1) siswa dapat menyebutkan keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina
2) siswa dapat menunjukkan sikap meneladani al-Ghazali dan Ibnu Sina
3) siswa dapat menceritakan kisah keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina
IV. Indikator Pencapaian
1) Menyebutkan keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina
2) Menunjukkan sikap meneladani al-Ghazali dan Ibnu Sina
3) Menceritakan kisah keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina
V. Materi Pokok
A. AL-GHAZALI
Al-Ghazali adalah seorang ulama besar Islam, beliau adalah seorang hujjatul Islam yang banyak menghafal hadis Nabi, beliau dikenal sebagai ahli filsafat dan tasawuf serta banyak mengarang kitab-kitab. Pemikiran-pemikirannya membawa pengaruh pada perubahan dunia. Mari kita mengenal sedikit tentang al-Ghazali.
1. Sejarah Singkat Al Ghazali
Al Ghazali memiliki nama asli Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Thusi. Ia lahir di kota Thusi pada tahun 450 H. Ayahnya seorang sufi yang sangat wara’ yang hanya makan dari penghasilan yang dihasilkan oleh jerih payahnya. Di dalam doanya ia senantiasa meminta kepada Allah Swt agar dikaruniai seorang anak yang pandai dan shaleh dan akhirnya Allah Swt mengabulkan do’a nya dan meuncullah al-Ghazali menjadi seorang ahli fikih.
Pendidikan awal Al-Ghazali di Thus lalu ia melanjutkan belajar ke Jurjan di bidang hukum kepada Abu Nasr al-Ismaili(1015-1085 M). Pada usia 20 tahun ia pergi ke Nisabur untuk mendalami ilmu fikih dan tauhid kepada al- Juwaini(1028-1085) yang kemudian menjadi asistennya. Selain belajar fikih dan tauhid. Ia juga melakukan praktek tasawuf dibimbing oleh Abu Ali al-Farmadzi (w. 1084) yang menjdi murid al-Imam al-Qusyairi (986-1072 M). Pada tahun 1091 M ia diundang oleh Nidzam al-Mulk (1063-1092 M) untuk menjadi guru besar di Nidzamiah, Baghdad Dari sinilah kemudian ia mulai dikenal dan memiliki posisi yang tinggi.
2. Keteladanan al-Ghazali
Al-Ghazali merupakan sosok yang sangat haus dengan ilmu pengetahuan. Berbagai ilmu pengetahuan ia pelajari seperti al-Quran, ushul fikih, ilmu kalam, filsafat, fikih dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Selain haus terhadap ilmu pengetahuan, ia juga haus untuk mendalami ruhani. Oleh karena itu ia meninggalkan kota Baghdad menuju Damaskus melakukan khalwat dan i’tikaf serta mengurung diri di menara masjid kota ini. Setelah itu ia pergi menuju bait al- Maqdis untuk meneruskan khalwatnya lalu dilanjutkan dengan menunaikan ibadah haji.
3.Karya-karya al-Ghazali
Al-Ghazali memiliki banyak karya yang sangat diperlukan oleh manusia di dunia ini. Karya-karyanya tidak saja dijadikan acuan ilmu pengetahuan oleh orang Islam saja tetapi para ilmuwan baratpun menggunakan karya al-Ghazali sebagai acuan keilmuwannya. Salah satu karya al-Ghazali yang paling terkenal adalah kitab ”Ihya Ulumuddin” yang banyak dijadikan rujukan umat Islam di seluruh dunia termasuk di Indonesia dalam hal mempelajari ilmu Tasawuf.
Karya al-Ghazali di bidang filsafat dan logika, adalah Mi’yar al-’ilmi (Standar Pengetahuan, Tahafut al-Falasifah (Kerancuan para filosof); dalam bidang akidah Arba’in fi Ushuluddin (Empat Puluh Masalah di Bidang Prinsip-Prinsip Agama), Qowaid al-’Aqa’id (Prinsip-Prinsip Keimanan), dan Al-Iqtishad fi al-I’tiqad (Muara Kepercayaan); di bidang Ushul Fikih al-Mustashfa fi ’ilm al- Ushul (Intisari ilmu tentang Dasar-Dasar Ilmu Fikih); dalam bidang tasawuf Misykat al-Anwar (Ceruk Cahaya-Cahaya).
Selain karya-karya di atas, masih banyak lagi karya-karya al-Ghazali dalam berbagai bidang. Banyaknya karya al-Ghazali menunjukkan luasnya ilmu yang dimiliki al-Ghazali, beliau adalah pakar Fikih yang menguasai Tasawwuf, Filsafat dan ilmu kalam.
4. Kisah Akhir al-Ghazali
Pada masa akhir sisa hidupnya, al-Ghazali mendirikan madrasah di sebelah rumahnya untuk para penuntut ilmu dan tempat khalwat para sufi. Seluruh waktunya ia gunakan untuk membaca dan mengkaji al-Qur’an, mempelajari hadis serta mengajar. Ia wafat pada tahun 505 H/1111 M di Thus dalam usia lima puluh lima tahun.
B. IBNU SINA
Ibnu Sina adalah seorang ahli filsafat, ilmuwan, dokter serta seorang penulis yang aktif pada jaman keemasan Islam. Pada jaman tersebut banyak ilmuwan yang menerjemahkan buku ilmu pengetahuan Yunani, Persia dan india. Ibnu Sina di barat dikenal dengan sebutan Avicenna. Berikut biografi Ibnu Sina:
1. Riwayat Singkat Ibnu Sina
Nama lengkapnya Abu Ali al Husayn ibn Abdullah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina. Ia lahir pada tahun 370 H/980 M di Efsyanah kawasan Bukhara (Uzbekistan sekarang). Ia dieknal sebagai seorang filosof muslim terbesar yang bergelar “Al- Syaikh Al-Ra’is”. Ia berasal dari keluarga Persia dan bermadhab Ismailiyah. Ayahnya adalah seorang gubernur pada masa kerajaan Samaniyah (819 M-1005 M).
Ia mulai mempelajari al-Qur’an sejak usia 5 tahun kepada ayahnya dan telah menghafalnya di usia 10 tahun. Di usia yang belia ini ia juga mempelajari ilmu akhlak dan bahasa. Setelah itu hari-harinya dihabiskan di perpustakaan.
Ia menyukai ilmu kedokteran dan metafisik sehingga di usia 16 tahun ia sudah menjadi seorang dokter. Setelah itu ia belajar filsafat kepada Abu Abdillaj al Natili yang diawali dengan ilmu mantik (logika).
2. Keteladanan Ibnu Sina
Ibnu Sina adalah seorang ilmuwan dan filosof besar. Ia sosok yang jenius dan memiliki daya nalar yang tinggi. Karena kejeniusannya ini ia banyak mempelajari sendiri berbagai macam ilmu pengetahuan dengan mudah. Selain jenius ia juga merupakan sosok yang gigih dan haus akan ilmu penegtahuan. Pernah suatu saat ia membaca buku metafisika karya Aristoteles sebanyak empat puluh kali sampai ia menghapalnya hanya saja ia tidak memahami. Meskipun demikian, ia tidak pernah berputus asa. Ia terus mencari buku apa yang dapat menjadi kunci untuk memahami buku Aristoteles tersebut, dan akhirnya ia pergi berjalan-jalan ke salah satu pasar loak khusus buku-buku filsafat dan menemukan buku karya al-Farabi sebagaikuncinya. Selain cerdas dan gigih ia juga merupakan sosok yang taat beribadah kepada Allah Swt, kreatif, tidak mengenal putus asa, tabah dan tekun dalam mempelajari ilmu pengetahuan.
Ibnu Sina juga dikenal sebagai seorang dokter yang handal. Ia dapat mengobati berbagai macam penyakit. Keahliannya di bidang kedokteran menjadi terkenal lagi ketika suatu hari ia dapat menyembuhkan penyakit Nuh ibn Manshur(387 H/ 997 M) seorang penguasa Bukhara.
3. Karya-karya Ibnu Sina
Ibnu Sina banyak memiliki karya tulis. Ada pendapat yang menyatakan bahwa karya tulisnya mencapai dua ratus buku. Sebagian pakar lainnya menyatakan bahwa karya tulisnya sekita seratusan Di antara karya-karya Ibnu Sina Kitab Al -Syifa (Obat) berupa ensklopedi filsafat; kitab Al-Qanun Fi al-Thib (Praktek Kedokteran) di bidang kedokteran; Kitab al-Najah (Keberhasilan) ringkasan dari al-Syifa dalam hal ketuhanan, logika dan ilmu alam serta karya-karya tulis lainnya.
4.Kisah Akhir Ibnu Sina
Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktifitas dan kerja keras sehingga suatu hari ia terkena penyakit maag akut yang sudah tidak dapat diobati lagi. Di hari-hari menjelang wafatnya ia selalu memakai pakaian putih, mensedekahkan hartanya kepada fakir miskin, memerdekakan budak serta giat beribadah kepada Allah Swt. Ia wafat pada tahun 428H/1037M di usia 58 tahun.
VI. Proses Pembelajaran
a. Persiapan
1) Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama.
2) Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran.
3) Guru memotivasi peserta didik dengan kegiatan yang ringan, seperti cerita motivasi.
4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
5) Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif tentang materi sebelumnya dan mengaitkannya dengan materi keteladanan al-Ghazali dan Ibnu Sina
6) Beberapa alternatif media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton (tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca) atau bisa juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya.
7) Metode yang digunakan adalah gallery work atau pameran berjalan.
b. Pelaksanaan
1) Guru meminta siswa untuk mengamati gambar yang ada di kolom “Mari mengamati”.
2) Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hasil pengamatannya tentang gambar tersebut.
3) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap hasil pencermatan pengamatan siswa.
4) Guru meminta kembali siswa untuk mengamati gambar yang ada yang ada di kolom “Mari Mengamati”.
5) Siswa mengemukakan pendapatnya tentang gambar tersebut.
6) Guru memberikan penjelaskan tambahan kembali dan penguatan yang dikemukakan siswa tentang isi gambar tersebut.
7) Siswa menyimak penjelasan guru atau mencermati gambar atau tayangan visual/film tentang keteladanan sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina, secara klasikal atau individual.
8) Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan keadaan kelas.
9) Guru memberikan kertas plano atau flip cart kepada masing-masing kelompok.
10) Guru menentukan tema atau topik pembahasan bagi masing-masing kelompok.
11) Siswa mendiskusikan tema atau topik yang sudah ditentukan
12) Siswa menempel hasil kerja kelompoknya di media tempel (dinding)
13) Masing-masing kelompok berputar mengamati hasil kerja kelompok lain
14) Salah satu wakil kelompok menjelaskan setiap apa yang ditanyakan oleh kelompok lain.
15) Guru dan siswa melakukan koreksi bersama-sama
16) Guru mengklarifikasi dan menyimpulkan materi pembelajaran.
17) Guru membimbing peserta didik untuk membaca kisah “kegigihan Ibnu Sina belajar filsafat”.
18) Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hikmah dari kisah “kegigihan IbnuSina belajar filsafat”.
19) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap kisah tersebut.
20) Guru dan siswa menyimpulkan intisari dari pelajaran tersebut sesuai yang terdapat dalam buku teks siswa pada kolom rangkuman.
21) Pada kolom “Ayo Berlatih”, guru:
a. meminta peserta didik untuk mengerjakan bagian pilihan ganda dan uraian.
b. membimbing peserta didik untuk mengamati dirinya sendiri tentang perilaku-perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani sifat al- Ghazali dan Ibnu Sina di lingkungannya (Kolom tugas).
c. Penutup
a. Penguatan materi : Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.
b. Mengadakan tanya jawab tentang akidah Islam
c. Guru merefleksi nilai-nialai mulai dalam materi akidah Islam.
d. Menutup pelajaran dengan membaca salam, kafaratul majlis dan membaca hamdalah.
VI I. Penilaian
Guru melakukan penilaian terhadap peserta didik dalam:
1) Kolom pilihan ganda dan uraian.
a) Pilihan ganda: jumlah jawaban benar x 1 (maksimal 10 x1 = 10).
b) Uraian :
Guru meminta siswa memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e, pada jawaban yang paling benar !
1. Imam al-Ghazali dilahirkan di kota :
a. Yerusalem b. Thus c. Taheran d. Cairo e. Palestina
2. Siapakah guru pertama al-Ghazali di bidang tauhid…
a. Al Juwaini c. Abu Hasan al ‘Asy’ari e. Qadhi Abdul Jabbar
b. Washil bin al Atha d. Ali al Juba’i
3. Ayah al-Ghazali adalah seorang tokoh…
a. hadis b. fikih c. ushul Fikih d. Tasawuf e. bahasa Arab
4. Apa yang dilakukan oleh al-Ghazali saat pindah dari Baghdad menuju Damaskus…
a. menuntut ilmu c. menjadi menteri e. berdebat dengan filosof
b. mencari nafkah d. melakukan I’tikaf
5. Karya al-Ghazali yang paling monumental…
a. Ihya Ulumuddin c. Tahafut al Falasifah e. Qowaid al-’Aqa’id
b. Mi’yar al ’ilmi d. Arba’in fi Ushuluddin
6. Ibnu Sina dilahirkan di kawasan…
a. Persia b. Bukhara c. Cairo d. Fes e. Khourtom
7. Di usia berapakah Ibnu Sina telah menghapal al Qur’an…
a. 7 tahun b. 9 tahun c. 10 tahun d. 16 tahun e. 17 tahun
8. Di usia 16 tahun Ibnu Sina sudah menjadi…
a. guru b. ulama c. filosof d. Psikiater e. dokter
9. Seorang penguasa Bukhara yang disembuhkan oleh Ibnu Sina bernama...
a. Jengis Khan c. Yazid bin Muawiyah
b. Nuh ibn Manshur d. Muhammad II
e. Musa bin Nushair
10.Karya Ibnu Sina yang berupa ensklopedi di bidang kedokteran.
a. Kitab al-Najah c. Al-Syifa
b. Al-Qanun Fi al-Thib d. Al-Dawa’
e. Al-Da’
Catatan: Skor tiap item soal yang benar 10
2. Uraian Singkat (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub a)
Catatan: Skor jawaban benar tiap soal 2
3. Essay (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub b)
Catatan: Skor jawaban benar tiap item soal 2
4. Portofolio dan Penilaian Sikap (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub c)
Catatan:
Skor penilaian sebagai berikut:
a. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya tepat pada waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 100.
b. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90.
c. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80.
VIII.Pengayaan
Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan yang telah disiapkan oleh guru berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan menelaani keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu Sina. (Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan).
IX. Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi tentang “Meneladani keutamaan sifat al-Ghazali dan Ibnu sina”. Guru akan melakukan penilaian kembali (lihat point 7) dengan soal yang sejenis. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan contoh: pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu, atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah jam pelajaran selesai).
X. Interaksi Guru Dengan Orang Tua
Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Ayo Berlatih” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan mengunakan buku penghubung kepada orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung baik langsung, maupun memalui telepon, tentang perkembangan perilaku anaknya.
Mengetahui
Kepala MAN
( HAJARUDDIN, S.Ag.M.pd )
NIP.19741224 200710 1 001
Nama kota , 2017
Guru Mapel Aqidah akhlak
( DIANA SULAISIH, S.Ag.M.pd )
NIP.19740625 199905 2 001
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P ) KURIKULUM 2013
Satuan Pendidikan
:
MAN
Mata Pelajaran
:
Aqidah Akhlak
Tema / Subtema
:
Akhlak Tercela
Kelas / Semester
:
XII (Dua Belas) / 1
Materi Pokok
:
Menghindari Akhlak Tercela
Alokasi Waktu
:
2 x 45 Menit
KI.I Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI.2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI.3 Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4 Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
II. Kompetensi Dasar (KD)
1.3 Menghayati dampak negatif dari perilaku nifaq dan keras hati (pemarah).
2.3 Menghindari nilai-nilai negatif akibat perilaku nifaq dan keras hati (pemarah).
3.3 Memahami pengertian nifaq dan keras hati (pemarah).
4.3 Memaparkan dampak negatif dari perilaku nifaq dan keras hati (pemarah).
III. Tujuan Pembelajaran
Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mengkomunikasikan diharapkan:
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian nifaq dan keras hati ( pemarah )
2. Siswa dapat menjelaskan bentuk dan contoh-contoh perilaku nifaq dan keras hati (pemarah)
3. Siswa dapat menghindari hal-hal yang mengarah pada perilaku nifaq dan keras hati (pemarah)
4. Siswa dapat menyebutkan dampak negatif perilaku nifaq dan keras hati (pemarah)
IV. Indikator Pencapaian
1. Menjelaskan pengertian nifaq dan keras hati (pemarah)
2. Menjelaskan bentuk dan contoh-contoh perilaku nifaq dan keras hati (pemarah)
3. Menghindari hal-hal yang mengarah pada perilaku nifaq dan keras hati (pemarah )
4. Menyebutkan dampak negatif perilaku nifaq dan keras hati (pemarah)
V. Materi Pokok
NIFAQ
Pengertian Nifaq
Nifaq berasal dari kata nafiqa yang berarti lubang tempat keluarnya hewan sejenis tikus dari sarangnya. Ada yang berpendapat ia berasal dari kata nafaq yaitu lobang tempat bersembunyi. Nifaq secara bahasa berarti ketidaksamaan antara lahir dan batin. Nifaq menurut syara (terminologi) berarti menampakkan keislaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Pelakunya dinamakan munafik. Pada satu sisi pelakunya dapat berarti manusia biasa yang secara lahiriah memperkenalkan dirinya sebagai seorang muslim dan mengaku beriman, tapi secara batin ia adalah seorang kafir dan tidak memiliki keyakinan seperti apa yang diucapkannya
Macam-macam Perilaku Nifaq
Nifaq Akbar
Nifaq akbar atau nifaq besar ini adalah ketika seseorang menampakkan keimanannya kepada Allah Swt, para malaikat, kitab suci, rasul dan akhir, tetapi sebenarnya ia tidak percaya dan menolak keseluruhan hal tersebut.
Nifaq Ashgar
Nifak ashgar atau nifaq kecil berarti manakala seseorang menampakkan secara jelas segala amal-amal yang baik (tidak termasuk di atas) hanya saja sesungguhnya ia tidak seperti itu, bahkan bertolak belakang.
Tanda-tanda Pelaku Perilaku Nifaq
Bila Berbicara Berdusta
Dalam ajaran Islam, perbuatan dusta atau berbohong sangat tercela . Janganlah mudah berkata dusta walau dalam hal-hal kecil karena berbohong dapat mengurangi kepercayaan orang kepada kita.
Bila berjanji tidak menepati
Ketika seseorang berjanji, maka setidaknya ada dua pilihan yang ia lakukan: Pertama, seseorang berjanji padahal sesungguhnya ia tidak ingin menepatinya. Kedua, melakukan peerjanjian tetapi kemudian timbul suatu hal tertentu, lalu ia mengingkari janjinya tersebut tanpa alasan.
Bila Mengikat perjanjian, membatalkannya
Membatalkan perjanjian di dalam Islam haram hukumnya, baik perjanjian tersebut dilaksanakan kepada orang Islam atau non muslim. Apabila ia tidak dilaksanakan, maka ia akan mendapatkan dosa besar. Perjanjian umat islam dapat seperti perjanjian jual beli dan pernikahan serta hal lainnya.
Bila Berseteru ia berbuat dosa
Makna berbuat dosa di sini adalah keluar dari kebenaran secara sengaja sehingga kebenaran ini menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Pemutarbalikkan fakta tersebut terjadi pada diri seseorang semata-mata timbul karena kebohongan yang selama ini dilakukan.
Bila diberi amanat, ia khianati
Khianat adalah mengingkari tanggung jawab, berbuat tidak setia atau melanggar amanah yang sudah dibuat. Secara umum, khianat artinya mengingkari tanggung jawab yang telah dipercayakan, baik daang dari Allah maupun dari orang lain. Apabila seseorang diberi amanah, maka ia wajib melaksanakannya.
3. Akibat Buruk Sifat Nifaq
Bagi diri sendiri
Tercela dalam pandangan Allah SWT.
Hilangnya kepercayaan dari orang lain atas dirinya.
Tidak disenangi dalamj pergaulan hidup sehari-hari.
Bisa mempersempit jalan untuk memperoleh Rejeki.
Mendapat siksa yang amat pedih kelak di hari akhir
Bagi orang lain
Menimbulkan kekecewaan hati sehingga dapat merusak hubungan persahabatan yang terjalin dengan baik.
Membuka peluang munculnya fitnah.
Mencemarkan nama baik keluarga dan masyarakat.
KERAS HATI
Pengertian Keras Hati
Ghadab secara etimologi berarti marah. Marah dalam pengertian ghadabbersifat negatif. Dalam kamus bahasa Indonesia marah berarti merasa atau perasaan tidak senang dan panas karena dihina atau diperlakukan kurang baik dan lain sebagainya
Dengan istilah lain, ghadab (marah) yaitu merasa tidak senang dan panas hati karena suatu sebab, seperti dihina . Marah secara umum mengakibatkan terganggunya aktualisasi diri di dalam kehidupan kita atau marah merupakan penyakit jiwa yang ada di dalam diri manusia.
Macam-macam daya marah
Tidak memiliki daya marah atau lemah Kurang baik ketika seseorang tidak dapat marah atau memiliki tingkat kemarahan yang lemah. Dengan tingkat daya marah yang lemah seseorang akan memiliki harga diri yang rendah dan hina yang berdampak pada tidak melakukan tindakan apa-apa atau hanya diam terhadap hal-hal yang haram atau hal-hal yang bersifat munkar.
Daya marah yang berlebihan adalah daya marah yang keluar dari diri seseorang sehingga seseorang keluar dari kontrol akal dan agama. Saat seseorang marah seperti ini, maka nurani dan daya pikir warasnya sudah hilang.
Daya marah sedang adalah daya marah yang muncul yang masih berada di dalam kontrol akal dan agama. Daya marah sedang adalah daya marah yang muncul ketika memang harus muncul dan redup ketika memang harus tidak marah atau mengedepankan sabar.
Mengobati Perilaku Keras Hati
Mengingat keutamaan menahan amarah
Menahan amarah memiliki kedudukan, manfaat, dan keutamaan yang tinggi. mewasiatkan kepadanya untuk jangan marah. Hal itu diulangi beberapa kali, menunjukkan pentingnya wasiat tersebut.
Takut akan siksa Allah
Untuk bisa meredam emosi seseorang harus takut pada azab dari Allah Swt apabila ia meneruskan emosinya. Seseorang harus yakin bahwa tidak mungkin ia akan selamat dari siksa neraka apabila ia tidak mempersiapkan diri dari sekarang.
Dampak dari azab Allah Swt
Untuk bisa meredam emosi seseorang harus takut pada azab dari Allah Swt apabila ia meneruskan emosinya. Seseorang harus yakin bahwa tidak mungkin ia akan selamat dari siksa neraka apabila ia tidak mempersiapkan diri dari sekarang..
Wajah buruk orang yang marah
Dalam Islam orang yang kuat bukanlah orang yang memiliki postur tubuh kuat dan kekar, melainkan orang yang mampu melawan dan mengekang hawa nafsunya ketika marah.
VI. Proses Pembelajaran
Persiapan
Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama.
Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran.
Guru menyapa peserta didik dengan komunikatif.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif materi sebelumnya dan mengaitkan dengan materi akhlak tercela (nifaq dan keras hati).
Media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton (tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca), atau dapat juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya. Salah satu model pengajaran yang digunakan dalam kompetensi ini di antaranya adalah belajar melalui tukar delegasi antar kelompok (Jigsaw Learning).
Pelaksanaan
Guru meminta siswa untuk mengamati perilaku nifaq dan keras hati.
Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hasil pencermatannya terhadap perilaku nifaq
dan keras hati.
Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap hasil pengamatannya terhadap perilaku nifaq dan keras hati.
Guru meminta siswa untuk mengamati gambar yang ada yang ada di kolom “marimengamati”.
Siswa mengemukakan pendapatnya tentang gambar tersebut.
Guru memberikan penjelaskan tambahan kembali dan penguatan yang dikemukakan siswa tentang isi gambar tersebut.
Siswa menyimak penjelasan guru atau mengamati gambar atau tayangan visual/film tentang contoh sikap nifaq dan keras hati secara klasikal atau individual.
Peserta didik dikelompok dan diberikan tugas untuk berdiskusi sesuai dengan tema yang telah ditentukan. (Bila memungkinkan guru disarankan untuk membentuk kelompok melalui game).
Setiap kelompok mendapat tugas membaca, memahami dan mendiskusikan serta membuat ringkasan materi pembelajaran yang ada.
Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke kelompok lain untuk menyampaikan materi yang telah mereka pelajari dalam kelompoknya.
Guru mengembalikan suasana kelas seperti semula
Guru menanyakan kepada siswa apabila ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan di dalam kelompok.
Guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari
Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.
Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap kisah rasulullah Saw dan marah yang membawa berkah.
Guru dan peserta didik menyimpulkan intisari pelajaran tersebut sesuai dengan yang terdapat dalam buku teks siswa pada kolom rangkuman.
Pada kolom “Ayo Berlatih”, guru:
Membimbing peserta didik untuk membuat contoh perilaku akhlak tercela.
Meminta peserta didik untuk mengerjakan bagian pilihan ganda dan uraian.
Membimbing peserta didik untuk mengamati dirinya sendiri tentang perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani sifat tersebut di lingkungannya (kolom tugas).
Penutup
Penguatan materi : Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.
Mengadakan tanya jawab tentang akidah Islam.
Guru merefleksi nilai-nialai mulai dalam materi akidah Islam.
Menutup pelajaran dengan membaca salam, kafaratul majlis dan membaca hamdalah.
VII. Penilaian
Guru melakukan penilaian terhadap peserta didik dalam:
Kolom pilihan ganda dan uraian.
Skor penilaian sebagai berikut:
Pilihan ganda : jumlah jawaban benar x 1 (maksimal 10 x1 = 10).
Siswa diminta untuk memilih jawaban yang paling benar, pada soal dibawah ini.
Nifaq secara bahasa (etimologi) berarti lubang tempat keluarnya….
a. tikus d. kelelawar
b. semut e. burung
c. belalang
Melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafik, tetapi masih tetap memiliki iman di dalam hati merupakan pengertian dari….
a. nifaq d. nifaq ‘ilmi
b. nifaq akbar e. nifaq gairu syar’i
c. nifaq asghar
Membuka peluang munculnya fitnah karena ucapan dan perbuatannya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan merupakan akibat buruk dari pelaku perbuatan….
a. nifaq d. ingkar janji
b. dusta e. sombong
c. khianat
Orang yang dijanjikan oleh al-Qur’an dalam surat al-Taubah ayat 47 akan beradam di neraka paling bawah adalah….
a. fasik d. musyrik
b. kharismatik e. munafik
c. fanatik
Sesuai dengan pesan al-Qur’an dalam surat al-Hujurat apabila terdapat berita yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, maka hal yang dilakukan:
a. tabayun d. menyimpannya
b.diamkan e. menolaknya
c.menerimanya
Kata ghadab secara etimologi berarti....
a. marah d. keras kepala
b. tidak sabar e. naik pitam
c. emosional
Menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran adalah defenisi….
a. nifaq d. riya
b. kufur e. takabur
Marah adalah lawan kata dari….
a. ikhlas d. takwa
b. syukur e. ridha
c. jihad
Akibat yang dialami bagi orang yang tidak memiliki daya marah….
a. pendiam d. memiliki harga diri yang hina
b. memiliki kesabaran e. memiliki kewibawaan
c. disenangi oleh teman-temannya
10.Daya marah yang berlebihan akan berakibat pada….
a. nampak kekuatannya d. memiliki wibawa yang tinggi
b. terlihat kejantanannya e. hati nurani dan pikiran warasnya hilang
c. menjadi lebih pede
Catatan: Skor tiap item soal yang benar 10
2. Uraian Singkat (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub a)
Catatan: Skor jawaban benar tiap soal 2
3. Essay (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub b)
Catatan: Skor jawaban benar tiap item soal 2
4. Portofolio dan Penilaian Sikap (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub c)
Catatan:
Skor penilaian sebagai berikut:
Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya tepat pada waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 100.
Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90.
Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80.
VIII. Pengayaan
Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan yang telah disiapkan oleh guru berupa pertanyaan-pertanyaan tentang materi nifaq danghadab.
(Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan).
IX. Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi tentang nifaq dan ghadab. Guru akan melakukan penilaian kembali (lihat poin 7) dengan soal yang sejenis. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan dengan contoh yaitu, pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah jam pelajaran selesai).
X. Interaksi Guru Dengan Orang Tua
Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Ayo Berlatih” dalam buku teks kepada para orang tua dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan menggunakan buku penghubung kepada para orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung, baik langsung, maupun melalui telepon tentang perkembangan perilaku anaknya.
Mengetahui
Kepala MAN
( HAJARUDDIN, S.Ag.M.pd )
NIP.19741224 200710 1 001
Nama kota , 2017
Guru Mapel Aqidah akhlak
( DIANA SULAISIH, S.Ag.M.pd)
NIP.19740625 199905 2 001
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( R P P ) KURIKULUM 2013
Satuan Pendidikan
:
MAN 2 Pangandaran
Mata Pelajaran
:
Aqidah akhlak
Tema / Subtema
:
Adab pergaulan dala islam
Kelas / Semester
:
XII (Dua Belas) / 1
Materi Pokok
:
adab bergaul pada teman sebaya dan orang tua
Alokasi Waktu
:
2 x 45 Menit
I. Kompetensi Inti (KI)
KI.I Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI.2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI.3 Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4 Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
II. Kompetensi Dasar (KD)
2.4 Terbiasa beradab yang baik dalam bergaul dengan orang yang sebaya, yang lebih tua,
yang lebih muda dan lawan jenis.
3.4 Mengetahui adab bergaul dengan orang yang sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda
dan lawan jenis.
4.4 Mempraktekkan adab bergaul dengan orang yang sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda
dan lawan jenis .
III. Tujuan Pembelajaran
Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mengomunikasikan diharapkan:
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian teman sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda dan
lawan jenis
2. Siswa dapat menjelaskan adab bergaul dengan teman sebaya, yang lebih tua, yang lebih
muda dan lawan jenis.
3. Siswa dapat menjelaskan larangan dalam bergaul dengan teman sebaya,yang lebih tua,
yang lebih muda dan lawan jenis.
4. Siswa dapat mempraktikkan adab pergaulan dengan teman sebaya, yang lebih tua, yang
lebih muda dan lawan jenis
IV. Indikator Pencapaian
1. Menjelaskan pengertian teman sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda dan lawan jenis
2. Menjelaskan adab bergaul dengan teman sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda dan
lawan jenis.
3. Menjelaskan larangan dalam bergaul dengan teman sebaya,yang lebih tua, yang lebih muda
dan lawan jenis.
4. Mempraktekkan adab pergaulan dengan teman sebaya, yang lebih tua, yang lebih muda
dan lawan jenis.
V. Materi Pokok
A. ADAB BERGAUL DENGAN TEMAN SEBAYA
1. Pengertian Bergaul Dengan Teman Sebaya
Dalam bahasa Arab bergaul diartikan dengan shuhbah yang diambil dari kata shahiba yang berarti pertemanan. Dalam bahasa Indonesia bergaul berarti campur. Sementara teman sebaya dalam kamus besar bahasa Indonesia teman sebaya diartikan sebagai kawan, sahabat atau orang yang usia hampir sama.
Dengan demikian yang dimaksud dengan bergaul sesama teman sebaya adalah pertemanan seorang individu dengan individu lainnya (anak-anak, usia remaja atau dewasa) yang tingkat usianya hampir sejajar.
2. Cara Mencari Teman Sebaya Yang Baik Menurut Islam
Dalam hadis dari Abu Hurairah rasulullah Saw bersabda:
“Seseorang bergantung pada agama temannya, perhatikan siapa yang dijadikan teman”.
(HR. Ahmad)
Berdasarkan hadis di atas menjadi jelas bahwa seseorang perlu mencari teman sebaya yang baik yang akan bergaul dengannya. Secara umum seseorang hendaklah mencari teman yang cerdas, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik dan tidak semata-mata rakus terhadap kehidupan duniawi.
3. Adab bergaul dengan teman sebaya
Adab bergaul dengan teman sebaya bisa dilakukan dengan saling menghormati, tolong-menolong, cinta dan kasih sayang, saling menasehati,
4. Larangan dalam bergaul dengan teman sebaya
Dalam adab bergaul dengan teman sebaya terdapat larangan-larangan di antaranya: bermusuhan, pergaulan bebas, melanggar norma-norma agama seperti berzina, melakukan minuman keras, mengkonsumsi narkoba.
B. ADAB BERGAUL DENGAN ORANG YANG LEBIH TUA
1. Pengertian orang yang lebih tua
Islam telah menganjurkan pemeluknya untuk menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi sosok yang lebih muda. Dalam kamus bahasa Indonesia orang yang lebih tua yaitu orang yang dipandang tua atau berpengalaman seperti orang tua, para pemimpin dan para penasihat
2. Tata cara bergaul dengan orang yang lebih tua
Dalam bergaul dengan orang yang lebih tua hendaknya seseorang melakukannya dengan sopan santun, berkata santun, menolak dengan halus perintah yang buruk, menghormati dengan ikhlas, mendahulukan orang yang lebih tua dalam hal duniawi,
3. Larangan bergaul dengan orang lebih tua
Dalam bergaul dengan orang yang lebih tua seseorang dianjurkan untuk tidak melawan atau berbuat durhaka, berbuat arogan,
C. ADAB BERGAUL TERHADAP ORANG YANG LEBIH MUDA
1. Pengertian orang lebih muda
Pemuda dalam bahaa Arab disebut dengan syabab atau fata. Hal tersebut dapat dijumpai di dalam al-Qur’an dan hadits nabi. Sementara dalam bahasa Indonesia pemuda berarti orang yang belum sampai setengah umur dan merupakan lawan kata dari tua. Orang yang lebih muda yang dimaksud di sini adalah anak kecil atau remaja dan para pemuda.
2. Tata cara bergaul dengan orang lebih muda
Bergaul dengan orang yang lebih muda dilakukan dengan memebri nasehat dengan bijak, mempererat persaudaraan, member perhatian dan kasih sayang, memberi teladan yang baik, melakukan pembinaan yang baik, memberikan penghargaan ketika berprestasi
3. Larangan dalam bergaul dengan orang lebih muda
Seseorang ketika bergaul dengan sosok yang lebih muda hendaknya tidak meminta penghormatan yang berlebihan, antipati terhadap mereka, tidak memahami aktifitas mereka,
D. ADAB BERGAUL DENGAN LAWAN JENIS
1. Pengertian lawan jenis
Islam adalah agama yang mengatur tata kehidupan manusia. Islam sesungguhnya tidak melarang bergaul dengan siapapun termasuk pergaulan dengan lawan jenis. Lawan jenis berarti lawan dari jenis kelamin. Apabila laki-laki, maka lawannya perempuan dan begitu pula sebaliknya. Laki-laki dan perempuan merupakan makhluk Allah yang telah diciptakan untuk berpasang-pasangan sehingga merupakan suatu keniscayaan dan sangat wajar, jika terjadi pergaulan di antara mereka
2. Tata cara bergaul dengan lawan jenis
Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam pergaulan, maka dalam melakukan pergaulan dengan lawan jenis harus diperhatikan yaitu berteman karena Allah Swt, menutup aurat, menjaga kemaluan, menundukkan pandangan, saling bertanggungjawab,
3. Larangan dalam bergaul dengan lawan jenis
Untuk menjaga pergaulan dengan lawan jenis hendaklah menghindari hal-hal berikut yaitu: tidak berkhalwat, melakukanikhtalath dengan lawan jenis, bersolek berlebihan.
VI. Proses Pembelajaran
a. Persiapan
1) Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama.
2) Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan
kegiatan pembelajaran.
3) Guru membangkitkan semangat peserta didik dengan melakukan kegiatan ringan, seperti
senam otak atau membaca shalawat.
4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
5) Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif materi sebelumnya dan mengaitkan
dengan materi adab pergaulan.
6) Guru dapat memakai beberapa alternatif media/alat peraga/alat bantu, dapat berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton (tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca), atau dapat juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya.
7) Guru boleh menggunakan metode everyone is a teacher here. Tujuan penerapan strategi ini adalah membiasakan siswa belajar aktif secara individu dan membudayakan siswa berani bertanya, tidak minder dan tidak takut salah. Metode ini dikolaborasi dengan metode diskusi.
b. Pelaksanaan
1 Guru meminta siswa untuk mengamati perilaku hidup dengan adab pergaulan dalam
kehidupan sehari-hari yang ada di lingkungannya.
2) Guru meminta siswa mengamati gambar pada kolom mari mengamati
3) Siswa mengamati gambar pada kolom mari mengamati.
4) Siswa mengemukakan isi gambar tersebut.
5) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan yang dikemukakan siswa tentang
isi gambar tersebut.
6) Peserta didik menyimak penjelasan guru atau mencermati gambar atau tayangan
visual/film tentang ketentuan bersuci dari hadas kecil dan hadas besar, secara klasikal atau
individual.
7) Guru membagikan kertas kepada setiap siswa dan mintalah mereka untuk menuliskan
sebuah pertanyaan tentang materi pokok yang telah atau sedang mereka pelajari, atau topik
khusus yang ingin mereka diskusikan dalam kelas.
8) Siswa mengumpulkan kertas-ketas tersebut, guru mengocoknya dan membagikan kembali
secara acak kepada siswa, usahakan pertanyaan tidak kembali kepada yag membuatnya.
9) Guru meminta siswa membaca dan memahami pertanyaan di kertas masingmasing dan
memikirkan jawabannya.
10) Guru mengundang sukarelawan (volunter) untuk membacakan pertanyaan yang ada di
tangannya (untuk menciptakan budaya bertanya, diupayakan guru memotivasi siswa
untuk mengangkat tangan bagi yang siap membaca-tanpa langsung menunjuknya).
11) Guru meminta siswa yang lain untuk memberikan respon (jawaban/penjelas) atas
pertanyaan atau permasalahan tersebut, kemudian mintalah pada siswa yang lain untuk
memberi pendapat atau melengkapi jawabannya.
12) Guru memberikan apresiasi atau pujian terhadap setiap jawaban atau tanggapan siswa
agar siswa termotivasi dan tidak takut salah
13) Guru mengembangkan diskusi secara lebih lanjut dengan cara siswa bergantian
membacakan pertanyaan di tangan masing-masing sesuai dengan waktu yang tersedia.
14) Guru melakukan kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut.
15) Guru membimbing peserta didik untuk membaca kisah “hikmah pergaulan lawan jenis
dari Barseso”.
16) Siswa mengemukakan pendapatnya tentang hikmah dari kisah “hikmah pergaulan lawan
jenis dari Barseso”.
17) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap kisah tersebut.
18) Guru dan siswa menyimpulkan intisari dari pelajaran tersebut sesuai yang terdapat dalam
buku teks siswa pada kolom rangkuman.
19) Pada kolom “Ayo Berlatih”, guru
a. meminta siswa untuk mengerjakan bagian pilihan ganda dan uraian.
b. membimbing siswa untuk mengamati dirinya sendiri tentang pe- rilakuperilaku yang
mencerminkan orang yang bergaul dengan menggunakan adab pergaulan di
lingkungannya (Kolom tugas).
c. Penutup
a. Penguatan materi :
Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.
b. Mengadakan tanya jawab tentang akidah Islam
c. Guru merefleksi nilai-nialai mulai dalam materi akidah Islam.
d. Menutup pelajaran dengan membaca salam, kafaratul majlis dan membaca hamdalah.
VII. Penilaian
Guru melakukan penilaian terhadap peserta didik dalam kegiatan sebagai berikut:
1. Kolom pilihan ganda dan uraian.
Skor penilaian sebagai berikut.
a) Pilihan ganda: jumlah jawaban benar x 1 (maksimal 10 x1 = 10)
Guru meminta siswa memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e, pada jawaban
yang paling benar !
1. Hubungan individu pada anak-anak atau remaja dengan tingkat usia yang sama dinamakan hubungan….
a. kawan d. teman sebaya
b. sahabat e. teman akrab
c. teman lama
2. Islam melarang ikhtilath dalam pergaulan teman sebaya. Pengertian Ikhtilath adalah
pembauran….
a. sesama teman laki-laki d. antara laki-laki dengan perempuan
b. sesama teman perempuan e. antara teman sebaya
c. antara orang yang muda dengan yang lebih tua
3. Ketika ada teman yang berselisih, bertengkar atau melakukan perbuatan yang tidak baik terhadap teman-teman yang lain, maka kita wajib mendamaikannya. Pernyataan tersebut merupakan tata cara pergaulan teman sebaya pada aspek saling….
a. mengasihi dan melindungi d. menghormati dan toleran
b. menasehati e. bekerja sama dan tolong menolong
c. berpesan kebaikan
4. Dalam hadis dikatakan:“Seseorang bergantung pada agama temannya, perhatikan siapa
yang dijadikan teman”. Prinsip ini paling tepat diterapkan pada ….
a. pergaulan d. bermasyarakat
b. bisnis e. hubungan suami istri
c. hubungan keluarga
5. Kebiasaan negatif seperti pacaran yang berlebihan karena ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu . Perilaku ini bisa terjadi karena…
a. permusuhan d. melanggar tata tertib lalulintas
b. pergaulan bebas e. mengkonsumsi narkoba
c. melanggar aturan Negara
6. Perilaku berkendaraan dengan tidak menggunakan helm, berboncengan lebih dari seorang, dan mengurangi kelengkapan kendaraan. Perilaku tersebut merupakan sikap melanggar….
a. aturan keluarga d. tata tertib lalulintas
b. kewajiban agama e. aturan kesehatan
c. norma masyarakat
7. Pemuda berarti orang yang belum sampai setengah umur. Pengertian tersebut berdasarkan kamus bahasa …
a. bahasa Indonesia d. Jawa
b. Melayu e. Inggris
c. Sangsekerta
8. Salah satu sikap santun kepada orang yang lebih tua adalah….
a. membantu pekerjaannya d. menolongnya
b. kerja bakti bersama masyarakat e. berkata dengan sopan
c. menjalankan perintah kebaikan
9. Bapak dan ibu guru telah mengajarkan tentang banyak hal sehingga seorang siswa menjadi mengerti banyak hal dalam kehidupan ini. Pernyataan tersebut merupakan sikap baik terhadap orang yang lebih tua, yakni….
a. menolak dengan halus perintah yang baik d. berpura-pura tidak mengetahui
b. pura-pura memberi Penghormatan e. Bersikap arogan
c. memuliakan tokoh masyarakat
10. Seorang pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun mental, banyak mengalami gejolak dalam fikiran maupun jiwa, yang tak jarang menyebabkan hidupnya terguncang. Sikap orang yang lebih tua adalah….
a. memarahinya
b. tidak mengikutsertakan dalam kegiatan
c. membiarkannya mencari jati dirinya sendiri
d. membina, membimbing dan memberi kesempatan untuk berdedikasi
e. melaporkannya pada teman sebayanya.
Catatan: Skor tiap item soal yang benar 10
2. Uraian Singkat (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub a)
Catatan: Skor jawaban benar tiap soal 2
3. Essay (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub b)
Catatan: Skor jawaban benar tiap item soal 2
4. Portofolio dan Penilaian Sikap (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub c)
Catatan: Skor penilaian sebagai berikut:
a. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya tepat pada waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 100.
b. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90.
c. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80.
VIII. Pengayaan
Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan yang telah disiapkan oleh guru berupa materi adab pergaulan. (Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan).
IX. Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi tentang adab pergaulan. Guru akan melakukan penilaian kembali (lihat point 7) dengan soal yang sejenis. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan. Contoh pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah jam pelajaran selesai).
X. Interaksi Guru Dengan Orang Tua
Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Ayo Berlatih” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan mengunakan buku penghubung kepada orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi, baik langsung, maupun memalui telepon, tentang perkembangan perilaku anaknya.
Mengetahui
Kepala MAN
( HAJARUDDIN, S.Ag.M.pd )
NIP.19741224 200710 1 001
Nama kota , 2017
Guru Mapel Aqidah akhlak
( DIANA SULAISIH, S.Ag.M.pd)
NIP.19740625 199905 2 001
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
( R P P ) Kurikulum 2013
Satuan Pendidikan
:
MAN
Mata Pelajaran
:
Aqidah Akhlak
Tema / Subtema
:
Akhlak Terpuji
Kelas / Semester
:
XII (Dua Belas) / 1
Materi Pokok
:
Membiasakan Akhlak Terpuji
Alokasi Waktu
:
4 x 45 Menit
KI.I Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI.2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI.3 Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4 Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
II. Kompetensi Dasar (KD)
1.2 Menghayati nilai-nilai positif dari amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
2.2 Terbiasa berperilaku amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah dalam kehidupan Sehari-hari
3.2 Memahami pengertian dan pentingnya mal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
4.2 Menyajikan pengertian dan pentingnya amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
III. Tujuan Pembelajaran
Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba dan mengomunikasikan, diharapkan :
1) Siswa dapat menjelaskan pengertian amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
2) Siswa dapat menyebutkan cirri-ciri orang yang beramal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
3) Siswa dapat membiasakan berperilaku amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
4) Siswa dapat menyebutkan pentingnya beramal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari
IV. Indikator Pencapaian
1. Menjelaskan pengertian amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah.
2. Menyebutkan cirri-ciri orang yang beramal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
3. Membiasakan berperilaku amal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah
4. Menyebutkan pentingnya beramal saleh, toleransi, musawah dan ukhuwah dalam kehidupan ssehari-hari
V. Materi Pokok
A. AMAL SALEH
1. Pengertian Amal Saleh
Amal soleh menurut bahasa diartikan sebagai perbuatan baik yang mendatangkan pahala, atau sesuatu yang dilakukan dengan tujuan berbuat baik terhadap masyarakat atau sesama manusia.
Secara istilah amal saleh adalah perbuatan bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah atau menunaikan kewajiban agama yang dilakukan dalam bentuk berbuat kebaikan terhadap masyarakat atau sesama manusia. Amal soleh adalah setiap pekerjaan yang baik, bermanfaat dan patut dikerjakan, baik pekerjaan yang bersifat ‘ubudiyah (seperti; shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain) atau pekerjaan yang bersifat sosial (seperti; menolong orang lain, menyantuni anak yatim, peduli pada sesama dan lain-lain)
2. Membiasakan Beramal saleh dalam Kehidupan sehari-hari
Membiasakan beramal saleh dalam arti luas, bagi umat Islam adalah suatu kewajiban.Karena nilai baik atau tidaknya seseorang ditentukan oleh amal perbuatannya. Suatu kaum mengalami kemajuan atau kehancuranpun disebabkan karena perilaku baik atau tidak bangsanya.
Dasar hukum yang menunjukkan tentang pentingnya amal soleh adalah firman Allah :
“Barangsiapa yang mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan dalamkeadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yangbaik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang
lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 97)
Membiasakan beramal soleh dalam kehidupan sehari-hari adalah suatu keniscayaan. Oleh karena itu kita harus mengetahui prinsip-prinsip amal saleh antara lain :
a. Mengetahui ilmunya
Dalam ajaran agama Islam orang yang melaksanakan shalat dan agar shalatnya diterima, maka ia harus mengerti ilmu tentang shalat dan demikian pula pada ibadah-ibadah yang lainnya.
b. Niat yang baik
Niat di dalam beribadah sangat penting. Setidaknya terdapat dua fungsi niat apabila dihubungkan kepada ibadah, yaitu: Membedakan ibadah dengan kebiasaan dan membedakan satu ibadah dengan ibadah yang lain.
c. Sabar saat melaksanakan ibadah
Sabar bukan hanya diperlukan bagi orang yang mendapatkan musibah, tetapi sabar juga diperlukan bagi orang yang melaksanakan perbuatan taat. Saat seseorang bangun malam melaksanakan shalat sunnah tahajud, maka untuk dapat melaksanakan shalat tahajud tersebut seseorang harus bersabar
d. Ikhlas setelah melaksanakan
Ikhlas dalam beramal saleh berarti menyerahkan segala sesuatu yang kita laksanakan semata- mata karena Allah Swt.
B. TOLERANSI
1. Pengertian Toleransi
Kata toleransi berasal dari bahasa latin tolerare yang berarti berusaha untuk tetap bertahan hidup, tinggal atau berinteraksi dengan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai atau disenangi. Dalam kamus bahasa Indonesia toleransi berarti kelapangan dada dalam arti suka rukun kepada siapapun, membiarkan orang berpendapat atau berpendirian lain
2. Toleransi Menurut al-Qur’an dan al-Sunnah
Toleransi dalam al-Qur’an dan al- Sunnah diterangkan sebagai berikut:Dalam al-Qur’an yaitu firman Allah Swt dalam surat al-Mumtahanah di mana ungkapan ““Allah tidak melarang kamu” memberikan isyarat bahwa Islam menolak orang yang berasumsi bahwa tidak boleh berbuat baik terhadap non muslim.
Adapun berdasarkan hadits, maka hal tersebut sudah diterapkan oleh rasulullah Saw saat hijrah ke kota Madinah di mana ia menjumpai orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin lainnya sebagai penduduk pribumi.
3. Toleransi Sepanjang Sejarah
Sikap rasulullah Saw dalam hal bertoleransi diikuti oleh para sahabat yang lain. Sayyidina Umar pernah membuat perjanjian Aelia, perjanjian Yerusalem. Saat itu Yerusalem yang sudah menjadi bagian dari wilayah umat Islam menjamin kemerdekaan beragama bagi penduduknya. Bahkan sat itu Umar mwajibkan orang Yahudi untuk menetap di kota tersebut. Amr bin Ash saat masuk ke wilayah Mesir disambut dengan antusias oleh masyarakatnya khususnya yang beragama Kristen koptik. Demikian pula denagn kekuasan Islam di Spanyol selama 800 tahun.
4. Membiasakan Perilaku Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari
Memiliki sikap toleransi adalah suatu keharusan dalam Islam, Islam sendiri mengandung pengertian agama yang damai, selamat dan menyerahkan diri. Islam adalah rahmatal lil ‘alamiin (agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam). Islam selalu menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati dan tanpa paksaan.
5. Ciri-ciri Orang yang berperilaku Toleransi
a. Memahami perbedaan
b. Menghormati keputusan orang lain
c. Mau menerima kritik
d. Tidak sombong
e. Tidak egois
f. Tidak memaksakan kehendak
g. Tidak merendahkan orang lain
6. Nilai-nilai Positif Orang yang berperilaku Toleransi
a. Memiliki banyak teman dan saudara dari berbagai kalangan
b. Menciptakan keharmonisan
c. Meningkatkan sikap saling menghormati
d. Menciptakan rasa aman dan tentram
e. Menghilangkan sifat dengki dan fitnah serta permusuhan
C. MUSAWAH
1.Pengertian Musawah
Secara etimologi musawah berarti sama tidak kurang dan tidak lebih. Sedangkan secara terminology musawah berarti persamaan seluruh manusia di dalam hak dan kewajiban tanpa ada pemisahan atau perbedaan yang didasarkan pada kebangsaan, kelas, aliran, kelompok, keturunan pangkat atau harta dan hal lainnya.
2. Sejarah Kemunculannya
Apabila diselusuri, maka prinsip persamaan hak ini muncul karena kezaliman, penindasan dan kesewenangan-wenangan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Peristiwa pembunuhan Kabil terhadap Habil sebagai manusia awal yang hadir di muka bumi ini merupakan bagian dari rentetan sejarah yang membangkitkan prinsip persamaan derajat. Tindak kriminalitas ini dianggap tindakan pelanggaran terhadap prinsip yang telah dibuat untuk mengatur hubungan kekeluargaan bagi individu saat itu.
3. Pandangan Islam Tentang Musawah
Islam memandang bahwa prinsip musawah sebagai salah satu prinsip ajaran agama yang luhur yang berangkat dari eksistensi manusia yang berasal dari nabi Adam AS. Hal inilah yang mematahkan prinsip kelas-kelas yang terjadi di masyarakat. Hal inilah yang menempatkan musawah sebagai nilai keagamaan sekaligus sebagai nilai peradaban kemanusiaan
4. Ritual-Ritual Agama Mengandung Prinsip Musawah
Seluruh jenis ibadah di dalam Islam mengandung prinsip musawah. Dalam shalat misalnya seluruh umat Islam berkewajiban memenuhi panggilan Allah Swt dengan melaksanakan shalat. Setelah itu mereka masuk ke dalam masjid membentuk shaf-shaf yang lurus. Diri mereka bersatu di dalamnya, tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, antara yang lemah dan yang kuat dan antara pejabat dan rakyat dan hal ini bersifat harian.
5.Ciri-ciri Orang Yang Berperilaku Musawah
Orang yang memiliki sifat musawwah dapat dilihat dari tingkah lakunya setiap hari, diantaranya adalah:
a. Tidak sombong
b. Menghargai karya orang lain
c. Menghargai kedudukan dan profesi orang lain
d. Menerima kritikan sebagai saran yang membangun
e. Tidak merasa paling benar
f. Menyadari kekurangan dirinya dan menerima kekurangan orang lain
6. Nilai-nilai Positif Musawwah
Nilai-nilai positif orang yang berperilaku musawwah diantaranya adalah :
a. Terciptanya hidup yang damai dan tentram
b. Terciptanya kehidupan yang harmonis karena sikap saling menghargai
c. Terhindar dari perbuatan memaksakan kehendak
D. UKHUWAH
1. Pengertian Ukhuwah
Ukhuwah (brotherhood) biasa diartikan sebagai “persaudaraan”. Dalam pengertian yang luas, ukhuwah adalah suatu sikap yang mencerminkan rasa persaudaraan, kerukunan, persatuan dan solidaritas yang dilakukan seseorang terhadap orang lain atau suatu kelompok pada kelompok lain dalam interaksi sosial.
Munculnya sikap ukhuwah dalam kehidupan masyarakat disebabkan adanya dua hal, yaitu :
a. Adanya persamaan, baik dalam masalah keyakinan, wawasan, pengalaman, kepentingan, tempat tinggal dan cita-cita.
b. Adanya kebutuhan yang dirasakan hanya dapat dicapai dengan melakukan kerja sama dengan orang lain
2. Dalil ukhuwah
a. Al Qur’an
Dalil mengenai ukhuwah di dalam al-Qur’an adalah al-Hujurat ayat 10
b. Sunnah
Nabi Muhammad Saw bersabda:
“Perumpamaan orang-orang beriman di dalam kecintaan, kasih sayang dan kelembutan seperti satu tubuh apabila mengeluh satu anggota tubuh, maka seluruh anggota tubuh lainnya merasakan sakit dengan tidak dapat tidur dan demam”(HR. Bukhari-Muslim)
3. Macam-macam Ukhuwah
Ada beberapa macam bentuk ukhuwah yang sangat besar peranannya dalam kehidupan kita, yaitu :
a. Ukhuwah Islamiyah
Prinsip Ukhuwah Islamiyah adalah upaya dalam rangka menumbuhkembangkan persaudaraan yang didasarkan pada kesamaan agama Islam
b. Ukhuwah kebangsaan
Agama Islam tidak hanya mengenal ukhuwah diniyah atau Islamiyah saja, Islam juga memiliki ajaran tentag ukhuwah kebangsaan atau yang kita kenal dengan ukhuwah wathaniyah
Ukhuwah Wathaniyah berarti persaudaraan kebangsaan. Ini artinya seluruh warga negara Indonesia adalah bersaudara. Ikatan yang mengikat persaudaraan ini adalah wilayah dan tertumpu pada hal-hal yang bersifat sosial budaya.
Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa perbedaan adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Beberapa konsep mendasar dari ukhuwah masyarakat madani yang dibangun oleh nabi Muhammad Saw antara lain;
c. Ukhuwah Insaniyah
Ukhuwah insaniyah berarti persaudaraan sesama manusia. Dalam terminology agama istilah ukhuwah insaniyah diistilahkan dengan ukhuwah basyariyah yaitu ukhuwah yang tumbuh dan berkembang atas dasar kemanusiaan.
4. Pendekatan Ukhuwah
Ukhuwah dapat dijaga apabila kita mengikuti empat prinsip dasar ukhuwah, yaitu
a. Ta’aruf (Saling mengenal)
b. Tafahum (Saling memahami)
c. Ta’awun (Saling tolong-menolong)
d. Takaful (Saling bahu-membahu)
5. Nilai-nilai Positif Ukhuwah
Di antara nilai-nilai positif yang perlu kita perhatikan sebagai upaya menjaga ukhuwah adalah :
a. Memberitahukan rasa cinta kepada yang kita cinta
b. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman apabila berjumpa
c. Memohon di do’akan apabila berpisah
d. Berjabat tangan apabila berjumpa (tidak berlaku bagi yang bukan muhrim)
e. Melaksanakan silaturrahmi
f. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
g. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
h. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
i. Mengucapkan selamat berkenaan pada saat-saat keberhasilan
VI. Proses Pembelajaran
a. Persiapan
1) Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama.
2) Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran.
3) Guru menyapa peserta didik dengan komunikatif.
4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
5) Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif tentang materi sebelumnya dan mengaitkan dengan materi akhlak terpuji.
6) Media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton (tulisan yang besar dan mudah dilihat/dibaca), atau dapat juga menggunakan multimedia berbasis ICT atau media lainnya.
7) Model pengajaran yang digunakan dalam kompetensi ini adalah bermain peran (role playing).
b. Pelaksanaan
1) Guru meminta peserta didik untuk mencermati gambar pada kolom mari mengamati dan merenungkannya.
2) Peserta didik mengamati gambar yang ada pada kolom “ Mari Mengamati”.
3) Peserta didik mengemukakan isi gambar.
4) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan yang dikemukakan peserta didik isi gambar tersebut.
5) Peserta didik menyimak penjelasan guru atau mencermati gambar atau tayangan visual/film tentang bukti-bukti adanya Allah (diusahakan oleh guru), secara klasikal atau individual.
6) Peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok dan diberikan tugas untuk berdiskusi sesuai dengan tema yang telah ditentukan yaitu amal saleh, ukhuwah, musawah dan toleransi
8) Secara bergantian masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan kelompok lainnya memperhatikan/menyimak dan memberikan tanggapan.
9) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan yang dikemukakan peserta didik tentang materi tersebut.
10) Secara bergantian masing-masing kelompok menampilkan perannya sesuai dengan skenario yang telah dipelajari sedangkan kelompok lain memperhatikan/ menyimak dan memberikan tanggapan.
11) Guru membimbing peserta didik untuk membaca kisah keteladanan rasul dalam hal toleransi.
12) Peserta didik mengemukakan pendapatnya tentang hikmah dari kisah keteladanan rasul
13) Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap kisah tersebut.
14) Guru dan peserta didik menyimpulkan intisari dari pelajaran tersebut sesuai yang terdapat dalam buku teks siswa pada kolom rangkuman.
15) Pada kolom “Ayo Berlatih”, guru:
a. Meminta peserta didik untuk mengerjakan bagian pilihan ganda dan uraian.
b. Membimbing peserta didik untuk mengamati dirinya sendiri tentang perilaku yang mencerminkan orang yang meneladani sifat tersebut di lingkungannya (kolom tugas).
c. Penutup
a. Penguatan materi : Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.
b. Mengadakan tanya jawab tentang akidah Islam
c. Guru merefleksi nilai-nialai mulai dalam materi akidah Islam.
d. Menutup pelajaran dengan membaca salam, kafaratul majlis dan membaca hamdalah.
VI. Penilaian
Skor penilaian sebagai berikut:
a) Pilihan ganda: Jumlah jawaban benar x 1 (maksimal 10 x 1 = 10)
Siswa diminta untuk memberi tanda silang pada jawaban yang paling benar pada soal di bawah ini!
1. Dalam al-Qur’an surat Al- Bayyinah disebutkan bahwa orang yang akan mendapatkan balasan Surga ‘Adn di sisi Allah adalah orang yang ....
a. shalat terus menerus sepanjang malam
b. berpuasa Daud (sehari puasa sehari tidak)
c. menunaikan ibadah haji dan umrah berkali-kali
d. beriman dan beramal saleh
e. menyekolahkan anaknya sampai menjadi sarjana
2. Berikut ini yang tidak termasuk amal shaleh adalah ....
a. menjadi kakak asuh bagi anak yang tidak mampu
b. memberi makan orang yang kelaparan
c. menyeberangkan orang tua atau anak- anak yang kesulitan
d. tidur sepanjang waktu di bulan puasa
e. membersihkan kamar dan tidur sendiri
3. Di dalam ayat al-Qur’an, kata amal saleh seringkali beriringan dengan kata ....
a. Iman d. berpegang teguh
b. taqwa e. bersatu padu
c. beruntung
4. Salah satu aspek amal saleh yang terdapat dalam surat al-‘Ashr adalah…
a. berjihad d. berbakti kepada Orang tua
b. shalat berjamaah e. tolong-menolong
c. saling menasehati
5. Semua kegiatan, karya atau perbuatan, baik berupa ucapan maupun tindakan yang nyata maupun tersembunyi, ditujukan atau diniatkan untuk berbakti kepada Allah disebut ....
a. amal jariyah d. amal ibadah
b. amal saleh e. amal baik
c. amal insan
6. Ukhuwah (brotherhood)yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti …
a. memperhatikan d. menafsirkan
b. memiliki e. kekeluargaan
c. mengetahui
7. Ukhuwah keagamaan tampak sekali menjadi prioritas Nabi saw pada peristiwa …
a. perang Badar d. isra’ Mi’raj
b. hijrah di Madinah e. pembebasan Kota Makkah
c. perjanjian Hudaibiyah
8. Ukhuwah kebangsaan yang dibangun oleh Nabi Saw di Madinah adalah...
a. menyatukan kalangan Muhajirin dan Anshar
b. membantu kalangan Muhajirin
c. membuat perjanjian dengan suku Quraisy
d. mencegah musuh yang masuk secara bersama
e. melaksanakan syariat Islam
9. Adanya interaksi timbal balik antar umat beragama, menghargai kebebasan beragama bagi orang yang tidak sepaham, tidak mengganggu peribadatan serta tetap menjaga ukhuwah wathaniyah-nya. Pernyataan tersebut merupakan makna dari prinsip …
a. egalitarianism
b. pluralisme
c. keadilan
d. toleransi
e. musyawarah
10.Dalam surat al-Mumtahanah ayat 8 dijelaskan bahwa seorang muslim hendaknya tetap berbuat baik kepada kalangan non muslim selagi mereka tidak memerangi dan …
a. bermusyawarah d. tidak mengusir
b. mau menolong e. tidak berkomunikasi
c. tidak berbuat baik
Catatan: Skor tiap item soal yang benar 10
2. Uraian Singkat (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub a)
Catatan: Skor jawaban benar tiap soal 2
3. Essay (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub b)
Catatan: Skor jawaban benar tiap item soal 2
4. Portofolio dan Penilaian Sikap(dapatdibacadiBabIbagianevaluasisubc)
Catatan:
Skor penilaian sebagai berikut:
a. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya tepat pada waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 100.
b. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90.
c. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80.
Rubrik Penilaian
No
SoalRubrikPenilaian
Skor
1
a. a. JikasiswadapatmenjawabdanmemberialasansangatlengkapmengenaiAl-Asma Al-Husna al-Gaffaryang telahdipelajari, skor 9
B b. JikasiswadapatmenjawabdanmemberialasanlengkapmengenaiAl-Asma Al-Husna al-Gaffaryang telahdipelajari, skor 6
c. JikasiswadapatmenjawabdanmemberialasankuranglengkapmengenaiAl-
Asma Al-Husna al-Gaffaryang telahdipelajari, skor 3
9
2
a. a. Jikasiswadapatmenjawabdanmemberialasansangatlengkapmengenai
Al-Asma Al-Husna al-Razaqyang telahdipelajari, skor 9
b. b. JikasiswadapatmenjawabdanmemberialasanlengkapmengenaiAl-Asma Al-Husna al-Razaqyang telahdipelajari, skor 6
c. JikasiswadapatmenjawabdanmemberialasantidaklengkapmengenaiAl-Asma Al-Husna al-Razaqyang telahdipelajari, skor 3
9
3
4
5
6
7
8
9
10
VII. Pengayaan
Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan berupa bentuk-bentuk akhlak terpuji sesuai dengan kompetensi dasar yang telah disiapkan oleh guru. (Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan).
VIII. Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi akhlak terpuji. Guru akan melakukan penilaian kembali (lihat poin 6) dengan soal yang sejenis atau memberikan tugas individu merangkum materi iman kepada Allah. Remedial dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan, boleh pada saat pembelajaran apabila masih ada waktu, atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah pulang jam pelajaran selesai).
IX. Interaksi Guru Dengan Orang Tua
Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Ayo Berlatih” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan mengunakan buku penghubung kepada orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung, baik langsung maupun melalui telepon, tentang perkembangan perilaku anaknya. Contohnya orang tua diminta mengamati perilaku anaknya berkaitan dengan prilakuprilaku akhlak terpuji (amal saleh, toleransi, musawwah dan ukhuwah) di lingkungan tempat tinggalnya.
Mengetahui
Kepala MAN
( HAJARUDDIN, S.Ag.M.pd )
NIP.19741224 200710 1 001
Nama kota , 2017
Guru Mapel Aqidah akhlak
( DIANA SULAISIH, S.Ag.M.pd )
NIP.19740625 199905 2 001
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
( R P P ) Kurikulum 2013
Satuan Pendidikan
:
MAN 2 Pangandaran
Mata Pelajaran
:
Aqidah akhlak
Tema / Subtema
:
Al-Asma Al-Husna
Kelas / Semester
:
XII (Dua Belas) / 1
Materi Pokok
:
Al-Asma Al-Husna
Alokasi Waktu
:
4 x 45 Menit
KI.I Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
KI.2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai, santun, responsive dan pro aktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan social dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI.3 Memahami, menerapkan dan menganalisis pengetahuan factual, konseptual, procedural dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
KI.4 Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
II. Kompetensi Dasar (KD)
1.1 Meyakini sifat-sifat Allah yang terkandung dalam tujuh Al-Asma Al-Husna: al-Ghafar,
al-Razzaq, al-Malik, al-Hasib, al-Hadi, al-Khalik dan al-Hakim.
2.1 Membiasakan menerapkan nilai-nilai positif yang terkandung dalam tujuh Al-Asma
Al-Husna: al- Ghaffar, al- Razzaq, al-Malik, al-Hasib, al-Hadi, al-Khalik dan al-Hakim
dalam kehidupan sehari-hari.
3.1 Memahami makna tujuh Al-Asma Al-Husna: al- Ghaffar, al-Razzaq, al-Malik, al- Hasib, al-
Hadi, al-Khalik dan al-Hakim
4.1 Melafalkan dan menghafal Al-Asma Al-Husna dengan baik
III. Tujuan Pembelajaran
Setelah melaksanakan proses mengamati, menanyakan, menalar, mencoba, danmengkomunikasikan diharapkan :
1. Siswa dapat menjelaskan makna Al-Asma Al-Husna
2. Siswa dapat menjelaskan nilai-nilai positif Al-Asma Al-Husna
3. Siswa dapat menerapkan nilai-nilai positif Al-Asma Al-Husna dalam kehidupan sehari-hari
4. Siswa dapat melafalkan dan menghafal Al-Asma Al-Husna dengan baik
IV. Indikator Pencapaian
1. Menjelaskan makna Al-Asma Al-Husna
2. Menjelaskan nilai-nilai positif Al-Asma Al-Husna
3. Menerapkan nilai-nilai positif Al-Asma Al-Husna dalam kehidupan sehari-hari
4. Melafalkan dan menghafal Al-Asma Al-Husna dengan baik
V. Materi Pokok
A. AL-GAFFAR ( ( الغفار
1. Pengertian al-Gaffar
Al-Gaffar berasal dari akar kata gafara yang artinya gafara yang berarti menutupi. Al-Gaffar bisa juga diterjemahkan berasal dari kata al-Gafaru yang artinya tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka.. Dapat kita terjemahkan bahwa magfirah dari Allah adalah di rahasikan-Nya dosa-dosa dan diampuni-Nya dengan karunia-Nya dan rahmat-Nya bukan karena tobat seorang hamba atau taatnya.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Gaffar
a. Memaafkan kesalahan orang lain
b. Menutupi kesalahan orang lain dengan tidak membeberkannya
c. Menampakkan kelebihan orang lain dengan tidak menampilkan kekurangannya
B. AL-RAZZAQ ( ( الرزاق
1. Pengertian al-Razzaq
Al-Razzaq berasal dari kata razaqa atau rizq artinya rezeki. Al-Razzaq adalah Allah yang memberi banyak rizki kepada makhluknya dan secara berulang-ulang. Imam Al- Ghazali menjelaskan arti al-Razzaq adalah Dia yang menciptakan rezeki dan menciptakan yang mencari rezeki, serta Dia yang mengantarkan kepada mereka dan menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Razzaq
a. Berkeyakinan bahwa Allah sudah menjamin rezeki seseorang
b. Berusaha maksimal dengan qona’ah
c. Mengantarkan rezeki kepada yang berhak menerimanya
C. AL-MALIK ( ( الماك
1. Pengertian al-Malik
Al-Malik diartikan dengan raja atau penguasa. Al-Malik berarti raja penguasa atas seluruh makhluk-Nya Secara umum al-Malik diartikan Raja atau Penguasa, kata Malik terdiri dari huruf Mim Lam Kaf yang rangkaiannya mengandung makna kekuatan dan Keshahihan. kata Al-Malik menunjukkan bahwa Allah Swt tidak membutuhkan kepada segala sesuatu melainkan segala sesuatu membutuhkan diriNya.. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah segala kekuatan yang ada di alam semesta ini yang shahih dan tidak dapat di ingkari lagi kekuasaan-Nya meliputi semesta alam dan pengetahuan yang ada.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Malik
a. Manusia memiliki keterbatasan kepemilikan
b. Mengendalikan hawa nafsu
c. Menjadi hamba yang bersyukur atas nikmat Allah Swt
D. AL-HASIB ( ( الحاسب
1. Pengertian al- Hasib
Al-Hasib secara bahasa artinya menghitung, mencukupkan, bantal kecil dan penyakit yang menimpa kulit. Menurut Imam al-Ghazali, al-Hasib bermakna dia yang mencukupi siapa yang mengandalkannya. Sifat ini hanya dimiliki oleh Allah, karena hanya Allah saja yang Maha mencukupi semua makhluk-Nya dan diandalkan oleh seluruh makhluk-Nya.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Hasib
a. Tenang dan tentram bersama dengan Allah
b. Melakukan amal saleh semata-mata karena Allah Swt
c. Melakukan introspeksi diri secara terus-menerus
E. AL-HADI ( ( الهادى
1. Pengertian al- Hadi
Secara bahasa al-Hadi merujuk pada dua hal yaitu tampil kedepan memberi petunjuk dan menyampaikan dengan lemah lembut. Al-Hadi artinya pemberi petunjuk Ia dapat diartikan dengan penunjuk jalan karena ia selalu berada di depan memberi petunjuk, maksudnya adalah Allah Swt yang menganugrahkan petunjuk atau hidayah kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya sesuai dengan peranan makhluk dan sesuai tingkatannya. Selain itu Al-Hadi juga dapat berarti menyampaikan dengan lemah lembut. Dari makna ini terlahir istilah hadiah karena hadiah biasanya disampaikan dengan kelembutan sebagai bentuk simpatik seseorang pada orang lain. Dari kata tersebut juga terlahir kata al-hadyu yang berarti binatang yang disembelih di baitullah sebagai persembahan.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Hadi
a. Meyakini bahwa petunjuk Allah banyak sekali
b. Meyakini bahwa agama adalah petunjuk Allah tertinggi
c. Memberi petunjuk kepada orang lain dengan benar dan tanpa pamrih
F. AL KHALIQ ( ( الخالق
1. Pengertian al Khaliq
Al-Khaliq secara bahasa berasal dari kata khalq atau khalaqa yang berarti mengukur atau menghapus.. Kemudian, makna ini berkembang dengan arti menciptakan tanpa contoh sebelumnya. Menurut al-Ghazali meskipun kata Al-Khaliq sama dengan Al- Bari’ yang berarti pencipta, tetapi keduanya memiliki makna masing-masing. Al-Khaliq berarti Allah Swt mewujudkan sesuatu dengan ukuran yang ditetapkan. Sementara Al- Bari’ mewujudkan dari tidak ada menjadi ada saja. Sedangkan Al-Mushawwir Dzat yang memberi rupa.
2. Meneladani Allah dengan sifat al-Khaliq
a. Menciptakan hal-hal yang inovatif
b. Meyakini Allah Swt Pencipta yang hakiki
G. AL HAKIM ( ( الحكم
1. Pengertian al- Hakim
Al-Hakim(Yang Maha Bijaksana) Al-Hakim berasal dari akar kata hakama yang terdiri dari huruf ha, kaf dan mim yang maknanya secara umum berarti menghalangi. Demikian pula kata istilah hikmah yang digunakan untuk sesuatu yang bijaksana yang apabila diperhatikan insya Allah seseorang akan selamat Dengan hikmah-Nya, Dia menebarkan kemaslahatan, kemanfaatan dan kemudahan yang lebih besar atau lebih baik. Dengan hikmah-Nya pula menghalangi atau menghindarkan terjadinya kemudharatan dan kesulitan yang lebih besar bagi makhluk-Nya.
2. Meneladani Allah dengan sifat al- Hakim
a. Memperdalam ilmu pengetahuan
b. Bertindak professional dalam hal apapun
c. Bersikap bijaksana
VI. Proses Pembelajaran
a. Persiapan
1) Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama.
2) Guru memeriksa kehadiran, kerapian berpakaian, posisi tempat duduk disesuaikan dengan
kegiatan pembelajaran.
3) Guru menyapa peserta didik dengan memperkenalkan diri kepada peserta didik.
4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
5) Guru mengajukan pertanyaan secara komunikatif mengenai materi asmaul husna.
6) Media/alat peraga/alat bantu bisa berupa tulisan manual di papan tulis, kertas karton (tulisan
yang besar dan mudah dilihat/dibaca), atau dapat juga menggunakan multimedia berbasis ICT
atau media lainnya.
7) Untuk menguasai kompetensi ini salah satu model pembelajaran yang cocok .
b. Pelaksanaan
1. Guru memutarkan audio atau video Al-Asma Al-Husna
2. Siswa menyimak dan memperhatikan secara seksama audio atau video yang diputar
3. Guru mengukur kesiapan siswa dengan menanyakan pemahaman mereka tentang Al-Asma Al-
Husna
4. Guru menjelaskan pengertian Al-Asma Al-Husna
5. Guru meminta siswa mengamati gambar yang ada pada kolom mengamati
6. Siswa mengemukakan isi gambar
7. Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan yang dikemukakan kepada siswa
tentang isi gambar
8. Guru menjelaskan materi tujuh sifat Allah dalam Al-Asma Al-Husna
9. Guru memberikan contoh perilaku orang-orang yang mengamalkan tujuh sifat Allah dalam Al-
Asma Al-Husna
10. Guru meminta siswa memberikan contoh sikap orang yang mengamalkan tujuh sifat Allah
dalam Al-Asma Al-Husna pada kehidupan sehari-hari
11. Guru meminta siswa untuk berpasangan dengan temannya, menghafalkan Al-Asma Al-
Husna secara pergantian
12. Siswa secara bergantian menghafalkan Al-Asma Al-Husna
13. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, disesuaikan dengan kondisi kelas
14. Guru meminta siswa mendiskusikan tujuh sifat Allah dalam Al-Asma Al-Husna secara
berkelompok
15. Guru meminta siswa membuat bagan hubungan tujuh sifat Allah dalam Al-Asma Al- Husna
dengan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari secara berkelompok
16. Siswa membuat bagan hubungan tujuh sifat Allah dalam Al-Asma Al-Husna dengan
perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari secara berkelompok
17. Secara bergantian masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya,
dan kelompok lain mendengarkan atau menyimak sambil memberikan tanggapan dan
membuat catatan-catatan kecil.
18. Guru memberikan penjelasan tambahan dan penguatan terhadap hasil diskusi
tersebut
19. Guru menjelaskan perilaku terpuji yang dapat diterapkan sebagai penghayatan dari
tujuh sifat Allah dalam Al-Asma Al-Husna
20. Guru membimbing siswa membaca tentang kisah Nabi Ayyub as
21. Siswa mengungkapkan pendapatnya tentang hikmah kisah Nabi Ayyub as
22. Guru memberikan penjelasan tambahan dari hikmah kisah Nabi Ayyub as
23. Guru dan siswa menyimpulkan intisari pelajaran tersebut sesuai dengan buku siswa
kolom kesimpulan
24. Pada kolom “Ayo Berlatih” guru melakukan :
a. Bimbingan kepada siswa untuk membaca soal-soal yang ada pada materi
b. Meminta peserta didik mengerjakan soal pilihan ganda, uraian dan essay
c. Bimbingan kepada siswa untuk mengamati dirinya dalam mengamalkan tujuh
sifat Allah dalam Al-Asma Al-Husna.
c. Penutup
a. Penguatan materi :
Pendidik memberikan ulasan secara umum terkait dengan proses pembelajaran dan hasil diskusi.
b. Mengadakan tanya jawab tentang akidah Islam
c. Guru merefleksi nilai-nialai mulai dalam materi akidah Islam.
d. Menutup pelajaran dengan membaca salam, kafaratul majlis dan membaca hamdalah.
VII. Penilaian
Pada kolom “Evaluasi”.
Pilihan ganda
Skor penilaian sebagai berikut.
a) Pilihan ganda:
Jumlah jawaban benar x 1 (maksimal 10 x1 = 10)
Guru meminta siswa memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, d atau e, pada jawaban yang paling benar !
1. Allah Dzat yang Maha merahasiakan dan Maha menutupi adalah makna Al-Asma Al-
Husna yang diterangkan dalam sifat…
a. al-Malik d. al-Hadi
b. al-Hasib e. al-Razzaq
c. al-Gaffar
2. Allah Swt yang menganugrahkan petunjuk atau hidayah-Nya kepada hamba-hamba-
Nya yang dikehendaki sesuai dengan peranan makhluk dan sesuai tingkatannya adalah
makna dari Al-Asma Al-Husna…
a. al-Malik d. al-Hadi
b. al-Hasib e. al-Razzaq
c. al-Gaffar
3. Allah sendiri yang akan memenuhi kebutuhan makhluk, mencukupi mereka
melanggengkan bahkan menyempurnakannya adalah makna asmaul husna…
a. al-Malik d. al-Hadi
b. al-Hasib e. al-Razzaq
c. al-Gaffar
4. Dzat yang tidak butuh pada Dzat dan sifat-Nya segala yang wujud, bahkan Dia adalah
yang butuh kepada-Nya dan wujud segala sesuatu bersumber dari pada-Nya. Maka segala
sesuatu selainNya menjadi milik-Nya dalam Dzat dan sifat-Nya serta membutuhkan-Nya
adalah makna Al-Asma Al-Husna….
a. a- Malik d. al- Hadi
b. al- Hasib e. al -Razzaq
c. al -Gaffar
5. Suatu keyakinan bahwa jabatan yang diemban adalah amanat dan akan dipertanggung
jawabkan, kekuasaan duniawi adalah fana ataupun sementara, sedangkan kekuasaan Allah
adalah mutlak dan abadi. Adalah sikap orang yang meneladani sifat Allah….
a. al -Malik d. al- Gaffar
b. al -Hasib e. al- Razzaq
c. al- Hadi
6. Salah satu bentuk evaluasi diri yang paling berguna adalah menyendiri untuk melakukan
introspeksi dan mengoreksi sebagai amalan yang telah dilakukan. Adalah sikap orang
meneladani sifat Allah….
a. al- Malik d. al- Gaffar
b. al- Hasib e. al- Razzaq
c. al- Hadi
7. Memperhatikan, menghormati dan menjunjung tinggi martabat ilmu dan orang yang
memiliki ilmu. Adalah sikap orang yang meneladani sifat Allah….
a. al-Malik d. al-Khaliq
b. al-Hakim e. al- Razzaq
c. al-Hadi
8. Tidak bertanggung jawab dalam melindungi alam dan lingkungannya adalah sikap
orang yang bertentangan dengan sifat Allah….
a. al- Malik d. al- Khaliq
b. al- Hasib e. al- Razzaq
c. al-hadi
9. Tidak mengakui kekuasaan Allah di langit dan di bumi adalah sikap orang yang
bertentangan dengan sifat Allah….
a. al-Malik d. al-Gaffar
b. al-Hasib e. al- Razzaq
c. al-Hadi
10. Tidak puas dengan apa yang telah diperoleh dan menginginkan hak orang lain adalah
sikap orang yang bertentangan dengan sifat Allah….
a. al-Malik d. al-Gaffar
b. al-Hasib e. al- Razzaq
c. al-Hadi
Catatan: Skor tiap item soal yang benar 10
2. Uraian Singkat (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub a)
Catatan: Skor jawaban benar tiap soal 2
3. Essay (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub b)
Catatan: Skor jawaban benar tiap item soal 2
4. Portofolio dan Penilaian Sikap (dapat dibaca di Bab I bagian evaluasi sub c)
Catatan:
Skor penilaian sebagai berikut:
a. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya tepat pada waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 100.
b. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya benar, nilai 90.
c. Jika peserta didik dapat mengumpulkan tugasnya setelah waktu yang ditentukan dan perilaku yang diamati serta alasannya sedikit ada kekurangan, nilai 80.
VIII. Pengayaan
Peserta didik yang sudah menguasai materi mengerjakan soal pengayaan yang telah disiapkan oleh guru. (Guru mencatat dan memberikan tambahan nilai bagi peserta didik yang berhasil dalam pengayaan).
IX. Remedial
Peserta didik yang belum menguasai materi akan dijelaskan kembali oleh guru materi tentang “Al-Asma Al-Husna”. Guru akan melakukan penilaian kembali (lihat poin 6) dengan soal yang sejenis. Remedial dilaksanakan pada waktu dan hari tertentu yang disesuaikan contoh: pada saat jam belajar, apabila masih ada waktu, atau di luar jam pelajaran (30 menit setelah jam pelajaran selesai).
X. Interaksi Guru Dengan Orang Tua
Guru meminta peserta didik memperlihatkan kolom “Evaluasi” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar dan paraf. Cara lainnya dapat juga dengan menggunakan buku penghubung kepada orang tua yang berisi tentang perubahan perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran atau berkomunikasi langsung baik langsung, maupun memalui telepon, tentang perkembangan perilaku anaknya.
Mengetahui
Kepala MAN 2 Pangandaran
(Drs.H.Undang Abdul Hamid)
NIP.196302231992031002
Pangandaran, ........................... 2017
Guru Mapel Aqidah akhlak
( Sahlan Mujahid,S.Pd.I )
NIP.197603062014121003
Langganan:
Komentar (Atom)